
Lama-kelamaan akar tersebut semakin kencang melilit tubuh Sang Haruk. Sehingga benar-benar terasa sangat menyakitkan untuknya.
Keringat dingin silih berganti jatuh dari dahi, seakan Ia tak mampu lagi bertahan atau mati terlilit tanpa perlawanan.
Namun Sang Haruk tidak akan lupa pesan Kakek Sangkesana jika dia harus tetap fokus apa pun bahaya yang mengancamnya.
Sang Haruk yang tadinya hampir tumbang, kembali duduk bersila dan memusatkan pikirannya setenang mungkin dalam satu titik tujuan.
Setelah beberapa waktu, akar-akar itu seakan melonggar dan terlepas dengan sendirinya.
Sebenarnya Sang Haruk penasaran dan ingin melihat akar apa itu, akan tetapi niat itu harus Ia hilangkan.
Tak berapa lama kemudian, banyak sekali landak berduri datang mendekat dan menusuk-nusuk tubuh Sang Haruk dengan duri mereka dari beberapa sisi.
Sang Haruk meringis kesakitan, dan merasakan seekor landak bahkan membebani kakinya sampai kesemutan.
Ingin sekali pemuda tersebut melemparnya jauh-jauh, sayangnya berkutik pun tidak bisa.
Sang Haruk yakin, tusukan demi tusukan itu berhasil membuat darahnya keluar dan kemungkinan Ia akan keracunan.
"Hey, landak jelek apa yang kau lakukan pada pangeranku ini?" Tanya seorang perempuan yang juga ikut ambil bagian untuk hadir.
"Bukan urusanmu, kami Ingin membunuhnya lalu mempersembahkan tubuhnya pada Raja Landak kami," jawab suara pria.
"Enak saja bicaramu, dia ini calon suamiku. Sudah pasti akan ku lindungi dari makhluk jelek seperti dirimu," Jengah perempuan itu.
__ADS_1
Dam!
Dum!
Dam!
Dum!
Suara bagai badai petir seolah menggema. Sepertinya wanita dan landak-landak itu tengah berkelahi hebat.
Sabetan sihir juga seperti membuat bebatuan disana pecah dan hancur.
Telinga Sang Haruk sempat bergerak-gerak, akan tetapi tertahan. Ia tahu itu hanya ilusi pendengarannya dan tidak benar-benar ada.
"Pangeran, Pangeran, bangunlah Pangeran. Aku telah mengalahkan landak-landak itu. Lihat aku disini, aku ingin mendapatkan sentuhan darimu yang pasti memabukkan jiwaku."
Jika suara manusia Sang Haruk yakin, suara yang di timbulkan akan lebih jelas dan nyaringnya juga sudah pasti beda.
Sudah 39 hari masa-masa sulit berlalu, Malam ini akan menjadi malam terakhir pertapaan Sang Haruk. Entah akan ada apa lagi yang datang dan mengusik ketenangannya.
Sebesar apa pun itu, Ia harus mampu mengendalikan diri dari godaan tersebut agar berhasil melalui ujian yang di berikan untuknya.
Malam mulai bergulir semakin dingin, angin berhembus cukup kencang. Sang Haruk mulai merasakan ada yang janggal yaitu seperti suara seseorang yang tengah membelah kayu dengan kapak.
Tok!
__ADS_1
Tok!
Tok!
"Ayah, minggir Ayah. Jangan berdiri di situ pohonnya akan segera tumbang!" Teriak seorang bocah.
Tidak ada jawaban hanya ada suara lain lagi yang di timbulkan.
Krekek!
Dum!
Aaaa....
Suara kayu patah, tumbang dan rintihan seorang pria paruh baya terdengar begitu miris. Pasti pria itu telah tertimpa kayu yang amat besar.
"Ayah, kan sudah ku suruh minggir. Lihat dirimu hancur menjadi debu," ujar seorang bocah sambil menangis histeris tanpa henti.
"Biarkan saja, Ayahmu mati ayo ikut aku!" Ucap seseorang yang lain lagi.
"Tidak, aku tidak mau ikut Paman, Ayahku baru saja mati olehmu sengaja kau ikat dengan rantai yang besar di kayu itu sehingga Ayah saya mati tertimpa kayu," jawab bocah tersebut.
"Dasar payah, Ayahmu itu layak mati. Kamu tidak perlu menangisinya!" Ujar suara lelaki itu dengan kasarnya.
"Hik, hihihi... tidak Paman aku mau menguburkan debunya," tolak bocah itu.
__ADS_1
Miris hati Sang Haruk mendengarnya, bagaimana jika itu terjadi padanya dan bocah itu adalah Ia sendiri. Mana mungkin Ia membiarkan jasad Ayahnya di tinggal begitu saja.
Nyata atau ilusikah ini kenapa terdengar sangat nyata?...