Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 6 Penjelasan Patih Yoganda


__ADS_3

"Benar anak muda, sudah ngaca belum kau di rumah. Apa Bapakmu tak pernah menyadarkan engkau kalau dirimu sangat mirip dengan domba?" Ledek salah seorang dari mereka berseru sangat keras. Mungkin belum puas mematahkan semangat sang Haruk.


"Iya betul kawan, dia ini lebih layak jadi gembel dari pada ikut sayembara. Bermimpi saja jadi suami Putri Karra Sandya?" Sahut yang lain lagi tertawa terpingkal-pingkal.


Haruk tertunduk malu, Ia mencoba sabar menghadapi situasi. Lalu menimpali dengan rasa hormat. Karena ejekan itu sudah biasa Ia dengar sejak masih kecil dari orang-orang sekitar yang tidak menyukai keberadaan.


Selain itu, Sang Haruk juga sudah kebal di hina dan di maki Oleh Bibi sendiri setiap hati tanpa ada kata jeda sama sekali yang membuatnya menjadi kuat saat kembali ada yang merendahkan harga dirinya.


"Maaf Kang, tapikan tidak ada syarat kalau orang macam saya di larang ikut," jawab Sang Haruk tangkas sebelum pergi.


"Ada apa ini?" Tanya Panglima Galiska ketika melintasi tempat itu untuk mengamankan kondisi agar tetap kondusif. Mereka khawatir ada besar itu menjadi kesempatan penyusup untuk melakukan penyerangan saat lengah.


Kedatangan panglima itu membuat mereka tidak berani menjawab, dan hanya diam saja hingga Haruk mengangkat tangan nya menghadap Panglima Galiska.


"Maafkan saya Tuan jika kedatanganya saya lancang. Akan tetapi saya berniat ingin mengikuti sayembara jika di perkenankan," ujar Sang Garuk setengah menundukkan kepalanua.


Panglima Galiska pun mengamati penampilan Haruk, dan siapa sangka beliau malah memperbolehkan masuk pemuda lusuh itu masuk ke dalam aula.


"Baiklah kalau begitu mari masuk. Sepertinya kamu masih bisa mendaftar," ujar Panglima membuat semua prajurit tercengang tapi tidak berani protes. Mereka sadar kedudukan Panglima Galiska jauh lebih tinggi dari merela selain itu perintahnya tak lagi bisa di ganggu gugat sedikit saja.


Sesampainya di aula, Panglima Galiska mengantar Haruk ke tempat pendaftaran dan dia menjadi anggota ke 40 yang ikut dalam rombongan para pangeran dan anak mentri tersebut. Semuanya tampak sangat tampan dan gagah membuat Sang Haruk jadi minder sendiri.


Setelah selesai, Haruk di arahkan ikut duduk bersama ke 39 pemuda lainnya. Mereka yang merasa terganggu akan aroma tubuh sang Haruk sontak menutup hidung dan bergeser menjauh.


Begitunya hinanya Sang Haruk dimata mereka, hingga tatapan kebencian di tujukan ke arahnya. Mustahil memang jika Sang Haruk bisa berada di sana karena baginya tempat sangatlah istimewa.

__ADS_1


Melihat kondisi menjadi rapi, Panglima Galiska segera menghampiri para pangeran itu.


"Merapat!" Titah Panglima Galiska dengan tegas.


"Aromanya bagai bangkai panglima," jawab Raden Pampangkasan, sembari menatap sinis ke arah Haruk. Melihatnya saja Ia mual apa lagi jika di paksa duduk berdampingan. Bisa saja dia mendadak pingsan di tempat itu.


Mendapat alasan demikian, Panglima Galiska pun mengangguk paham, lalu membiarkan para pangeran itu berbuat sesukanya dengan syarat tetap menjaga ketentraman dan ketenangan yang lainnya.


Selang beberapa waktu, Sang Raja Anta Boga serta permaisurinya Dewi Calista keluar dari dalam istana di susul seorang gadis yang sangat cantik bak bidadari wulan dari di belakang mereka. Sudah di pastikan itu adalah Putri Karra Sandya.


