
Dong! Dong! Dong!
gendang di mulainya acara telah di tabuh, Patih Yoganda akan menyampaikan sesuatu di depan aula sebagai acara pembuka.
"Wahai Penduduk Cili Rawe sesuai perjanjian Raja dan pemindahan kekuasaan secara turun temurun ini terjadi 25 tahun sekali. Maka bertepatan Malam ahad, sudah saatnya Baginda Raja Anta Boga menyerahkan tahta singgasana untuk di serahkan pada Sang Haruk sebagai menantu sekaligus suami dari Putri Karra Sandya!"
Apa? Jadi ini benar-benar nyata...
Sang Haruk masih linglung dan bingung, sungguh Ia mengira jika itu hanya omong kosong semata.
Sesaat tepukan gemuruh memenuhi seisi Aula tersebut, mereka berteriak-teriak memuji nama Sang Haruk serta menyampaikan suara hati mereka sebagai Rakyat yang ingin hidup damai.
Selain itu, Raja Anta Boga juga meminta maaf jika selama masa kepemimpinannya, Ia belum bisa menjadi seorang Raja yang bijaksana dalam menindak adili penjajahan dan menentukan hukum bagi Rakyat yang berbuat salah.
"Rakyatku yang tercinta, aku ingin menyampai sesuatu yang sebenarnya terus membebani pikiranku. Maafkan daku jika selama menjadi Raja belum bisa memakmurkan kalian dari kelaparan dan penganiayaan orang-orang dari luar istana!"
"Tidak Baginda Raja, kami sangat senang dengan kepemimpinan Baginda, oleh karena itu kami berharap Raja yang baru bisa seperti Raja atau bahkan bisa lebih baik dari sebelumnya!" Teriak sesepuh desa.
"Benar, semoga saja Sang Haruk menjalankan tugas berat ini sebaik mungkin hingga tidak akan ada yang mampu membodohinya karena belum memahami sastra dan sistem kerja kerajaan. Tapi meski begitu Sang Haruk akan di latih membaca dan menulis serta di beri Ilmu Kanuragan oleh orang terpilih Istana untuk membantunya," jawab Raja Anta Boga.
Hari itu, penobatan penyerahan mahkota kerajaan telah resmi di pindahkan ke kepala Sang Haruk di iringi tabur bunga yang sangat meriah.
Kemudian berlanjut menyapa Rakyat dengan sedikit memberi wejangan yang diketahuinya lewat pengalaman mencari jati diri.
"Rakyatku, mungkin ini seperti mimpi bagiku. Bagaimana mungkin seorang yatim piatu melarat, miskin dan tidak punya apa-apa ini di percaya menjadi Raja di sebuah kerajaan besar. Sungguh ini adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Akan tetapi aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kehidupan kita di masa mendatang dengan tiga perkara."
"Apa itu Baginda?" Tanya salah seorang Rakyat.
"Pertama adalah memperluas lapangan kerja, kedua memperbaiki tanggul irigasi dan ketiga menanam bibit unggul. kulihat irigasi di persawahan masih belum terkendali dengan baik. Banyak tanggul yang bocor sampai pada akhirnya air terbuang dengan sia-sia," jawab Sang Haruk.
"Lalu bagaimana dengan perampok atau sebuah peperangan yang biasanya terjadi Baginda?" Tanya mereka lagi.
Sang Haruk tersenyum. "Ada tiga perkara juga di dalamnya."
"Apa itu?' Tanya sesepuh desa.
__ADS_1
"Taktik, Siasat dan cekatan," jawab Sang Haruk.
Terlalu banyak yang di pertanyakan oleh Rakyat pada Sang Haruk hingga menjelang malam.
Seluruh rakyat pun menikmati hidangan yang sudah di persiapkan dengan begitu banyak tanpa kekurangan.
Selain itu mereka juga mendapat satu keping emas dan mutiara secara merata.
Sungguh kebahagiaan terlukis di wajah mereka, berharap Sang Haruk bisa mengemban tugasnya secara adil dan bijaksana.
Sesuai perintah Ayahanda Anta Boga, Sang Haruk juga aku di bimbing ilmu kanuragan serta menulis dan membaca untuk mempermudah kepemimpinannya.
Meski masih tetap seperti mimpi, Sang Haruk amat sangat senang. Pikiran kotor takut di penggal pun hilang seketika.
