
Merasa hal itu sangat mustahil, Para Perampok itu menatap marah. Mereka bagai tersulut bara api yang berkobar besar tanpa perduli kan ucapan Sang Haruk.
"Sialan, kamu pikir kami ini tukang kuli ya, jangan coba-ciba mempermainkan kami anak muda atau kami akan membunuhmu!" Pekik yang berdiri paling depan. Kelompok seperti mereka sudah pasti ada ketuanya.
Tapi Sang Haruk tidak pernah gentar sedikit pun, sudah sering Ia melewati masa-masa sulit seperti itu dan mudah saja baginya melawan mereka.
Entah apa yang di bisikan oleh mereka, beberapa orang dari kesepuluh itu tiba+tiba menyerang Sang Haruk dengan sangat bringas.
Sang Haruk tidak diam saja, dia segera melakukan perlawanan untuk melindungi dirinya dari bahaya.
Perkelahian sengit pun terjadi hingga menghiasi hutan belantara itu. Suara pukulan dan ranting patah akibat pergerakan mereka terdengar ricuh dan mengerikan.
Bag!
Big!
Bug!
Kretek!
Jeritan patah tulang dari perampok itu terdengar sangat miris dan ngilu akibat di kunci oleh sang Haruk. Tangannya terpelintir kebelakang tanpa ampun di cekal sehingga tidak bisa melepas kan diri dari jeratan pemuda yang baru mendalami kanuragan itu.
Tubuh pria tersebut telah menjadi tumpuan Sang Haruk mengayunkan kakinya menendang lawan yang datang silih berganti hingga mereka bergelempangan dan kesakitan.
Menyaksikan teman-temannya terhempas ke tanah, mereka yang tersisa pun turut menyerang Sang Haruk tanpa memberi kesempatan istirahat sejenak.
Karena dengan begitu mereka berkeyakinan lawan akan kewalahan dan akhirnya pasrah tanpa perlawanan. Namun sayangnya itu tidak berlaku bagi Sang Haruk. Justru di serang tanpa henti, kekuatannya semakin besar.
Jika ada orang yang berada di sekitar itu, pasti mereka ketakutan mendengar ayunan dan sabetan golok yang sangat mengerikan, akan tetapi kecepatan Sang Haruk untuk menghindar membuat para perampok kelabakan.
Bagaimana mungkin Sang Haruk bisa melakukan pergerakan secepat itu tanpa suatu sebab. Ia bergerak licin dan sulit di taklukan.
__ADS_1
Ilmu apa yang di milikinya pun menjadi tanda tanya besar.
Mereka tak mampu menandingi Sang Haruk. Rupanya pemuda itu bukanlah orang sembarang seperti anggapan mereka pada saat mereka melihat pertama kali.
"Si- siapa anda sebenarnya?" Tanya salah seorang dari mereka karena rasa penasaran.
Kekuatan yang besar itu berhasil melumpuhkan pertahan mereka yan selama ini belum pernah terkalahkan oleh orang-orang terdahulu sebelum Sang Haruk.
"Apa kalian belum pernah mendengarkan kemampuanku?" Tanya Sang Haruk pada mereka.
Bukan bermaksud sombong tapi Sang Haruk hanya ingin membuka lebar-lebar mata mereka untuk memilih siapa lawan yang tepat di jadikan sasaran merampok.
"Ya, tenaga dalammu luar biasa?" Ucap mereka yang mengakui kekuatan Sang Haruk.
Mereka tergopoh-gopoh kesulitan menyeimbangkan tubuh mereka sambil memegangi bagian yang kesakitan kesakitan akibat hantaman Sang Haruk tadi.
Sang Haruk tersenyum lekas menaiki kudanya. Ia mengatakan sesuatu yang membuat semua perampok tercengang sesaat sebelum memacu kembali binatang kesayangannya itu.
Hanya seperkian detik, para perampok tak dapat melihat keberadaannya lagi.
"Sang Haruk?" Seloroh seseorang dari mereka yang terkapar dibawah. Sepertinya nama itu tak asing lagi di telinga mereka.
