Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Ban 12 Begal


__ADS_3

Perjalanan masih sangat panjang, waktu terus bergulir dari waktu ke waktu. Berbagai cobaan dan rintangan seolah tiada henti membentang untuk menguji kesabaran Sang Haruk.


Kali ini Ia di hadapkan oleh beberapa orang begal yang menghalangi langkahnya. Dimana orang-orang itu bermaksud meminta bekal Sang Haruk. Mereka mengira pemuda tersebut membawa banyak uang padahal untuk makan saja Sang Haruk kesulitan.


"Hey, orang gila. Cepat berikan barang bawaanmu!" Titah Ketua dari mereka. Orang-orang itu berjumlah sekitar 4 orang. Mereka berpakaian serba hitam dengan masker di wajah. Sudah di pastikan mereka adalah tukang begal orang-orang yang melintasi tempat itu. Sehingga melakukan penyamaran agar tidak mudah di kenali.


"Barang apa, aku tidak punya?" jawab Haruk enteng.


"Jangan main-main. Buntalanmu itu pasti isinya kepingan emas bukan, cepat serahkan?" Paksa salah seorang berkumis panjang dengan celurit di tangannya.


"Buntalan?" Haruk menundukkan kepala melihat buntalan yang mereka maksud. Jelas isinya hanya ada baju lusuh yang Ia bawa dari rumah. Kalau itu isinya emas pasti Ia tidak akan menahan lapar sampai sekarang.


Haruk tersenyum kecil menarik ujung bibirnya pada mereka. "Tahan Bang, biar ku beri tahu ini bukan lah emas. Hanya pakaian ganti yang sudah tidak layak pakai," jawab Sang Haruk jujur.


Berbeda dengan Anjing yang menemaninya, hewan yang mampu mengendus keanehan dengan jarak 100 meter itu terus menggonggong pada orang-orang tersebut bermaksud mengusir mereka atau bisa di percaya memberi isyarat bahwa akan ada bahaya mengancam.


Guk! Guk! Guk!


"Hus, diam kau Anjing. Aku tak ada urusan denganmu. Atau kau ingin lehermu ku pegal dengan golokku ini," Ujar sang ketua dengan mata memerah. Urat saraf dilehernya ikut menegang di sertai rahang mengeras.


"Sudahlah orang gila, jangan melawan. Serahkan saja buntalanmu itu dari pada mati konyol. Apa kau tidak pernah dengar semua yang lewat sini berakhir dengan mati sia-sia kalau mereka berani melawan," sahut si kumis menakut-nakuti.


Haruk acuh tak acuh, Ia hanya menertawakan perkataan orang-orang itu tanpa perduli maksud dari ucapan mereka.


Padahal Ia sendiri tidak punya kekuatan untuk melawan namun Ia merasa punya keberanian yang timbul dari dalam dirinya.

__ADS_1


"Apa yang perlu aku takutkan," seringai Sang Haruk. Ia malah duduk bersila di tanah sambil tertawa bak manusia kurang sajen.


"Wah, brengsek orang ini Bang. Dia mau melawan kita rupanya. Kalau kita hajar saja bagaimana Bang?" Tanya Si kumis yang mengajak berdiskusi rekan-rekan sepenanggungan.


"Ayo sikat aja Bang, tanganku sudah gatal ingin menjambak rambutnya yang tebal itu. Sepertinya dia tidak pernah mencuci rambut. Hahaha...," gelak anak buah yang lain. Mereka berempat jadi ikutan mengejek Haruk.


Akan tetapi apa yang terjadi, Haruk malah bermain ranting yang Ia congkel-congkel kan ke dalam tanah seolah membuat sumur. Tanah hasil galiannya itu Ia buang keluar sampai bersih.


"Kayaknya beneran gila dia," bisik Si kumis.


"Benar, tapi justru orang aneh beginilah banyak duitnya," Jawab ketua mereka sangat yakin. Berdasarkan pengalaman, banyak orang tua yang menyembunyikan uang mereka ke dalam sebuah buntalan baju. Sebab orang jangan mencuri uang di dalam sana Kecuali laci, lemari, dan bawah kasur. Mentok-mentok juga bawah bantal.