Malam itu telah menjadi milik Sang Haruk, selain diangkat menjadi Raja, Ia juga sudah di perbolehkan ada dikamar Putri untuk menjadi seorang Suami secara sempurna.
Baru saja melangkahkan kaki diambang pintu, perasaan Sang Haruk bagaikan genderang perang yang tengah di tabuh untuk memulai perkelahian.
"Selamat malam Putri!" Sapa Sang Haruk gugup. Melihat istrinya tengah duduk di tepi ranjang langsung berdiri menghampirinya.
"Suamiku, apa obrolan panjangmu dan Rakyat tercinta sudah selesai?" Tanya Sang Putri.
Putri tersenyum, lalu menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Sang Haruk.
"Belum sehari menjadi Raja mengapa pesimis, percayalah suamiku jika takdir sudah menetapkan itu padamu berarti semesta mengetahui kemampuanmu yang sesungguhnya," jawab Sang putri.
Wanita yang cantik jelita itu pun menarik lengan Sang Haruk ke arah Ranjang, akan tetapi Sang Haruk masih belum puas mendekapnya dari belakang.
"Tunggulah sebentar Putri, aku masih ingin menghirup aroma bebungaan ini dari tubuhmu," ungkap Sang Haruk.
Indra penciumannya mengedus jenjang leher sang putri membuatnya terpingkal-pingkal.
"Geli suamiku," ucapnya merintih.
"Beruntung sekali aku bisa hidup bersama sang Putri, ayo cubit aku apa ini adalah mimpi!" Pinta Sang Haruk di telinga Sang Putri.
__ADS_1
Sang putri pun mengangkat satu tangannya ke atas di ikuti Sang Haruk yang membelai kulit mulus Sang Putri.
"Coba rasakan Baginda Raja suamiku tercinta, apa yang kamu rasakan saat menyentuhku?" Tanya Sang Putri.
"Terasa nyata dan membuat tubuhku tersengat," jawab Sang Haruk.
"Lalu kenapa kau masih mengira jika ini mimpi?" Tanya Putri lagi menghadap wajah baru Sang Haruk yang begitu tampan dan rupawan.
"Aku khawatir ini hanya ilusiku saja."
Sang Haruk pun mengangkat tubuh Sang Putri ke atas ranjang yang di atasnya di taburi begitu banyak bunga. Ia dapat mencium aroma wangi yang menghampar di setiap sendi ruangan.
"Apa Putri tidak menyesal menikah denganku?" Bisik Sang Haruk seraya membelai wajah Sang Putri.
"Tidak, aku percaya pada Sang pemilik kehidupan," jawab Sang Putri lagi.
Malam itu menjadi peraduan suci cinta Sang Haruk dan Sang Putri. mereka menikmati malam itu tanpa tidur hingga cahaya terang benderang menjemput sang mentari pagi.
Keduanya pun mandi bersama dalam sebuah kolam cinta milik Sang Putri yang terasa hangat dan menyegarkan seluruh tubuh.
"Apa Putri mengantuk?" Tanya Sang Haruk.
"Sedikit, tapi tidak masalah jika itu untuk suamiku."
Jawaban Sang Putri selalu saja membuat Sang Haruk bahagia. Ia pandai memuji suaminya hingga seperti terbang ke awang.
Karena masih menginginkan tubuh Sang Putri, Sang Haruk pun kembali mendekap pinggang Sang Putri merapat lalu melabuhkan satu kecupan manis di bibir Sang Putri.
"Kau sangat cantik Putri, aku berharap kelak Putri akan bersedia melahirkan anak-anakku di kemudian hari!"
Putri mengangguk kecil. "Apa pun untuk Baginda Raja, aku bersedia melakukannya."
Pemandian itu benar-benar hanya milik Sang Putri dan Sang Haruk tanpa ada yang berani mengangguk sejenak saja sampai mereka sendiri yang keluar dari peraduan mereka.
__ADS_1
Cinta Sang Haruk dan Sang Putri sebenarnya memang sudah di garis kan sejak mereka baru dilahirkan ke dunia dimana hanya terpaut satu hari sahaja.
Itu sebabnya kelahiran Sang Haruk sangatlah spesial, dan berbeda dari yang lainnya. Dimana ada cahaya yang melingkupi rumah reyot itu saat badai petir, akan tetapi hanya sebagian orang terpilih yang dapat melihatnya.