
"Bukan urusan Lo bangsat!" Sahut mereka dengan nada memekak.
Beberapa orang tersebut menyerang Sang Haruk dengan tangkasnya tanpa perduli jika serangan mereka memancing kemarahan Sang Haruk.
Sebagai Raja, Ia pasti akan memberikan hukuman yang amat besar bagi orang-orang yang tak punya hati seperti mereka.
Heyaaat!
Bag!
Bug!
Big!
Suara adu kekuatan menghiasi perkampungan kecil yang ada di daerah minim akses tersebut. Jalanan saja masih banyak yang berlubang dan becek jika hujan turun melanda.
Kadang juga terjadi kebanjiran akibat tanggung yang jebol di bantai hujan deras sehingga air naik dan meluap.
Sang Haruk yang kini punya kekuatan baru, lantas dengan sigap membalas serangan mereka, tanpa rasa gentar sedikit pun.
Para pemalak itu sampai tersungkur sampai berdarah-darah ke tanah tanpa daya dan upaya.
Bagi Sang Harukkekuatan mereka harus di hancurkan agar rakyat hidup aman dan tentram.
Begitu singkat perkelahian itu tanpa perlawanan lagi, mereka sudah tumbang oleh kekuatan Sang Haruk.
Sesaat semua pemalak itu berlutut dan memohon ampun.
"Maafkan kami Tuan, kami menyerah!" Ujar ketua mereka.
"Kalian akan aku lepaskan dengan syarat jangan pernah lagi mengacau warga sendiri, karena itu sangat memalukan. Jika ku lihat kalian kembali berbuat ulah. Terpaksa kalian harus menanggung akibatnya," Ujar Sang Haruk dengan nada penuh ancaman.
Mereka pun mengangguk setuju, lalu mengembalikan semu hasil palakan mereka pada Sang Haruk dan secepatnya berlari meninggalkan lokasi.
"Terima kasih Tuan, terima kasih atas bantuan Tuan. Jika tidak suamiku pasti akan di bunuh oleh mereka!" Ucap Perempuan paruh baya yang tertampar tadi.
Wajahnya begitu letih dan menyedihkan.
"Sama-sama Bi, melindungi kalian adalah kewajibanku. Sudah berapa lama mereka memalak kampung ini?" Tanya Sang Haruk.
__ADS_1
"Sudah 3 tahun belakangan ini semenjak Ki Baktian menjabat jadi kepala desa. Awalnya kami memilih beliau karena beliau membagikan uang kompensasi dan berjanji akan memperbaiki kehidupan kampung ini," jawab perempuan itu.
"Benar Tuan, ternyata Pak Baktian ingkar janji. Beliau malah merusak segala harapan kami yang di tindak layaknya penjajah. Bahkan tidak ada pembangunan yang Beliau janjikan," Sambung Suaminya pula.
Sang Haruk dapat melihat betapa menyedihkannya orang-orang di sekitar tempat itu. Mereka sangat menderita dan pasti kelaparan.
Tubuh mereka kurus kering dan tidak terurus sama sekali.
Lama berpikir, Sang Haruk pun meminta mereka mengambil barang-barang yang ada di depannya.
Kemudian berlanjut membagikan uang logam sisa bawaannya secara merata.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku lah yang memang tidak paham kebutuhan kalian. Tapi aku janji setelah ini semua akan berubah," ungkap Sang Haruk penuh penyesalan.
Seseorang dari penduduk yang tak jauh di sana ada yang mengangkat tangan.
"Maaf Tuan, siapa Tuan ini sebenarnya? Kami tidak butuh janji tapi kami butuh bukti yang nyata?"
Sang Haruk mengulas senyum simpul, kemudian Ia menghampiri pria itu dan menepuk pundaknya.
"Aku akan perkenalkan namaku, akan tetapi aku mau kalian berjanji untuk tidak terkejut akan pengakuan ku," jawab Sang Haruk.
Sang Haruk pun melempar sehelai kain ke udara dimana kain tersebut bergambarkan Lambang kerajaan Cili Rawe.
"Ra- raja Cili Rawe?" Ucap mereka yang hampir syok.
"Benar, kalian berhadapan dengan Sang Haruk," Ujar Sang Haruk yang entah sejak kapan sudah ada di atas kuda.
