Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 13 Suara Misterius


__ADS_3

"Sialan, beraninya kau bersikap seperti anak kecil," amuk Si ketua. Ia memerintah anak buahnya mengeroyok hingga terjadilah perkelahian sengit di antara mereka.


Si ketua pun harus turut andil karena Haruk licin bagai belut. Tidak mudah bagi mereka untuk menyerang dan melumpuhkan sang Haruk.


Anehnya lagi mereka terkejut karena sang Haruk tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Tak ingin mati konyol, pemuda itu berlari kencang meninggalkan tempat tersebut bersama Anjing sahabatnya.


"Wah, Bang kemana hilangnya orang itu?" Tanya si kumis kaget.


"Mana aku tahu, apa kalian gak lihat tadi?" Pak ketua pusing di buatnya.


"Tidak," jawab mereka kompak. terlihat jelas muka bingung di wajah para begal itu. Mereka seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat.


Sedangkan Haruk dan Anjing tadi sudah sangat jauh dan baru berhenti setelah merasa aman. Mereka memutuskan berhenti di bawah pohon jati yang berukuran sangat besar.


"Hali, kamu lelah?" Tanya Sang Haruk.


Brr...


"Baiklah, ayo kita cari sungai!" Ajak Haruk lagi menepi ke sebuah jurang. Dimana Ia melihat ada air yang mengalir sangat jernih di antara bebatuan.


"Wah, Hali ini rezeki untuk kita!" Teriak Sang Haruk senang. Keduanya menyusuri jalanan terjal dan duduk di atas batu. Sang Haruk mengedarkan pandangannya dan melihat banyak sekali bunga liar yang tumbuh disana. Semerbak aromanya memanjakan indra penciuman.


"Indah sekali tempat ini, lebih cocok untuk pemandian para bidadari," celoteh Sang Haruk. Berbeda dengan Anjingnya yang sudah minum lebih dulu sampai puas.


Tak lama setelah bersua sapa, setangkai bunga luruh dari dahannya tepat ke arah Sang Haruk. Lekas pemuda itu menengadahkan tangan karena masih belum puas menikmati aroma bunga tersebut.


"Wah, harumnya. Andai Putri Karra Sandya ada disini. Aku pasti akan menyelipkan bunga indah ini ke telinganya," gumam Sang Haruk senyum-senyum sendiri. Seakan Ia tengah duduk sambil berkeluh kesah dengan sang putri di sebuah taman penuh bunga.


"Aku mencintaimu putri," seloroh Sang Haruk. Hatinya bergetar sekali pun itu hanyalah khayalan semata.


Guk! Guk!

__ADS_1


Halido mengusapkan kepalanya di kaki Haruk, agar pemuda itu terbangun dari harapan semu.


"Oh iya, tunggu sebentar biar aku simpan bunga ini," ujar Sang Haruk. Ia kemudian mendekati mata air lalu meminum untuk mengurangi rasa hausnya kemudian mencuci muka sampai bersih.


"Ayo Hali!" Ajak Sang Haruk. Mereka harus kembali melanjutkan langkah mereka sampai keluar dari hutan itu sebelum malam tiba. Akan tetapi Haruk malah melihat ada seorang Kakek tengah duduk di pinggiran sungai itu bersama kucing hitam yang juga penyakitan seperti Anjing hitam miliknya.


Kakek tua itu sudah keriput, mungkin untuk berjalan saja beliau akan kesulitan.


"Kek...!" Sapa sang Haruk. Ia menghampiri sang Kakek untuk menyapa. Aneh saja karena kakek tua itu ada di tempat sepi menjelang sore.


"Boleh mintak tolong?" Tanya Sang Kakek lirih, Suaranya terdengar sengau.


"Apa itu?" Tanya Sang Haruk penasaran. Dengan senang hati Ia ingin membantu jika itu mampu untuknya.


"Belilah kucingku ini dengan harga satu keping uang logam saja sebab aku belum makan seharian," jawab Sang Kakek.


Haruk menoleh ke arah binatang imut itu, kucing tersebut mengedipkan mata seperti pasrah karena akan berpisah dengan tuannya.