Seorang gadis yang dilahirkan bertepatan dengan tubuhnya bunga Selasih yang di tanam Dewi Calista pada Malam kamis saat Ia mengandung besar.


Bunga itu di dapat Dewi Calista dari seorang putri ikan yang di peliharanya di kolam istana hasil penangkapan Raja ketika mengidam. Namun sayang ikan itu mati karena keracunan sesuatu yang membuat Dewi Calista bersedih.


Putri Karra Sandya sendiri memiliki rambut panjang yang tergerai sepinggang, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir tipis yang mempesona.


"Wah, cantik sekali dia," seru salah satu pangeran itu berdecak penuh kekaguman.


"Iya kamu benar, sudah di pastikan dia akan memilih aku karena ketampananku," jawab Raden Aditya percaya diri. Dia merasa menjadi pangeran tertampan yang ada di sana di banding saingannya.


"Hem, tapi bagaimana kalau dia memilih aku," sahut Raden Wijaya tak mau kalah menatap sambil tersenyum meledek pada Raden Aditya.


"Kita buktikan saja nanti," timpal Raden Aditya.


Berbeda dengan Sang Haruk yang hanya meleguk salivanya berkali-kali, merasa orang yang paling bodoh berada di antara orang besar di sana.

__ADS_1


Pikirannya melintasi ruang dan waktu, membayangkan alangkah bahagianya jika dia juga anak seorang yang kaya raya dan tampan seperti para pangeran itu.


Setelah semua duduk dengan tenang di tempatnya, tabuh gong menandakan sayembara akan dimulai terdengar menghiasi istana yang di penuhi manusia di dalamnya.


Dong! Dong! Dong!


Di atas panggung yang tidak terlalu tinggi, seseorang mulai mengambil posisi berdiri paling depan untuk mengatakan sesuatu pada para pangeran. Tentu isinya adalah arahannya yang di berlakukan dalam acara sayembara.


"Mohon perhatian, terkhusus para pangeran yang mengikuti sayembara!" Seru Patih Yoganda terlihat gagah dengan pakaian kepatihannya.


Para Pangeran itu tidak ada lagi yang bersuara, mereka tidak boleh meninggalkan satu pengumuman pun agar nanti dapat melaksanakan aturan dengan baik.


"Sebentar lagi Putri akan turun dari kursi kebesarannya, dia akan melempar sebuah selendang yang akan di kalung kan pada pemuda yang di pilihkan menjadi orang pertama yang di bebaskan meminta apa pun yang sudah di sedikan disini dan pemuda yang terpilih tentu adalah orang yang paling beruntung."


"Wah, itu pasti saya," ujar mereka bisik-bisik sendiri.


Lagi-lagi menebak sendiri seolah paling hebat dari yang lainnya.


"O ya, untuk sayembara itu sendiri adalah berupa modal usaha yang akan di berikan Raja pada kalian semua. Tergantung seberapa besar modal kalian dan seberapa tinggi untungnya maka dialah yang menjadi suami Sang Putri Karra Sandya, dengan satu syarat yaitu kejujuran. Jika ditemukan adanya kecurangan dari keuntungan itu maka akan di nyatakan gugur sebagai anggota, apa kalian paham?"


"Paham Paman," jawab mereka bersamaan Tampak sangat semangat.


Berbeda dengan sang Haruk yang sejak tadi diam saja menoleh kesana kesini memperhatikan wajah sumringah mereka. Sedangkan dirinya terlihat sangat bodoh dan tidak mengerti apa pun tentang keuntungan.


Mengingat, pegang uang saja Sang Haruk jarang bahkan hampir tidak pernah sama sekali. Pernah pegang itu pun paling pas jual ikan hasil tangkapannya di pasar setelah itu semua uang di rampas oleh Bibi Parwati semuanya tanpa memberi sepeser pun untuk pegangan.

__ADS_1


Astaga, apa aku mampu mengalahkan para pangeran itu dengan kemampuanku yang tidak ada apa-apanya ini. Karena jika di lihat dari kepintaran pun tentu mereka jauh lebih dari segalanya di banding aku yang membaca saja tidak bisa...


__ADS_2