Seluruh penduduk yang turut hadir pun langsung berlutut penuh hormat dan membiarkan Sang Haruk meninggalkan daerah tersebut.
Senang bisa berkenalan dengan rakyat jelata selama hampir kurang lebih 5 bulan menjabat sebagai Raja. Ternyata Sang Haruk memang perlu berkeliling untuk melihat bagaimana menyedihkannya para rakyat kecil tersebut.
Kehidupan itu sudah Sang Haruk lalui, dengan begitu Ia harus lebih bijaksana lagi dalam memberikan kehidupan yang tentram untuk rakyatnya.
Sebagai mana mestinya bahwa pemimpin adalah naungan untuk memberi kenyamanan, bukan malah menjadi peneror dan menindas mereka yang harusnya di cintai lebih dari nyawa sendiri.
Perjalanan yang panjang itu, telah membuka kenyataan bahwa hidup harus penuh rasa syukur, di balik kondisi apa pun kita saat ini.
Beberapa hari berlalu, Raja muda Cili Rawe itu pun telah sampai si istana.
__ADS_1
"Baginda Raja Sang Haruk sudah sampai!" Teriak penjaga gerbang utama.
Pintu gerbang yang terbuat dari besi baja itu terbuka lebar, mereka membuat barisan memanjang menyambut kedatangan Sang Haruk.
Sungguh mereka sangat patuh pada Raja mereka, karena 40 hari di tinggalkan rasanya istana menjadi sangat sepi dari biasanya.
"Baginda, akhirnya Engkau kembali juga!" Sapa Patih Yoganda.
"Iya Paman, aku sangat merindukan kalian," jawab Sang Haruk.
"Yakin kangen Mereka saja, bagaimana dengan Putri?" Goda Patih Yoganda.
Sang Haruk terkekeh. "Rinduku dengannya itu spesial Paman, berbeda dengan rindu pada yang lainnya," ujar Sang Haruk.
Patih Yoganda paham itu, Ia pun mempersilakan Sang Haruk menemui Putri yang sudah sangat gelisah menantinya sekalian beristirahat di dalam.
Di dalan kamar itu, Sang Haruk melihat Putri Karra Sandya tengah berdiri dan melamun di dekat daun jendela. Wajahnya tanpa sayu dan bersedih.
"Putri, apa kau memikirkan sesuatu?" Bisik Sang Haruk di telinga Sang Putri. Kedatangannya cukup mengagetkan.
"Baginda, sejak kapan Baginda sampai aku merindukanmu?"
Putri memeluk erat Sang Haruk seolah takut kehilangan pemuda gagah itu. Yang Ia takutkan adalah Sang Haruk melupakannya dan jatuh cinta pada bidadari yang dijumpainya diluaran sana.
"Baru saja Istriku, tapi aku sedih melihat wajahmu di tekuk bagai baju kucel yang belum di cuci," sendau Sang Haruk.
"Bagaimana tidak Baginda, 40 hari itu bukanlah waktu yang singkat. Rasanya sudah sama seperti 40 tahun," balas Sang Putri.
Mereka pun hanyut dalam api kerinduan, saling bercengkrama dan melupakan kelelahan dari perjalanan panjang itu.
Sang Haruk teringat akan perut Sang Putri yang sudah mulai membesar, meski belum terlihat jelas tapi lewat telapak tangannya Sang Haruk bisa merasakan perut Sang Putri agak mengencang.
"Bagaimana kabar anak kita Istriku, apa dia menyusahkanmu?" Tanya Sang Haruk pelan.
"Tidak sama sekali, aku juga tidak merasakan sakit. Hanya saja kerinduan ini yang membuatku hampir mati," jawab Sang Putri.
Mereka pun kembali menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya Sang Haruk dan para pembesar kerajaan memulai menyusun siasat peperangan yang akan segera terjadi di ujung tahun ini.
Itu artinya peperangan akan segera terjadi satu bulan kedepan. Tak mudah menyiapkan peperangan besar sebab kerajaan musuh yang menantang Sang Haruk adalah kerajaan yang di dalamnya banyak sekali kekuatan hitam yang mengandalkan sihir dan kelicikan yang bisa melumpuhkan prajuritnya.
__ADS_1
Itu sebabnya Raja Anggaro memiliki sifat iblis yang tertanam di dirinya.