Lelah menunggu ke empat orang itu belum juga bereaksi, Haruk bangkit lagi dari duduknya. Ternyata duduk lama membuat tulangnya serasa sakit semua.


"Wah malah nantangin dia. Diapain ya ni orang gila enaknya?" Tanya Si kumis pada ketua mereka yang mendelik kearah Sang Haruk.


"Hajar saja, jangan beri dia ampun!" Jawab Ketua mereka yang memperbesar suaranya sambil mengibaskan rambut nya yang sudah seperti gadis jika di lihat dari belakang. Bisa jadi orang mengira dia adalah artis dari bollywood yang memiliki pesona layaknya Angelina Jolly.


"Baik Bang, kita mutilasi saja tubuhnya," ancam si kumis menggerak-gerakkan ujung rambutnya di atas bibir sarang mirip pancing ikan betok. Pasti sangat asyik jika di belai manja lalu di janggut dengan keras.


Pria itu segera melompat dan mengayunkan parang panjangnya ke arah sang Haruk tapi dengan lihainya pemuda berambut ikal itu melempar kepala si Kumis dengan batu yang Ia kait lewat kakinya.


"Aduh...," pekik pria itu kesakitan. Keningnya benjol segede biji kacang. Karena ukuran batu itu memang lumayan besar jika mendarat di sana.


"Makanya jangan banyak tingkah Bang, kamu pikir aku bocah," ledek Sang Haruk.

__ADS_1


Pemuda dari sungai komering itu sengaja memanas-manasi dengan memakan pisang yang Ia bagi dengan Anjing kesayangannya.


"Makan yang lahap Hali, abaikan orang-orang gila ini. Aneh, mereka yang gak waras kita yang di katain gila. Bukannya kebalik ya. Padahal mereka hanya mau hidup enak saja dengan menghabisi nyawa orang lain," ujar Sang Haruk pada Si Halido.


Guk! Guk!


Anjing itu nampaknya sangat setuju dengan ucapan Sang Haruk yang benar adanya. Mereka sendiri saja belum pernah makan daging sampai saat ini.


"Sial, hajar dia!" Titah si ketua pada kedua anak buahnya yang lain. Namun dengan cerdas Haruk melempari kedua kaki mereka dengan kulit pisang sampai keduanya jatuh dan terpeleset.


"Aduh... Bang bokongku sakit!" Pekik mereka seraya meringis kesakitan. Sudah seperti bocah yang dua bulan tidak di kasih susu.


"Hahaha... enak kagak cecunguk?" Haruk terpingkal-pingkal senang. Ia berhasil membuat keduanya merasakan akibatnya dan dengan mudah mengalahkan mereka hanya bermodalkan otak ala kadarnya.


"Mau coba juga kau? Sini Pak ketua, aku masih kuat ni!" Tukas Sang Haruk meremehkan berlanjut membisikkan sesuatu pada Halido.


"Hali, ika di lihat-lihat sih dia mirip dengan sapi ompong ya, hahaha...!" Haruk tergelak lagi sambil melambaikan tangan pada si muka seram. Tanpa permisi pria itu berlari menerjang Haruk dan kecepatannya mampu mengecoh pengamatan sang Haruk hingga terdorong cukup jauh dari tempatnya semula.


"Waduh... sabar dong Pak ketua. Belum juga siap. Aku jadi gak bisa fokus ni gara-gara wajah Pak ketua mirip kue lapis. Haduh kok jadi lapar sih," seringai Sang Haruk. Sepertinya Ia belum puas menertawakan para perampok itu.


Namun Haruk mulai menaruh curiga, sebab terjangan itu seakan kebal menghampiri tubuhnya. Ia merasa sangat tangkas dan kuat oleh sebuah gerakan yang harusnya sangat menyakitkan.


"Sakit...?" Tanya Pak Ketua.


"Apa, sakit? Sori dori ya, gak ada rasanya tu mirip pukulan bayi," jawab Sang Haruk. Di perlihatkannya pada pria itu kalau Ia hanya mengebas bekasnya dengan sekali usapan.

__ADS_1


__ADS_2