Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 22 Pertemuan Alam Mimpi


__ADS_3

Begitu banyaknya rencana yang tengah di bahas oleh Sang Raja dan para petinggi kerajaan, Sang Putri pun keluar kamar untuk memetik buah ketenangan yang tumbuh di pekarangan.


Kata orang tua buah mirip jeruk masak itu akan membuat yang menyantapnya mendapatkan kedamaian hati dan Putri sudah sering memakannya.


"Adinda apa itu?"


Putri terkejut mendengar suara Sang suami tercinta yang sudah berdiri di belakangnya.


"Baginda, apa rapatnya telah usai?"


Putri mengurungkan niat mengambil buah tersebut dan masuk ke pelukan Sang Haruk.


Pelukan Sang Raja rupanya tak bisa dianggap enteng. Ketenangan batin yang di dapatkan mengalahkan segalanya bagi sang Putri.


"Sudah," jawab Sang Haruk.


Sesaat mata putri langsung sembab. Ia takut jika Suaminya harus menghadapi peperangan besar.


"Aku takut Baginda, bukankah aku tengah hamil muda, tega kah Baginda meninggalkan Adinda seorang diri disini."



Sang Haruk tersenyum, sesaat mengecup lembut kening Sang Putri.


"Adinda, ini adalah peperangan pertama bagi suamimu ini untuk membuktikan kemampuannya. Aku pun sama tak sanggup harus pergi dalam kondisi seperti ini. Tapi percayalah Aku akan kembali untuk melihat anak kita lahir ke dunia," ujar Sang Haruk.


Sang Putri Karra Sandya memeluk sebelah tangannya, lalu meneteskan air mata. Meski berat, apa yang dikatakan Sang Haruk benar adanya.


Malam hari telah tiba, Sang Haruk dan Putri tengah tertidur pulas. Sebuah cahaya datang ke kamar Sang Haruk untuk membawa rohnya pergi dari tempat itu.


Sang Haruk yang kebingungan heran, berada di tempat yang sangat asing baginya. Ia melihat pria tua berdiri dengan posisi membelakangi sembari memegangi tongkatnya.


"Siapa kamu? Mengapa membawaku pergi?" Tanya Sang Haruk, kesal.


Pria tua itu terbahak-bahak. Dan suara itu tidaklah aneh bagi Sang Haruk.


"Katakan apa maksudmu Pak tua? Mengapa aku seperti diatas Awan?" Tanya Sang Haruk lagi mengedarkan tatapannya di antara gumpalan asap putih yang beterbangan.


"Alam keabadian, alam dimana hanya orang terpilih yang bisa masuk ketempat ini," jawab Pria tua bertongkat tersebut.

__ADS_1


Ia memutar tubuhnya menghadap Sang Haruk membuat kedua bola mata Sang Haruk terbuka sangat lebar.


"Kakek tua?" Seloroh Sang Haruk.


Mengingat beberapa kali pria itu selalu datang menjadi penyelamat dalam hidupnya hingga Ia mendapatkan kedudukan mulya.


"Hm, Sang Haruk apa kau lupa? Aku sudah berjanji untuk bertemu lagi denganmu secara langsung setelah kau berhasil. Dan sekarang aku melihat pakaian kebesaranmu di depan mataku sungguh itu suatu ke ajaiban."


Kakek tua menceritakan sebuah kisah yang terdahulu. Sebenarnya Ia adalah salah satu resi di Istana langit akan tetapi di hukum akan suatu sebab hingga terpaksa hidup di bumi.


Sampai bertemu seseorang yang di percaya akan datang menyelamatkannya yaitu dengan cara menyembelih seekor Anjing hitam dan Kucing Hitam di bawah pohon beringin dengan besi yang di berikan Kepadanya oleh Raja istana langit.


Dimana di sana jiwanya terikat oleh sebuah rantai api. Persembelihan itu adalah terputusnya hukuman yang terjadi selama ratusan tahun silam.


"Tapi kenapa ragamu berkeliaran hingga bertemu saya Kakek tua?" Sang Haruk penasaran.


"Saya melakukan sihir seseorang yang menyerupai saya, untuk di perintah mencari orang terpilih itu."