Baru-baru ini nama Sang Haruk menyebar sangat cepat di berbagai pelosok daerah karena kemenangannya menikahi Putri Karra Sandya.
Dari berita itu mereka juga tahu, jika pemuda yang menikahi Sang Putri sudah pasti di nobatkan menjadi Raja di Istana Cili Rawe.
"Akang, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Apa Akang juga pernah mendengar namanya?" Tanya dari salah satu yang lainnya.
Pria yang bergumam tadi mengangguk kan kepala.
"Tentu saja, namanya sangat terkenal. Itu artinya kita baru saja berhadapan dengan Baginda Raja Cili Rawe, setelah ini pasti kita akan mendapat masalah karena nya. Kupikir Raja Cili Rawe sekarang itu bodoh karena yang ku dengar tidak bisa membaca dan juga kemampuan bela diri. Tapi ternyata itu hanya kabar burung saja."
__ADS_1
"Apa, kamu benar Kang? Tak ku sangka dia sangat hebat, tubuhnya terasa remuk di buatnya, padahal dia hanya bergerak ringan tadi."
Saat orang-orang itu tengah terhanyut dalam perbincangan. Sang Haruk sendiri telah keluar dari hutan itu dan dapat melihat bukit barisan di ujung sana yang terpampang begitu indah dari tempatnya berada.
Keindahan yang sangat terkenal, biasanya orang-orang dapat melihat keberadaan bukit barisan itu di pagi hari saat matahari belum muncul di kelilingi kabut-kabut udara pagi.
"Wah... bukit-bukit itu ternyata begitu indah aku harus segera sampai kesana dari pada aku membuang-buang waktu disini!" Gumam Sang Haruk memuji keindahan sang Khalik.
Ia mempercepat pacuan kuda pilihannya yang paling gesit, karena untuk sampai ke bukit itu masih di butuhkan perjalanan sekitar satu jam lagi lamanya.
Melewati medan yang sulit tak mengurangi semangat Sang Haruk. Dengan terpaksa Ia memilih berjalan kaki dan meninggalkan kudanya di kaki bukit. Bahaya bagi si putih jika Ia nekat menunggangi Kuda hanya karena enggan berjalan kaki. Toh, bukankah Ia sudah biasa melakukan hal itu saat Ia berpetualang mengikuti sayembara.
"Baik-baik disini Putih, aku harus menjalankan tugasku. Kau boleh pergi jika kau kelaparan dan kehausan. Tapi ingat jangan pernah menggangu penduduk di pedesaan. Satu hal lagi 40 hari kemudian kembali kesini dan tunggu aku di tempat yang sama pula!"
Sang Haruk menepuk kepala kuda itu dan membiarkannya pergi dengan bebas.
Sedang Sang Haruk sendiri melanjutkan perjalanan menapaki kaki bukit yang agak licin dan Curam sambil berpegangan pada rumput dan bebatuan di sekitarnya.
Namun beberapa langkah saja Sang Haruk di hadang oleh seekor ular kobra yang menengadahkan kepalanya ke atas hendak menyerang Sang Haruk.
"Hei, kawan rupanya kau tengah menghalangi langkah kakiku?" Ucap Sang Haruk yang merespon bahaya dengan cepat di depannya.
Wusss!
Wusss!
Ular itu mengeluarkan bisa. Sang Haruk mencoba memeriksa sekitaran untuk menemukan pohon bambu seperti amanah yang di dengarnya dari Raja Ular raksasa akan tetapi sangat di sayang kan pohon bambu tidak ada di sekitaran tempat itu.
"Baiklah, aku tak punya pilihan lain. Sang Haruk mengangkat tangannya ingin menyerang ular tersebut dengan cincin yang bersinar terang di jari manis membuat ular itu kesulitan melihat.
Sehingga Ular itu pun memutuskan pergi menjauh. Ia tahu Cincin itu adalah milik Raja Ular di seluruh jagat raya. Dan para ular harus tunduk pada pemilik cincin tersebut atau mereka akan hancur jika bersikeras melawan.
__ADS_1