
"Siapa kamu anak muda?" Tanya seseorang membuat Sang Haruk mengedarkan bola matanya ke langit-langit goa. Tapi tak ada seorang pun di sana selain ular raksasa dan kawanannya saja.
"Siapa itu?" Tanya sang Haruk balik. Tubuhnya serasa bergetar hebat. Kakinya juga bersiaga untuk melarikan diri jika ular itu tiba-tiba menyerangnya.
Untuk pertama kalinya Ia datang menantang petaka, hanya karena rasa penasarannya melihat cahaya yang begitu unik memukai pandangannya dari kejauhan. Tidak berpikir apakah itu sesuatu yang janggal atau tidak.
"Hahaha... santai saja. Aku adalah ular yang berbicara," jawab sang ular tersebut tertawa sangat seram suaranya menggelegar begitu nyaring.
"Apa? Kok bisa, apa kamu jelmaan? Kenapa ular memiliki suara seperti manusia?" Tanya Sang Haruk penuh keheranan karena itu sangatlah aneh. Ia tatap lagi kondisi gua itu juga sangat berantakan. Pasti isinya memang para jin maupun syetan.
Tanpa sempat menghindar, tiba-tiba ular itu memukulkan ekornya ke tubuh sang Haruk hingga terpelanting seperti daun yang tersapu angin.
Aaa...!
Pekik sang Haruk dengan ekspresi terkejut, tubuhnya jatuh tepat di atas tanah berpundung. Tapi anehnya lagi Ia tidak merasakan tubuhnya sakit sedikit pun.
"Jangan coba-coba mengambil cincin mutiara ini anak muda atau aku akan mematahkan tulang belulangmu sekarang juga," ancam sang ular.
Haruk mengatupkan kedua tangan, untuk meminta maaf atas jekhilafannya.
"Maafkan saya ular, sesungguhnya saya tertarik dengan sinar yang di pancar kannya," jawab Sang Haruk sambil berusaha berdiri.
Ular itu seakan malah menimpali dengan cara mengejek, Ia memberi penawaran bagus untuk sang Haruk dengan syarat yang di ajukannya.
"Kamu boleh saja memilikinya, tapi kamu harus bisa mengalahkan kawananku ini tanpa terkena racunnya, apa kamu sanggup?" Tawar Raja Ular.
"Apa?" Haruk memandangi ribuan ular kecil itu. Tapi mustahil rasanya Ia mampu mengalahkan ular-ular tersebut. Bukannya menang yang Ia mati sia-sia tersengat bisa dari racun-racun mereka.
__ADS_1
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Sang Ular, memastikan kesanggupan Haruk akan tantangannya.
Pemuda itu pun berpikir ribuan kali untuk mengiyakan. Ia harus melakukan apa agar dapat mengalahkan kawanan ular sebanyak itu hanya bermodalkan kebodohan.
sanggupi Haruk, sanggupi kamu pasti bisa mengalahkan ular-ular itu mereka. Mereka hanya seutas kapas bagimu...
Bisikan demi bisikan dalam tiupan angin seolah mendorongnya agar mau menerima tantangan.
Suara apa itu?...
Haruk benar-benar bingung tapi juga merasa penasaran hingga Ia mempertajam pendengarannya untuk memastikan jika dirinya sedang tidak berhalusinasi.
Ambilkan bambu di belakang goa ini lalu sapu kan ke tanah, dengan begitu mereka akan hancur...
Kali ini Haruk mendengarnya dengan sangat jelas, tanpa ragu Ia bergegas berlari cepat untuk mencari pohon bambu disekitaran tempat itu tepatnya di punggung goa dan mengambil yang sudah tergeletak di tanah kemudian berlari lagi ke mulut goa untuk menjawab tantangan yang di tujukan padanya.
"O ya? Luar biasa sekali ini perkataannu anak muda Baiklah anak-anakku yang paling ku sayangi cepat serang pemuda itu!" Titah Raja Ular pada kawanannya.
Dengan patuh seluruh kawanan ular itu mengepung Haruk, Pemuda itu pun memulai aksinya. Ia tidak boleh mati konyol tanpa perlawanan.