Sang Haruk mencoba mencerna perkataan Kakek tua. Memang benar wajah pria tua itu kini telah bersinar bagaikan cahaya rembulan bahkan lebih terang dua kali lipat dengan pakaian jubah serba putih yang melekat.


"Lalu apa maksud Kakek dengan ini?" Sang Haruk mengulang pertanyaan yang belum terjawab di awal.


Sang Haruk tertegun. "Cincin?"


"Benar, Cincin itu kekuatannya luar biasa, kamu perlu tenaga dalam untuk mengendalikannya atau kamu yang akan di kendalikan oleh Cincin itu."


Penjelasan Sang Kakek cukup masuk akal, sebab Eyang Kala Wijaya mengatakan hal serupa.


"Oya kalau begitu aku juga ingin mengetahui kegunaan jimat ini?" Tunjuk nya pada kain hitam yang melingkar di tangan dalam benang warna-warni sebanyak 7 helai.


"Hahaha... baiklah biar kuberi tahu!" Kakek tua mengusap janggut yang tiba-tiba muncul di dagunya.


Sang Haruk sempat melongo dan mempertajam pandangannya.


"Itu, kenapa tiba-tiba ada?" Sang Haruk garuk-garuk kepala.


"Janggut ini sebenarnya memang ada, hanya saja aku menyembunyikannya dari bocah tolol macam kamu supaya ingat denganku Sang Haruk...," gelak Kakek tua sebut saja Kakek Sangkesana.


"Hehehe... baru dua hari yang lalu aku paseh membaca. Maklumin ya Kek," balas Sang Haruk.

__ADS_1


Kakek pun menyemburkan asap ke tubuh Sang Haruk yang membawanya terbang dan terbangun dari alam mimpi.


"Kakek, To- Tolong?" Pekik Sang Haruk.


Pemuda itu menoleh ke arah Putri yang turut tersentak. Wanita itu menyerahkan satu gelas minuman yang ada di atas meja.


"Minumlah suamiku, apa yang membuat dirimu berkeringat dingin?" Lirih Sang Putri.


Sang Haruk meneguk air itu sampai tandan lalu menjawab apa yang di rasakan nya.


"Aku bertemu dengan Kakek-Kakek yang selama petualangaku selalu datang menolong. Beliau ingin aku bertapa di goa bukit barisan Adinda," ucap Sang Haruk.


Perkataan itu lagi-lagi mengubah wajah lesu itu melelehkan air mata.


"Itu artinya semua adalah pesan Baginda. Mimpi seorang Raja sangat berpengaruh pada kehidupan di masa depan. Jika di haruskan maka Baginda harus pergi," jawab Sang Putri.


Sang Haruk tidak langsung menjawab. Ia butuh waktu untuk meninggalkan sang Putri saat ini. Belum lagi berlanjut terjadinya sebuah peperangan. Pasti mereka akan terpisah sangat lama.


"Biar nanti aku pikirkan, sekarang ayo tidur lagi!"


Sang Haruk dan Sang Putri merebahkan tubuh mereka. Namun sayang mimpi itu membuat pikiran Sang Haruk berkelana sehingga Ia tidak bisa memejamkan matanya sampai pagi menjelang.


Belum juga selesai sarapan pagi, seorang emban menghadap. Ia menyampaikan prajurit pembawa pesan jika ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Maaf Baginda dan Sang Putri, hamba datang untuk memberitahukan jikalau Seseorang memaksa bertemu Baginda. Beliau masih ada di depan gerbang.


"Siapa suamiku?" Tanya Putri Karra Sandya.


Sang Haruk menggeleng kecil. Lalu Ia memerintah emban membiarkan orang tersebut menunggunya di ruang istana.


"Sampaikan padanya aku menunggu!" Titah Sang Haruk.


"Baik Baginda, akan hamba sampaikan dengan segera."


Emban itu keluar dari kamar, dan tukar mengatakan apa perintah Raja pada prajurit pembawa pesan hingga sampai ke istana lagi.


"Silakan masuk, Raja menunggumu!" Ucap salah seorang prajurit.


Pemuda itu pun mengangguk dan bergegas masuk. Tidak sabar rasanya bertemu kawan lama.

__ADS_1


Bola mata Tantowi berbinar kala melihat sahabatnya telah duduk dengan gagahnya di singgasana besar.


__ADS_2