Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 23 Keputusan


__ADS_3

"Kemari lah...!" Titah Sang Haruk.


Keduanya langsung berpelukan. Sudah sangat lama saat terakhir mereka berpisah.


"Baginda, kau tak melupakanku? Lihat dirimu sekarang begitu sempurna!" Tantowi menelisik baju yang di pakai sahabatnya itu terbuat dari katsuri yang begitu indah.


"Mana mungkin aku lupa, hanya dirimu yang mengerti semua kesulitanku kawan. Kau juga yang membujuk aku mengikuti sayembara," Ujar Sang Haruk.


Dia menjamu makan berdua secara khusus untuk sekedar saling mengobrol menghabiskan waktu bersama. Banyak yang di ceritakan Sang Haruk membuat Tantowi tertegun.


"Wah, luar biasa sekali itu. Jadi kau menemukan harta karun yang sangat banyak?" Tanya Tantowi masih tidak percaya.


"Ya, begitulah."


Keduanya berlanjut bersulang.


"Lalu dimana sang Putri, apa dia sudah mengandung sekarang?" Tantowi membuat bulatan bundar di depan perutnya sambil menggigit kerupuk ikan.


"Alhamdulilah, semua bagaikan mimpi Tantowi. O ya bagaimana kondisi keluargamu?"


Tantowi meleguk salivanya. Ia menangis mengingat kalau mereka telah di bunuh oleh rentenir gara-gara tak sanggup membayar hutang.


Puluhan hektar padi gagal panen, sehingga keluarga Tantowi jatuh melarat.


"Astaga, sepicik itu. Lalu bagaimana kamu bisa lolos Tantowi?" Tanya Sang Haruk lagi.


Tantowi bersembunyi di pasar, Ia tinggal dengan seorang perempuan tua yang mengakuinya sebagai anak.


"Oh, luar biasa sekali. Pulanglah dan berikan emas ini padanya lalu kembali lah kesini. Aku ingin kamu menjadi abdi di istanaku," ujar Sang Haruk.


Ia menyodorkan kain hitam yang sudah di persiapkan nya untuk Tantowi.


Tantowi tak sabar untuk memeriksa, cepat membuka isinya.


"Baginda, ini sangat banyak Baginda." Tantowi mengusap keringat yang mendadak banjir di dahi.


"Semua itu tak sebanding dengan kebaikannya merawatmu. O ya katakan padanya salam dariku. Aku yakin dia akan bersedih menerima keputusanmu. Tapi aku ingin kita tetap bersama Tantowi," ujar Sang Haruk lagi.

__ADS_1


"Baik Baginda, aku akan pulang dan menyampaikan amanahmu." Tantowi menundukkan kepala. Ia mempercepat menghabiskan nasi di piring dan berpamitan pergi.


Sambil menunggu Tantowi kembali, Sang Haruk menceritakan mimpinya semalam pada petinggi kerajaan bermaksud meminta saran haruskan Ia pergi atau tidak.


"Jika itu di haruskan maka kerjakan. Hamba yakin beliau bukan orang sembarangan Paduka," sahut Resi Kala Wijaya.


"Iya, itu yang kupikirkan tentu Ia sangat tahu apa yang kubutuhkan saat ini. Tapi untuk itu, aku ingin Ayahanda dan Ibunda jangan dulu pergi agar bisa menemani Adinda Karra Sandya semasa kepergianku," ucap Sang Haruk pada kedua mertuanya.


"Baiklah menantuku, pergilah dan jangan khawatirkan Putri," jawab Ayahanda Anta Boga.


Setelah persetujuan seluruh petuah kerajaan, Sang Haruk berniat pergi besok pagi seorang diri. Ia meminta seluruh penghuni istana memperlakukan Tantowi dengan baik disana.


Malam hari, Baginda raja Sang Haruk menemui putri dan menyampaikan niatnya untuk pergi. Ia ingin putri selalu menjaga diri sampai dia kembali dari bertapa.


Perpisahan itu tentu teramat berat dan sulit bagi Sang Putri tapi tak bisa lagi untuk di hindari.



"Aku akan setia menunggumu Kakanda, sungguh aku tak tahu harus apa. Sesak rasanya dada ini harus berpisah darimu di tengah kehamilan yang baru beberapa minggu berjalan."