Haruk memukulkan asal bambu itu tergantung ke ular mana Ia mengayunkannya. Gerakannya sangat cepat dan ringan, Haruk sendiri tidak menyadari kejanggalan itu dalam dirinya. Yang Ia tahu ular-ular itu harus mati di tangannya tanpa memberi kesempatan mengigit.
Tak terasa Haruk sudah sampai ke dekat ular raksasa lalu menoleh untuk melihat apa yang terjadi pada para ular kecil itu. Sungguh mengejutkan, ular tersebut mati dan sirna dengan sendirinya.
"Makhluk apa itu?" Gumam Sang Haruk bingung.
Raja Ular raksasa terkekeh, Ia mendekatkan kepala besarnya itu pada sang Haruk. Bisa jadi Pemuda tersebut akan di makannya hidup-hidup saking besar mulut nya. Bahkan dua kepala manusia saja sudah di pastikan bisa masuk ke dalam sana. Di tambah ular tersebut memiliki taring yang amat tajam dan panjang.
__ADS_1
"Waw, kau luar biasa anak muda. Apa kau keturunan wali songo?" Tanya Sang ular, mengendusi tubuh sang Haruk.
"Bukan," jawab Sang Haruk yakin. Setahunya Ia hanya lahir dari seorang petani.
"O ya, tapi kenala kesaktianmu sangat luar biasa," tukas Sang Ular penuh takjub.
"Sakti?" Haruk bertanya sendiri seraya menautkan kedua alisnya yang berkerut.
"Apa, kau tidak tahu itu?" Tanya sang ular lagi.
"Tidak," jawab Haruk yakin. Pasalnya Ia sendiri tidak pernah belajar bela diri apa lagi ilmu kanuragan. Jadi mana mungkin Ia punya kesaktian seperti yang di katakan Raja ular.
"Baiklah, sepertinya kau tidak menyadari ke hebatanmu anak muda, sesuai janji aku akan menyerahkan cincin Permata merah ini padamu, tapi ingat. Kekuatannya dapat meruntuhkan gunung paling tinggi di pulau sumatera ini jadi pergunakanlah kekuatannya saat kau terdesak saja," ujar Sang Ular mewanti-wanti.
Sang Ular pun menggigit cincin itu lalu meminta Haruk menengadahkan kedua tangannya, dari atas sana sang ular menjatuhkan cincin tersebut ke telapak tangan sang Haruk tanpa menyertakan liur berbisanyam
"Satu lagi, dimana pun kamu berada jika kamu bertemu ular yang berbisa. Gunakan lah bambu untuk membunuhnya. Karena bambu dapat melumpuhkan kekuatan ular jenis apa pun tanpa perlawanan," ucap sang ular lagi mengingatkan.
Itu sebabnya bambu sangat di percaya bisa menghabisi ular hanya dengan satu kali pukulan, dan kepercayaan itu masih ada sampai sekarang.
Meski masih tidak percaya, Haruk menganggukinya. "Baiklah Raja ular, aku akan selalu mengingat pesanmu." Sang Haruk pun pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan. Masih banyak hal yang harus di laku kannya terutama mencari cara memenangkan hati Raja dan memperistri sang putri Karra Sandya.
Walaupun tidak terlalu berharap menikahi Putri akan menjadikannya Raja di pulau Sumatera sesuai janji Raja. Karena baginya dapat menikahi Putri adalah keberkahan tersendiri yang tiada duanya.
Menjelajah hutan demi hutan, Haruk mendapat banyak pelajaran penting. Ia juga jadi banyak mengerti tentang sendi kehidupan. Mengamati juga bagaimana para penduduk menolak kehadirannya karena di anggap hanya lah sebuah sampah semata. Namun di balik suka dukanya itu, di sinilah Ia menjadi semakin kuat dan tangkas dalam menghadapi situasi apa pun.
Haruk juga mendapat kan banyak pengalaman berharga, dengan menjumpai seperti apa keindahan hutan dari yang satu ke hutan berikutnya. Rata-rata memang hutan itu masih sangat rimba dan mengerikan karena jarangnya orang yang melintas atau sekedar masuk untuk mencari kayu bakar.
__ADS_1