Pemuda itu pun menurunkan buntalannya, bermaksud ingin memberikan uang logam yang diminta. Tapi sayang lama mencari, Ia hanya menemukan satu uang logam saja. Itu saja yang artinya Ia tidak akan bisa membeli makanan lagi.


Dengan tangan bergetar dan meragu, Haruk mengulurkan uang tersebut. Ia harus ikhlas jika malam ini Ia dan Anjingnya kelaparan lagi.


"Ini Kek, ambilah," ujar Sang Haruk.


"Terima kasih anak muda, kau memang berhati mulya," jawab sang Kakek itu. Lekas Ia bangkit dan meninggalkan kucingnya sampai tak terlihat lagi.


"Kucing yang malang," ucap Sang Haruk mengusap-usap kepala kucing hitam yang ditubuhnya itu di penuh oleh luka .


Karena iba, Haruk menggendong kucing tersebut mencari tempat ternyaman. Tapi sayang mereka sudah tak bisa keluar hutan karena jalanan telah gelap gulita.


"Kita bermalam disini saja," tukas Sang Haruk, tepatnya di bawah pohon beringin yang dahannya sangat rimbun dan gelap.

__ADS_1


Pemuda itu duduk di bawah banyaknya akar yang menjalar keluar, sedang Anjing hitam dan kucing hitamnya duduk istirahat di samping sang Haruk.


Tak terasa malam makin kelam, dan suasana nampak lengang. Tidak ada suara apa pun selain dari hewan-hewan liar yang ada di sekitaran.


Susah payah memejamkan mata, Haruk tidak bisa tidur. Ia hanya memperhatikan kedua binatang kesayangannya itu mendengkur.


Tepatnya sepertiga malam, tanpa ada angin ribut daun-daun hijau dari pohon beringin tempat mereka beristirahat mendadak jatuh berguguran. Sayup-sayup Haruk mendengar ada suara dua orang laki-laki yang berbicara diatas pohon beringin itu.


"Kawan, di bawah pohon kita ini ada banyak sekali emas dan mutiara kan," ujar orang pertama.


"Iya Tuan, memangnya kenapa?" Tanya suara orang kedua.


"Kamu harus tahu, jika ada seseorang yang menyembelih Anjing hitam dan kucing hitam di bawah pohon ini sudah di pastikan kita akan mati," jawab Orang pertama.


"Wah, ngeri sekali Tuan?" tukas orang kedua.


"Iya, selain itu dia akan menjadi seorang kaya raya karena emas dan mutiara di dalamnya dapat membeli seribu pulau di dunia sekaligus," papar Orang pertama.


Haruk meleguk salivanya, Ia jadi penasaran siapa kedua orang yang berbicara di atas pohon itu. Dengan hati-hati Haruk mendongakkan kepala ke atas, tapi karena terlalu gelap Haruk tidak dapat melihat apa pun dari tempatnya.


"Tuan, pasti orang yang mendengar obrolan kita akan sangat beruntung sekali ya. Apa lagi jika Ia tahu banyak emas yang tertimbun dibawah," tukas orang kedua.


"Maka dari itu kita tidak boleh gegabah, bahaya jika ada orang yang melakukannya maka tamatlah riwayat kita," Jawab orang pertama lagi.


Haruk pun jadi berpikir, untuk membuktikan sendiri kebenaran dari yang di dengarnya itu. Apa lagi Anjing hitam dan kucing hitam yang bersamanya itu telah memenuhi syarat yang mereka katakan.


Meski merasa kasihan, Haruk punya harapan besar bisa menikahi putri dan menjadi menantu raja. Entah syetan apa yang merasuki Haruk Ia segera meraih parangnya dan lekas menyembelih dua ekor hewan tersebut.


Sesaat suara orang yang berbicara tadi hilang dan daun beringin kembali berguguran dari dahannya. Sedang kedua hewan hitam yang di sembelih Sang Haruk tadi juga seketika sirna dari pandangan sang Haruk.


"Apa? Siapa kedua hewan itu sebenarnya?" Tanya Sang Haruk tak percaya. Ia termenung dalam kebingungan hingga fajar menyingsing.

__ADS_1


__ADS_2