Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 33 Pertempuran


__ADS_3

Selang beberapa waktu, Raja Anggaro menampakkan wujud manusianya yang ternyata memang berwajah seram. Pantas saja kawanannya semua kaum siluman.


"Sang Haruk, aku tidak percaya ini?" Tukasnya menyesati penampilan pemuda itu yang kini menjadi sangat gagah.


"Apa yang salah denganku Paduka?" Tanya Sang Haruk.


"Mana mungkin pemuda lecek, miskin dan bodoh bisa menjadi seorang Raja di istana besar, bukan? Kau pasti sedang melakukan manipulatif sehingga itu terjadi. Ayo katakan padaku?" Desak Raja Anggaro.


Sang Haruk hanya tersenyum, dia yakin musuhnya itu sedang mengalihkan perhatiannya.


"Hei, Sang Haruk mengapa diam saja? Ayo jawab pertanyaaku?" Paksa Raja Anggaro.


"Tidak ada gunanya menjawab, sebab kau juga tidak mengerti apa pun," jawab Sang Haruk.


Marah akan ucapan Sang Haruk, Raja Anggaro menyerangnya dengan bola api peti geni.


"Bakar tubuhnya," bisik Raja Anggaro.


Benar saja, bola api itu menyerang Sang Haruk berusaha menyulut tubuhnya lewat pakaian.


Sayang itu tidaklah mudah, kini Sang Haruk punya kemampuan baru yang tidak di ketahui oleh orang lain.


Lelah bermain-main, pemuda itu menyemburkan mata air suci dari air danau yang Ia sedot dengan tenaga dalam untuk mematikan api itu.

__ADS_1


Kesal usaha Raja Anggaro gagal, Pria berjanggut tebal itu menyerang Sang Haruk. Perkelahian panas terjadi, bahkan dari kejauhan kilatan cahaya menjuru ke segala polosok mencampai 50 km dari ke empat arah mereka sekarang.


Semua orang mengira, akan ada badai besar yang datang menyapa ke wilayah itu. Sehingga semua orang memutuskan keluar dari rumah dan beramai-ramai melihat kejadian. Akan tetapi sudah tiga hari berlangsung badai itu tak kunjung sampai. Yang ada hanya getaran, suara hantaman dahsyat dan suasana gelap tak berkesudahan.


Dar! Der! Dar! Der!


Ilmu kanuragan saling menghantam satu sama lain hingga suaranya membahana.


Serangan berikutnya Sang Haruk dan Raja Anggaro sama-sama tak sempat menghindar. Hingga sebuah kekuatan dari ilmu mereka membuat tubuh mereka terpelanting, hingga menyebabkan Sang Haruk muntah darah.


Berbeda dengan Raja Anggaro yang memang jauh lebih kuat dari Sang Haruk. Pria itu tidak akan bisa mati jika tubuhnya kembali menyentuh tanah.


"Ayo hadapi aku tol*l!" Ucap Raja Anggaro karena merasa telah menang. Ia yakin tubuh Sang Haruk hancur dari dalam.


Kekuatan cincin itu membuat getaran hebat pada tanah menyerupai gempa bumi.


Seluruh manusia yang dapat merasakan itu sampai berteriak histeris. Tidak percaya jika itu akan menjadi akhir hidup mereka.


Merasakan kekuatan besar Raja Anggaro nampak panik. Beliau kembali menyerang Sang Haruk, namun Cincin itu rupanya menghantam tubuh Raja itu hingga hancur berkeping-keping.


Sebelum kepingan jatuh ke tanah, Sang Haruk menciptakan angin untuk menyapu debu Raja Anggaro jatuh kedalam telaga suci tempat dimana para wanita siluman itu pernah di kurungnya.


Usai telaga lenyap, dunia seolah kembali tenang seperti tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Tentu saja semua orang langsung mengucap penuh syukur akan keselamatan mereka.

__ADS_1


Selang beberapa waktu, dalam kondisi yang tiba-tiba terhuyung pingsan. Kakek Sangkena muncul di hadapan Sang Haruk. Beliau mengobati tubuh pemuda itu dengan singkat, lantas menghilang lagi seperti di telan bumi.


Sang Haruk yang kembali sadar, merasa aneh. Sakit yang dirasakannya tadi mendadak hilang tanpa sisa. Namun Ia tersenyum, sesaat setelah cahaya kecil bagaikan bintang beterbangan di depannya.


"Terima kasih Kakek!" Ucap Sang Haruk seraya menunduk.


Usai memenangkan perkelahian, Sang Haruk kembali ke istana dengan tenang.


Hari demi hari kebahagiaan nampak terlukis di wajah semua orang yang ada di istana maupun rakyat jelata.


Mereka mulai tidak sabar menantikan kelahiran Putri dibarengi dengan mulainya pula pembangunan jalan-jalan yang rusak. Penambahan irigasi saluran air dan pelebaran induk sungai komering.


Sawah-sawah juga di tanami bibit-bibit berkualitas hingga panen melimpah ruah.



Pagi hari Sang Haruk dan Putri berjalan-jalan di perkampungan. Mereka melihat langsung bagaimana proses pembangunan berjalan sesuai harapan.


"Semoga dengan ini, rakyat jadi lebih sejahtera ya Suamiku," desis Putri lirih.


"Semoga, karena harapan seorang Raja yang utama adalah itu bukan," jawab Sang Haruk, seraya memeluk putri dari belakang. Mengelus perut yang semua ramping semakin membesar.


...THE END...

__ADS_1


__ADS_2