"Maafkan aku Istriku, tapi kejayaan Rakyat Cili Rawe amatlah penting untuk kita. Karena di tangan ini telah memikul kepercayaan yang mereka berikan dan aku tidak ingin rakyatku hidup sengsara gara-gara aku salah mengambil keputusan."


Dia harus mengutamakan ratusan ribu jiwa di bawah kendalinya dari peperangan dan penindasan.


Keesokan harinya Sang Haruk memeluk erat-erat sang Putri dan berpamitan dengan yang lain. Sang Haruk sengaja tidak memakai atribut kerajaan karena Ia ingin menjadi pertapaan sebagai manusia biasa, bukan karena namanya yang kini melambung tinggi di tengah-tengah halayak ramai.


"Baginda jaga dirimu baik-baik jangan sampai kau kepincut dengan putri siluman yang lebih cantik dariku!" Pesan Sang Putri.


"Hahaha... kau pandai menggoda istriku. Aku pasti sangat merindukanmu nanti!"


Mendengar ucapan Sang Haruk semakin menangis lah putri. Ia berusaha melambaikan tangan pada Baginda Raja yang telah naik ke atas kuda.


Pemuda gagah itu menunduk hormat pada petinggi kerajaan lalu memacu kudanya keluar gerbang istana. Dengan pakaian ala kadarnya tidak akan ada yang mengenali kalau dia adalah seorang Raja yang sangat besar.


Perjalanan itu membawa Sang Haruk melewati jalanan berlubang parah dan becek. Semua orang disana akan kesulitan melewati akses itu saat musim penghujan seperti sekarang.


Apa lagi Sang Haruk melihat beberapa gerombolan gerobak yang terjebak dalam kubangan air.

__ADS_1


Tapi bukan saatnya Sang Haruk kasihan, Ia harus sampai ke bukit barisan sebelum malam tiba


Pemuda itu dengan lihai mengendalikan kuda melewati hutan belantara.


Namun tiba-tiba saja segerombolan penyamun menghadang perjalanan Sang Haruk. Sekitar sepuluh orang dengan menggunakan baju hitam bertopeng seragam.


"Berhenti...!" Teriak mereka.


"Siapa kalian?" Sahut Sang Haruk.


"Kami penghuni hutan ini, setiap orang yang lewat di haruskan membayar pajak," ujar salah seorangnya.


"Oh ya ampun, ternyata kalian para perampok?" Gelak Sang Haruk.


Semua orang itu saling berpandangan. Lalu fokus kembali menatap sang Haruk.


"Cepat serahkan uangmu anak muda!" Perintah mereka lagi.


"Mudah saja bagiku, tapi satu hal yang harus kalian ingat. Raja Cili Rawe tidak akan mengampuni kalian," ujar Sang Haruk lagi.


Bukannya takut mereka malah tertawa terbahak-bahak. Menganggap gertakan itu hanya angin lalu.


"Raja Cili Rawe yang baru itu, heh. Dia itu bodoh tidak pandai bela diri maupun membaca dan menulis. Jadi mustahil dia bisa menghukum kami!" Timpal mereka sangat lantai.


"O ya... ?" Sang Haruk pun melompat dari kudanya dan mengikat kuda itu ke batang sebuah pohon dengan sangat santai.


Setelah usai, Sang Haruk mengepakkan kedua tangannya dari kotoran sambil menyeringai menatap orang-orang itu dengan tatapan ringan.


"Mau uang ini?" Sang Haruk mengeluarkan buntalan hitam dari pinggangnya. Sengaja melambungkan ke udara untuk menggoda para perampok tersebut.


Bola mata mereka menari mengikuti gerakan Sang Haruk. Mencari cela untuk merampas. Akan tetapi gerakan cepat seseorang terbaca oleh sang Haruk.


"Eit... tunggu dulu. Cari uang itu memang tidak mudah lo harus banting tulang dulu. Oleh karena itu jika mau uang ini ada syaratnya?"


Tawar menawar pun terjadi.


"Apa itu?" Tanya dari salah satu perampok itu.

__ADS_1


"Tebang pohon-pohon besar itu dengan senjata yang ada di pinggang kalian itu!" Tunjuk Sang Haruk.


Pohon yang besarnya dua kali lipat badan orang gemuk.


__ADS_2