Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 21 Kabar Bahagia


__ADS_3

Sang Haruk menggendong Putri sampai ke kamar dan merebahkan bobot tubuh sang Putri dengan hati-hati.


Terlukis jelas bagaimana wajah Sang Haruk sangat khawatir akan kondisi yang terjadi pada Sang Putri.


"Istriku bangunlah, ada apa denganmu?"


Sang Haruk menggoyang-goyang tubuh Sang Putri, sesekali mengusap keningnya yang berkeringat.


"Istriku, ayo bangun. Jangan membuat aku merasa gelisah!' Pinta Sang Haruk berulang kali.


Melihat cinta yang begitu besar, Ayahanda Anta Boga dan Sang Permaisuri semakin yakin. Jika Sang Haruk bisa menjaga Sang Putri.


Tak lama Patih Yoganda datang bersama seorang tabib perempuan yang membawa buntalan besar di dalam sebuah kain segi empat.


"Kami menghadap Baginda, Nyai Gandari seorang tabib dari Wai Halom sudah datang untuk memeriksa keadaan Putri," ujar Patih Yoganda.


Sang Haruk pun beranjak dan mempersilakan Tabib tersebut untuk mengobati Putri.


Mereka melihat Nyai Gandari membuka bejana yang terbuat dari batu lalu menumbuk daun kemangi sampai halus. Selang beberapa waktu hasil tumbukan itu telah menempel di dahi Putri.


"Apa itu?" Tanya Sang Haruk.


"Tuan Putri Karra Sandya tengah sakit Baginda Raja, suhu tubuhnya lumayan tinggi. Daun kemangi sangat berkhasiat menurunkan demam Sang Putri," jawab Nyai Gandari.


Perempuan sekitar setengah abad itu beralih memeriksa denyut nadi dan jantung Putri, sepertinya Ia sudah dapat menebak yang yang telah terjadi pada Istri Raja tersebut.


"Syukurlah ini berita bahagia Baginda," ujar Nyai Gandari lagi membuat kening Sang Haruk mengkerut.


"Berita bahagia? Apa itu Nyai?"


Sang Haruk tidak sabar mau mendengar langsung maksud dari perkataan itu.


"Sebenarnya Putri tengah mengandung," jawab Nyai Gandari.


"Benarkah itu Nyai?"


Rona mata pemuda yang kini nampak mulai berotot itu hampir tak percaya. Sebentar lagi Ia akan menjadi seorang Ayah dalam waktu yang cukup singkat.


Biasanya sebagian orang ada yang harus bersabar menunggu tahun demi tahun agar dapat merasakan memiliki momongan.


"Benar Baginda, itu sebabnya hormonal Putri sedang menurun. Nanti jika Beliau bangun, segera minum kan ini untuk memulihkan tenaganya."

__ADS_1


Nyai Gandari menyerahkan sebotol obat herbal yang di bawanya dari rumah. Nyai Gandari sangat terkenal di daerah itu karena kepandaiannya dalam meracik obat.


"Baik Nyai, terima kasih banyak."


Sang Haruk tak henti-hentikan memanjatkan syukur akan anugerah yang Tuhan berikan kepadanya. Mulai hari ini Sang Haruk ingin menjaga Putri lebih ketat lagi.


"Kita akan menjadi Kakek dan Nenek, Kang Mas Anta Boga," seloroh permaisuri.


"Benar permaisuri, semoga saja ini awal yang baik untuk kerajaan Cili Rawe."


Sejak saat itu, Sang Haruk yang benar-benar sudah mahir bermain pedang dan keterampilan membaca dan menulis mengurangi jadwal latihannya.


Ia lebih fokus untuk menjaga Putri sampai waktunya nanti melahirkan. Beruntung belum ada hal yang berpengaruh pesat di masa pemerintahannya.


Dengan Kasih sayang dan perhatian, Sang Haruk lebih sering menggendong Putri dari pada membiarkannya berjalan jauh.


Sebab taman kaputren dan tempat utama memiliki jarak yang lumayan jauh tempatnya.


"Turunkan aku Baginda Raja mengapa kau lebih sering melakukan ini padaku? Bukankah aku masih sanggup untuk berjalan?"


"Tak apa, aku senang melakukannya. Bahkan aku sangat ingin melakukannya setiap waktu," jawab Sang Haruk.



