
"Baiklah burung merpati putih, terima kasih atas saranmu. Kalau begitu saya akan menemui putri dulu!" Pamit Sang Raja.
Sang Haruk pun lekas berlalu dari hadapan burung merpati dan menjumpai Sang Putri di dalam kamar.
"Baginda... !" Seloroh Sang Putri yang tengah menyisir rambut indahnya yang panjang. Wajahnya terlihat sangat sedih dan seperti memikirkan sesuatu.
Pemuda yang kini bermahkota kan emas di kepalanya itu memeluk Sang Putri. Rasanya kerinduan yang sejak kemaren terjadi iyu belum juga mampu menyurut.
"Apa yang sedang Adinda pikirkan ini sebenarnya? Mengapa wajah Adinda terlihat bersedih?" Tanya Sang Haruk setengah berbisik.
Sang Putri hanya mengembangkan senyum, diiringi gelengan kepala yang singkat.
"Melihat Baginda saja, aku sudah sangat bahagia," ujar Sang Putri.
Belum selesai bercengkrama, seorang emban meminta izin masuk, untuk menyajikan beberapa makanan di kamar Sang Putri.
"Emban tunggu!" Cegah Sang Haruk.
Ada satu hal, yang sangat ingin di tanyakan.
__ADS_1
"Iya Baginda, adakah sesuatu yang penting?" Tanya Emban tersebut, menundukkan kepalanya sejak tadi.
"Tunggu aku di luar!" Ucapnya.
Sang Haruk pun meminta Sang Putri mengizinkannya menemui Emban tersebut, dimana dia adalah seseorang yang paling dekat Sang Putri.
Berhadapan dengan Raja, tentu saja Emban itu merasa takut. Ia berpikir mungkin saja sudah melakukan kesalahan pada Putri dan hendak di hukum.
"Emban, kulihat kau sangat dekat dengan Putri Karra Sandya. Adakah dia pernah bercerita sesuatu yang mengusik hatinya. Atau ada hal lain yang Ia inginkan, akan tetapi tidak berani mengatakannya padaku?" Telisik Sang Haruk.
Emban itu pun mengingat-ngingat tentang obrolan Sang Putri beberapa hari yang lalu. Dimana Sang Putri sangat ingin meminum air kelapa muda yang di petik langsung oleh Baginda Raja.
Sang Haruk yang mendengar pun langsung menyunggingkan senyum simpul. Tidak percaya Putri telah merahasiakan hal penting itu darinya.
"Baiklah, terima kasih emban."
Baginda Raja segera meminta Patih Yoganda dan beberapa pengawal istana mengantarnya ke kebun. Dimana ada banyak ribuan kelelawar beterbangan diatasnya.
"Baginda, sepertinya pohon itu sangat tinggi. Alangkah baiknya biar aku saja yang naik kesana!" Izin Patih Yoganda.
__ADS_1
"Tidak Paman, istriku mengidam ingin minum air kelapa muda untuknya lewat usahaku. Jadi ini adalah tantangan tersendiri bukan?" Ucapnya menolak.
Patih Yoganda membantu Sang Haruk melepas seluruh atribut kerajaan, menyisakan pakaian polos yang akan membawanya sampai ke atas sana.
Pohon kelapa yang kira-kira memiliki tinggi sekitar dua puluh meter dari tanah itu, terlihat menjulang ke angkasa
"Hati-hati Baginda, itu sangat berbahaya!"
Sang Haruk mengangguk, Ia segera mengambil posisi untuk memanjat dengan bersusah payah.
"Astaga mengapa Baginda tidak memakai Ilmu kanuragannya saja. Bukankah dia bisa berjalan sambil berlari naik kesana," celoteh Patih Yoganda.
"Itu karena dia sangat mencintai Istrinya Yoganda, sungguh suatu keajaiban memiliki menantu seperti dia," sahut Ayahanda Anta Boga yang turut menyusul.
"Benar Paduka tetua, tapi aku mengkhawatirkan dirinya. Bukankah kalau nanti jatuh dari atas sana, yang ada akan mengalami patah tulang atau mungkin kehilangan nyawa," jawab Patih Yodlganda.
Ayahanda Anta Boga terkekeh dan replek menepuk bahu Patih kepercayanya sejak 7 tahun yang lalu itu.
"Seorang Raja tidak akan mengalami hal itu semuda yang kau bayangkan Patih, sebab dia dalam perlindungan alam," tukasnya memberi tahu.
__ADS_1