Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 32 Tawar-Menawar


__ADS_3

"Semoga saja Paduka tetua," ucap Patih Yoganda yang mulai merasa tenang.


Mereka mendongak lagi ke atas dan melihat Sang Haruk sudah hampir sampai ke tempat tujuannya.


"Baginda, ayo semangat!" Teriak sahabatnya Tantowi yang kini tampak gagah dengan pakaian barunya. Beliau diangkat menjadi penasehat ke 2 di kerajaan tersebut.


Sang Haruk mengacungkan jempol sebentar, kemudian memanjat lagi layaknya seekor kera.


Matahari yang mulanya sangat terik, tiba-tibanya bersembunyi di balik awan, seolah tidak ingin Sang Haruk terkena sinarnya yang masih terik di sepertiga siang itu.


Mengerti itu adalah suatu keajaiban dari Tuhan yang meridhoi nya. Sang Haruk pun segera menjatuhkan beberapa biji kelapa.


"Wah, pendapatanmu banyak Baginda!" Seru Tantowi lagi.


"Iya, demi istriku Tan. Mana parang?" Tanya Sang Haruk pada yang lain.


Setelah mendapatkan yang dia mau. Sang Haruk segera mengupas kelapa muda sebagian yang di masukan ke dalam sebuah bejana seperti ceret.


"Aku pulang!" Ucapnya berpamitan membiarkan mereka menyantap sisa yang ada.


Sesampainya di dalam kamar, Sang Haruk lagi-lagi menyaksikan Sang Putri melamun.


"Putri aku bawa sesuatu untukmu," ujarnya tiba-tiba mengejutkan putri.


"Suamiku, apa itu?" Tanya Sang Putri, saat melihat bejana di tangan Sang Haruk.


"Kesini lah!" Ajak Sang Haruk. Beliau duduk di atas kursi dipan. Lalu menuangkan air kelapa muda itu kedalam cangkir mini dari emas.


Putri Karra Sandya mendekat dan mematuhi Baginda Raja Sang Haruk yang menariknya duduk diatas pangkuan.


"Minumlah ini, aku yakin anakku sudah tidak sabar!" Ujar Sang Haruk.

__ADS_1


"Apa ini Baginda?"


"Coba saja dulu Adinda," jawab Sang Haruk.


Sang Putri tak banyak bicara lagi, lantas meneguk air kelapa muda itu dengan segera. Setelah dapat merasakannya, bola mata Putri nampak sangat bahagia.


"Terima kasih Baginda, sudah sangat lama aku menginginkannya."


Putri Karra Sandya menjatuhkan diri di pelukan Sang Haruk.


"Aku tahu itu Adinda, mengapa kau tidak bilang saja langsung dengan suamimu ini?" Cecar Sang Haruk.


"Aku malu Baginda, apa lagi akhir-akhir ini dirimu sangat lah repot dengan banyak hal," jawab Sang Putri.


"Jadi kau akan selalu diam jika menginginkan sesuatu?" Sang Haruk mengecup kening Putri.


"Bisa jadi," kekeh sang Putri.


"Ja- jangan Baginda, itu akan mengganggu konsentrasimu," larang Sang Putri.


"Tidak, aku melakukan ini untuk anakku."


Belum rampung bercakap-cakap, seseorang menyeru dari luar.


"Baginda, ada surat!"


"Masuk!" Titah Sang Haruk. Putri sudah lebih dulu lari dari pangkuannya.


"Dari siapa?" Tanya Sang Haruk, setelah pengawalnya menghadap.


"Dari Raja yang menentang Baginda, dia menawar minta perkelahian di percepat saja," jawab pengawal itu.

__ADS_1


Mendengar tantangan tersebut, Sang Haruk meminta pengawal pergi bersamanya menuju keruang Istana utama.


"Balas suratnya, aku akan menunggu kedatangan Beliau di bukit barisan malam ini juga. Sebab, aku merasa dia tengah mempermainkanku. Dengan syarat satu lawan satu tanpa melibatkan pasukan maupun penduduk sekitar," titah Sang Haruk.


"Baik Baginda," jawab sekertaris penulis Raja.


"Kau yakin akan melawannya malam ini juga Sang Haruk?' Tanya Ayahanda Anta Boga.


"Iya Ayahanda, aku yakin dia sengaja ingin merusak suasana hatiku yang tengah berencana melakukan perombakan sistem kerja para petani," jawab Sang Haruk.


"Baiklah, aku berharap kau kembali dengan selamat Baginda Kami akan menunggu kedatanganmu untuk kemakmuran Istana dan rakyat Cili Rawe," sambung Patih Yoganda.


"Aku akan berusaha Ayahanda, Eyang, Paman dan semuanya. Ini sudah menjadi tugasku mengemban tugas mulya ini," jawab Sang Haruk.


Meski bersedih harus meninggalkan Sang Putri. Sang Haruk tetap nekat berpamitan.


"Maafkan aku Adinda, mungkin butuh beberapa hari untuk aku kembali lagi. Jagalah dirimu dan anak kita baik-baik. Mintalah pada seseorang untuk mencarikannya jika kamu membutuhkan sesuatu."


Ucapan Sang Haruk, membuat air mata Putri luruh. Tapi karena itu sudah keputusan Final, Putri Karra Sandya tidak bisa berbuat apa-apa.


Pada akhirnya Ia harus turut mengantar Sang Haruk pergi untuk membuktikan siapa dia sebenarnya.


Lewat ilmu lari yang dimilikinya dari seorang resi, kini Sang Haruk telah tiba diatas bukit barisan pada malam hari dimana bulan sabit tanggal muda mulai bersinar dari ufuk timur.


Baru saja hendak duduk untuk melepas penat, tiba-tiba saja bayangan hitam muncul beterbangan di sekitarannya sambil tertawa cekikikan.


"Hahaha... Selamat Malam Sang Haruk. Aku sangat senang saat kau tiba-tiba menerima tantanganku dan malah dengan sengaja menawarkan diri untuk berperang malam ini juga," ujarnya.


"Cih, itu karena aku tidak sabar ingin menghentikan rasa penasaranmu Paduka," jawab Sang Haruk jengah.


__ADS_1


__ADS_2