"Hahaha... aku sudah terbiasa berpetualang jauh Adinda, jangan ragukan kemampuanku," balas Sang Haruk. Menatap dalam manik mata istri tercintanya.


Mereka berdua duduk di Pesanggrahan menikmati keromantisan yang masih terus melingkupi rumah tangga yang baru beberapa bulan berjalan itu.


Sang Haruk bahkan tak pernah bisa bosan mengusap-usap perut Sang istri sambil mengajak bicara janin yang di yakini mendengar suaranya.


"Anakku Sayang tumbuhlah menjadi orang yang hebat, kelak Ayahanda akan membutuhkan ke didakyaanmu," bisik Sang Haruk.


"Apa? Jadi Baginda berencana menjadikan Anak kita pendekar begitu?" Sang Putri mencebik kan bibir.


"Memangnya kenapa Adinda, bukankah itu keren?"


"Tidak, bagaimana kalau anak kita perempuan Baginda?" Tanya Putri Karra Sandya.


Sang Haruk terkekeh, Ia mencubit pipi Putri saking gemasnya dengan kelakuan Sang Putri.


"Apa perempuan tidak boleh menjadi pendekar?" Tanya Sang Haruk balik.

__ADS_1


Kedua matanya menatap sekitaran taman dan melihat seorang panglima berlari ke arahnya, maka terputuslah obrolan mereka.


"Maaf Sang Raja, kedatangan hamba kemari ada sesuatu yang penting," ucap Panglima Galiska seraya berlutut.


"Apa itu?" Tanya Sang Haruk.


"Raja Balang Bala mengirimkan surat undangan untuk Raja yang isinya adalah mereka ingin menantang Raja berperang?"


Sang Haruk meneguk salivanya.


"Baiklah mari kita bahas ini di aula."


Sang Haruk kembali mengantar Sang Putri ke kamar untuk beristirahat sedang Sang Haruk berkumpul bersama yang lain untuk membahas apa yang harus di lakukan.


Akankah mereka menerima tantangan itu dan berani berlumur darah atau hanya akan menyerah dan di cap sebagai kerajaan yang lemah gara-gara Raja baru penakut.


"Sang Raja, sebaiknya kita kirim mata-mata dulu untuk mengawasi Kerajaan Balang Bala di perbatasan sekitar bukit barisan, Kerajaan itu berdiri di bawah naungan Raja Balenglo yang terkenal akan kelicikannya," tukas Patih Yoganda.


"Benar Sang Raja, supaya kita mengetahui kekuatan lawan yang besar itu dengan solusi yang tepat," sambung Paman Werangan sebagai penasehat Raja.


"Baiklah aku setuju, tapi ingat jangan sampai kita kecolongan sehingga mereka memasuki wilayah kita dan menghancurkan kehidupan penduduk setempat. Bahwa melindungi mereka lebih penting dari segalanya," jawab Sang Haruk.


Mereka pun mengangguk kompak.


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan para Kyai dari pondok Al Husna," timpal Ayahanda Anta Boga.


Beliau sangat tahu kemampuan dari para guru disana sangatlah kuat karena mereka menggunakan kekuatan tak kasat mata yang Ayahanda Boga sendiri pun tidak tahu dari mana.


Yang pasti mereka pernah melihat sendiri waktu sekelompok dedemit menyerang perkampungan. Kyai Muktar melantunkan sebuah bacaan hingga dedemit itu lebur bagaikan debu.


"Baik Ayahanda, aku ingin Paman Yoganda sendiri yang ke sana sebagai bentuk penghormatan kita," jawab Sang Haruk.


"Saya siap melaksanakan tugas Yang Mulya."


Patih Yoganda segera berangkat ke tempat tujuan dengan di temani beberapa ahli pedang istana.


Mengetahui Sang Raja akan berperang, hati Putri Karra Sandya dirundung gelisah. Mustahil Ia sanggup melepas Sang Raja dalam kondisi hamil seperti sekarang.


"Suamiku, mengapa perasaanku jadi berdenyur terus menerus. Padahal perang saja belum di mulai. Ini hanya baru sebuah tantangan semata yang ingin menguji kehebatan kemampuanmu semata."


Mereka menganggap Sang Haruk lemah, karena tidak memiliki kemampuan apa-apa dan kesempatan itu di manfaatkan mereka untuk mengecoh lalu menguasai kerajaan Cili Rawe.

__ADS_1


__ADS_2