Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 14 Syarat


__ADS_3

Sang Haruk yang masih terbengong-bengong tiba-tiba di kejutkan lagi oleh sebuah cahaya yang membuatkan tak sanggup melihat hingga beberapa waktu lamanya.


"Apa itu...?" Pekik Sang Haruk.


"Jangan bingung Sang Haruk. Aku sengaja datang ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting padamu," jawab suara seorang Kakek yang tak asing lagi baginya.


"Si- siapa kau sebenarnya?" Tanya Sang Haruk.


"Pulanglah untuk menghadap Raja dan mintalah 41 kapal terbang untuk mengangkut emas dan mutiara yang terkandung di bawah pohon ini serta mintak lah Seratus pekerja yang akan membantumu menggalinya!" Jelas suara aneh itu.


"A- apa? Katakan si- siapa kau sebenarnya ha? Kenapa aku tak dapat melihat orang di tempat ini selain sebuah cahaya?" Tanya Sang Haruk lagi karena masih belum mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.


"Aku adalah Kakek tua yang berulang kali kau jumpai Sang Haruk. Apa kau lupa sudah bertemu denganku beberapa kali. Seperti membawakan pisang setundun yang ku bawa dan aku juga meminta satu-satunya uang logam milikmu karena kelaparan," jawab suara itu secara jelas.


"Apa? Kakek Tua?" Haruk mengingat lagi memang bukan sekali Ia berjumpa seorang Kakek-Kakek yang selalu meresponnya dengan baik.


"Lalu Anjing hitam dan kucing hitam itu? Apakah mereka adalah binatang jelmaan?" Pertanyaan itu akan Haruk lontarkan demi menghilangkan rasa penasarannya.


"Hahaha, itu semua hanya ilusi saja. Kau menganggap mereka ada padahal mereka itu hanyalah yang terbuat dari sihir," jawab si Kakek tua yang menyerupai cahaya putih menyala.


"Apa? Bagaimana bisa aku melihat sendiri mereka hidup dan dapat berbicara? Tapi entah kenapa tanganku tergerak untuk menyembelihnya tadi tanpa rasa kasihan. Padahal aku iba pada kedua binatang tersebut?" Ujar sang Haruk. Ia pun mengamati parang karatan yang tadinya di penuhi darah merah sebelumnya ternyata sudah tidak ada.


"Apa? Kenapa darahnya hilang?" Sang Haruk nampak sangat terkejut.


Kedua bola matanya kembali terlonjak lagi ketika melihat ada banyak darah segar mengalir dari atas dahan pohon membasahi batangnya.


"Hai Kakek tua lalu siapa yang bicara semalam? Aku juga tak melihat ada orang di atas sana?"

__ADS_1


"Mereka adalah Raja dan anak buah abdi setianya yang menjaga tambang emas dan mutiara itu selama ribuan tahun lamanya, dan mereka baru akan mati jika ada yang menyembelih Anjing hitam dan Kucing hitam di bawah pohon ini. Kamu harus tahu Sang Haruk orang yang terpilih itu adalah dirimu."


Meski masih belum sepenuhnya percaya, Sang Haruk akhirnya menggali tanah itu berkali-kali untuk membuktikan kebenaran yang di dengarnya itu.


Sekitar dua jengkal kedalamnya, Ia benar-benar melihat bongkahan emas batangan dan mutiara berkelipan bagaikan bintang bergelimpangan.


Khawatir hanya mimpi Haruk mengucek-ngucek bola matanya berulang-ulang. Namun bongkahan emas dan mutiara itu tetep ada di depan matanya.


"Be- benarkah ini emas batangan dan biji mutiara Asli?" Tanya Sang Haruk setengah sadar.


"Kau tidak sedang bermimpi Sang Haruk. Apa yan'g kau lihat kali ini bukanlah ilusi yan kubuat. Pulanglah dan bawa sebagian untuk bekalmu pulang secepat mungkin ke istana dan pastikan 10 hari lagi kau harus sudah kembali kesini atau kau hanya akan melihat hamparan lautan yang luas dan tidak akan punya kesempatan kedua menemukan emas dan mutiara itu lagi," pesan Sang Kakek.


