Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 11 Halido


__ADS_3

Cukup seharian berjalan, Haruk tiba lagi di sebuah perkampungan. Ia memperhatikan kesibukan warga sekitar dengan macam-macam kegiatan. Sepertinya suasana seperti itu sudah menjadi kebiasaan penduduk setempat saat jam-jam seperti itu.


Kedamaian nya tak perlu di pertanyakan lagi, sejak di pimpin Raja Cili Rawe tak ada orang luar yang berani datang untuk mengusik kampung tersebut.


Di tempat itu pula Haruk melihat ada Kakek-kakek tua tengah membawa pisang setundun seperti keberatan. Tak tega melihatnya Haruk pun menawarkan diri untuk membantu. Mungkin dengan begitu Ia bisa bermanfaat dan di hargai orang lain.


"kakek, Kakek sendirian ya, biar saya bantu?" Tawar Haruk seramah mungkin sambil menundukkan kepalanya penuh hormat pada yang lebih tua darinya.


"Siapa ya, kamu orang sini?" Tanya Sang Kakek. Rupanya beliau juga buta tapi bisa berjalan hanya bermodalkan tongkat sebagai alat bantuan. Dan hal itu sangat menakjubkan bagi seorang Haruk.


"Bukan Kek, saya dari bantaran sungai komering. Nama saya Haruk Kek, ayo sini biar saya bantu bawakan ya Kek!"


Haruk mengambil alih pisang tersebut dan mengikuti langkah sang Kakek sampai tiba di sebuah gubuk reyot yang begitu kecil dan berantakan. Didepannya duduklah Anjing hitam kurus kering dengan tubuh kudis-kudisan menyambut kedatangan mereka. Seolah tahu jika Tuannya telah datang bersama orang asing.


"Letakin disini saja Haruk!" Titah Sang Kakek pada sebuah tumpukkan kayu bakar di samping pintu belakang. Dengan rigas, Haruk mematuhi perintah Sang Kakek tanpa menimpalinya.


Guk! Guk!


Anjing itu mendekati Haruk, Ia menciumi kaki pemuda itu seolah mengajak berkenalan. Haruk jadi tertarik untuk duduk dan mengusap-usap kepalanya.


"Ini anjing milikmu Kek?" Tanya sang Haruk pada Si Kakek tua yang tampak membuat perapian di dalam tungku yang terbuat dari tumpukan bata.


"Benar, tapi Kakek tidak punya uang untuk merawatnya. O ya tunggu sebentar. Kamu jangan buru-buru pergi. Temani Kakek makan dulu sebentar ya," ucap Sang Kakek.


"Oh tidak usah Kek, saya sudah kenyang," jawab Haruk seraya berbohong. Ia di hargai Kakek tua itu pum rasanya sudah sangat senang, apa pagi sampai makan.

__ADS_1


Sang Kakek mengangguk kecil, Ia berpikiran jika Haruk tengah buru-buru untuk mencapai tujuannya. Beliau pun masuk dan menyisir pisang yang hampir masak itu untuk di berikan pada sang Haruk sebagai imbalan atas kebaikannya.


"Bawa ini, kamu pasti membutuhkannya nak. Maaf Kakek tidak punya apa pun untuk di berikan," ucap Sang Kakek yang segera mengulurkan pisang satu sisir itu ke tangan Haruk.


"Terima kasih Kek, ini pasti sangat membantu," jawab Sang Haruk. Pemuda itu terus mengamati anjing tersebut seakan tertarik untuk membelinya sebagai kawan di perjalanan.


"Kakek, jika boleh. Bagaimana kalau anjing ini buat saya saja untuk menemani saya?" Tanya Sang Haruk, agak ragu dan bicara hati-hati khawatir Kakek itu memarahinya.


Ternyata Sang Kakek malah mengangguk setuju. "Jika itu perlu, ambillah Haruk, asal kamu membayarnya dengan satu keping uang logam?" Jawab Sang Kakek.


"Benarkah Kek, aku hanya perlu membayar satu keping uang logam?" Tanya Haruk dengan raut terkejut. Tidak di sangka nya Sang Kakek ternyata sangatlah baik mau melepas Anjing piaraannya pada seorang yang asing.