Tanpa pikir panjang, Sang Haruk memasukkan hasil galiannya kedalam buntalan pakaiannya karena Ia harus menyelesaikan batas waktu yang di berikan agar keinginannya mempersunting Putri Karra Sandya segera terkabul.


"Baik Kakek tua, aku akan pulang sekarang juga untuk menghadap Raja dan meminta kendaraan sebanyak itu sesegera mungkin," pamit Sang Haruk.


Meski sudah memiliki emas dan mutiara yang cukup banyak, Haruk tidak lupa berbagi ketika menjumpai seseorang yang bernasib sama dengannya menahan kelaparan dan kehausan tanpa ada yang memperdulikan.


Sehingga doa-doa tersemat untuk dirinya dari orang-orang itu sangat banyak.


"Sang Haruk, seandainya kami punya Raja sepertimu. Sudah dipastikan hidup kami akan aman dan tentram!"


Hampir doa mereka semuanya sama dan Haruk hanya bisa mengaminkan saja. Siapa yang tak ingin memiliki kedudukkan sebesar itu kecuali hanya manusia yang bodoh. Akan tetapi hal itu mustahil bagi Sang Haruk mengingat dia bukanlah orang yang layak ada ditempat luhur tersebut.


Beberapa hari telah berlalu tepatnya di hari ke 7, Haruk akhirnya tiba di istana dengan membawa emas batangan dan Mutiara yang tersisa.


Ia melihat sebagian para pangeran ada yang sudah kembali menghadap Raja dengan membawa hasil keberuntungan mereka ada yang menjadi dua kali lipat, tiga kali lipat dan seterusnya.

__ADS_1


"Baginda Raja, Sang Haruk salah satu anggota dari para pangeran itu sudah ada si gerbang istana. Akan tetapi Ia tidak membawa barang bawaan apa pun kecuali buntalan yang di bawanya saat berangkat!" Ujar Sang Prajurit yang menghadap.


Semua pangeran yang sudah duduk di sana menertawakan kemalangan Sang Haruk. Sudah mereka duga sebelumnya jika Sang Haruk sudah di pastikan akan menyerah sebelum waktu yang di berikan berakhir.


"Suruh menghadap padaku!" Titah Sang Raja.


"Baik Baginda Raja."


Sesuai perintah Raja Anta boga, Sang Haruk pun menemuinya untuk menghadap. Ia duduk berlutut di depan Raja tanpa lupa bersimpuh.


"Maafkan jika saya datang terlambat Gusti Prabu," ujar Sang Haruk seraya menundukkan kepala.


"Tidak apa, masih ada 3 hari tersisa sebelum 40 hari yang ku janjikan. O ya mana hasil dari modal yang ku percayakan padamu Sang Haruk?" Tanya Raja dengan kebijaksanaanya.


"Maafkan saya gusti Prabu untuk saat ini saya belum membawanya," jawab Sang Haruk.


Sekejap tawa merendahkan Sang Haruk pecah seketika di tempat itu terutama yang datangnya dari para pangeran saingan Sang Haruk.


"Harap teman semuanya, biar Sang Haruk menjelaskan lebih dulu apa alasan Ia gagal!" Ujar Sang Raja memerintah.


Dengan terpaksa mereka pun terdiam, akan tetapi tatapan sinis dan mencibir tetap menghiasai sebagian mulut mereka.


"Lanjutkan Sang Haruk!" Titah Sang Raja lagi. Ia harus memperlakukan sama pada seluruh peserta yang turut dalam sayembara tanpa membedakan strata.


"Maafkan hamba sang Prabu, sebenarnya kedatangan saya kemari ingin meminta 41 kapal terbang dan seratus


prajurit untuk membantu saya mengangkut keuntungan yang saya dapatkan," jawab Sang Haruk, membuat semua orang di ruangan itu tercengang tak percaya namun itu berlangsung singkat karena mereka kembali menertawakan kekonyolan Sang Haruk.

__ADS_1


__ADS_2