"Iya, saya juga tidak membutuhkannya Haruk. Saya tahu kamu sangat kesepian jadi bawalah. Suatu saat nanti Anjing ini akan sangat bermanfaat untuk membantumu," jawab Sang Kakek, beliau duduk di atas karung yang entah apa isinya.


Tanpa menunggu lama Haruk segera membayarnya dan lekas membawa Anjing itu pergi. Karena keterbatasan ekonomi yang tinggal menyisakan dua keping uang logam. Haruk memberi makan Anjing itu sama seperti apa yang di makannya. Ajaib tapi, Anjing itu juga menyukai buah-buahan segar yang mereka jumpai di perkebunan milik warga.


"Jing, begini saja biar aku gak bingung mau manggil kamu apa. Maka mulai sekarang aku beri nama kamu Halido. Kamu mau gak?" Tanya Sang Haruk berusaha tersenyum dan mengusap-usap leher Anjing itu.


Anjing itu mengedipkan mata seakan mengerti dengan perkataan Haruk dan setuju akan nama baru yang dimilikinya.


"Katakan padaku, Kamu suka ya dengan nama itu, saya sangat senang ada kamu. Mulai hari ini saya tidak akan merasa kesepian," ujar Sang Haruk lagi berubah sumringah.


Tak jauh dari tempat mereka, Haruk melihat persawahan penduduk. Sepertinya mereka akan menginap di sana malam ini untuk beristirahat. Toh, mau kemana lagi jika tidak memanfaatkan yang ada untuk beristirahat.


"Ayo Hali kita kesana? Semoga tidak ada orangnya ya?" Ajak Pemuda itu.

__ADS_1


Haruk berlari sangat kencang menjelajahi pematang di ikuti si Anjing di belakangnya.


Setelah yakin tidak di huni, Haruk bergegas mengumpulkan kayu bakar untuk perapian mereka. Sebab di tempat itu Ia tidak menemukan adanya lampu untuk penerangan. Beruntung sisa korek batang waktu itu masih di simpannya dalam buntalan baju jadi bisa di manfaatkan dalam keadaan darurat.


Menjelang malam, Haruk menyalakan kayu sambil menyantap pisang pemberian Kakek bersama Anjingnya. Angin semilir mendayu-dayu dan suara jangkrik-jangkrik di sunyi senyap menemani kesendirian Sang Haruk dan Anjing barunya itu.


Bersyukur bulan juga bersinar terang, seolah tahu mereka butuh cahaya untuk dapat sedikit melihat sekitaran.


"Hali...!" Panggil Haruk.


"Kenapa kamu menyukai pisang ha? Harusnya kamu itu makan daging atau tulang. Maaf ya Hali, ikut aku pun kau hanya akan menderita," ucap Haruk kelu.


Guk! Guk!


Anjing tersebut hanya menggonggong, lalu melungker di dekat Haruk. Kelakuan itu membuat hati Haruk merasa iba sekali gus senanh.


"Hali aku mau curhat, sepertinya nasib kita tidak beda jauh ya. Sampai saat ini aku belum tahu bagaimana caranya memenangkan sayembara. Sebab dimana pun aku berada tidak ada seorang pun yang menyukaiku. Kamu tahu tidak, aku juga tidak punya keahlian apa pun agar mendapat keuntungan seperti keinginan Raja. Menurutmu aku harus bagaimana sekarang Hali?"


Guk! Guk!


"Ah Hali, aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Ayo bantu aku mendapatkan solusinya. Supaya aku bisa menang dan menikahi Putri lalu menjadi seorang Raja. Apa mimpiku berlebihan?" Seringai Haruk terus bercengkrama tanpa henti.


Guk! Guk!


Anjing itu lagi-lagi hanya menimpali lewat gonggongan membuat Haruk menjadi manyun sambil bertopang dagu membenahi kayu yang hampir padam.

__ADS_1


"Ayo Hali kita tidur sebelum api ini menyala. Siapa tahu aku bermimpi lagi ketemu Putri!" Ajak Haruk lagi.


__ADS_2