
Singkatnya, setelah semua mendapat modal sendiri-sendiri Raja membebaskan mereka mengembara kemana pun mereka pergi dan harus kembali dalam 40 hari dengan peruntungan berlipat-lipat ganda tanpa tau menahu rintangan apa yang akan mereka hadapi. Jika sebaliknya bila para pangeran itu merugi maka jerih payah mereka tidak akan masuk ke dalam perhitungan.
Maka berangkatlah para pangeran itu ke negara mereka hingga keluar negeri demi mendapatkan hati Sang Putri dan menjadi Raja di sebuah istana termasyur di belahan dunia itu dengan segala upaya. Siapa yang sudi menyiakan kesempatan memimpin ratusan bahkan jutaan penduduk yang akan tunduk padaknya.
Mereka bahkan membawa pengumudi untuk menaungi keberangkatan mereka. Karena para pangeran itu yakin bahwa kepergian mereka itu akan dapat memuaskan Raja Anta boga nantinya. Lalu bisa berkuasa dan di hormati di seluruh negeri dimana saja mereka berlabuh.
Yang lain pergi dengan kendaraan udara, Haruk hanya berjalan kaki melewati hutan belantara tanpa arah tujuan. Ia cuma mengikuti kemana hati nurani membawa dirinya pergi tanpa berharap ada keajaiban yang akan menyelubunginya. Pikiran Haruk cemas dan gelisah karena sepertinya tidak akan ada harapan itu di depan mata.
Bahkan perjalanan Haruk tidaklah mudah, lapar dan haus terus di tahannya untuk menjaga agar uang logam yang di bawa dari Sang Raja tetap terjaga sampai benar-benar di butuhkan pada saatnya nanti.
Cukup jauh berjalan, Haruk memutuskan berteduh sejenak di bawah pohon. Namun tidak berapa lama pemuda tersebut melihat kelinci terkena pinja yang di pasang seseorang untuk menjerat hasil buruan.
Memiliki naluri rasa kasihan, Haruk segera menolong kelinci itu dari jeratan dan melepaskannya dengan segera. Tanpa berpikir kalau Ia telah melakukan sebuah kesalahan.
"Woy, buruanku!" Teriak seorang pria bertubuh gemuk sambil membawa kayu bakar berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah merah padam.
Haruk menjadi sangat panik, tapi Ia harus menjelaskan bahwasannya kelinci itu berhak hidup sebebas-bebasnya.
"Maaf Tuan, sa- saya tidak tega," tilas Sang Haruk sembari menundukkan kepalanya.
"Dasar bodoh, kau pikir cari makan di jaman sekarang ini mudah. Beraninya kau mencampuri urusanku. Sini kau biar kutebas batang lehermu itu," ancam pria gemuk itu melotot tajam.
"Ja- jangan Tuan, saya benar-benar tidak sengaja," mohon sang Haruk lagi meminta belas kasihan.
Ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan serupa jika menemukan hal semacam ini di kemudian hari.
__ADS_1
Sadar juga kalau Ia memang sudah melakukan kesalahan dengan cara menghalangi rezeki orang lain. Namun sayangnya semua sudah terlambat karena orang itu tak menerima alasan Sang Haruk.
"Cih bedebah, awas kau!" Decih ria tersebut menunjuk wajah Sang Haruk.
Ia meraih parang panjang di atas kayu bakarnya tadi lalu
Ia hendak mengayunkan parang layangnya ke arah Sang Haruk. Tak ingin mati konyol dan tak punya pilihan lain selain kabur, Sang Haruk pun melarikan diri dari kejaran pria gemuk itu dengan sangat cepat dan histeris.
"Ampun Tuan, ampun saya khilaf Tuan!" Ucapnya ketakutan, meminta pria itu berhenti saja menyerangnya karena Ia tak punya ke ahlian apa pun untuk membela dan melindungi dirinya sendiri.
Pria tua itu terkejut tiba-tiba mendapati Sang Haruk bisa berlari kencang bagaikan tiupan angin topan yang entah sejak kapan menghilang dari pandangannya.
"Wah, dia itu manusia apa siluman ya, hih...?" gumam orang itu begidik ngeri.
Sedang Haruk baru berhenti setelah merasa aman, Ia memegangi lututnya sambil bernafas lega.
"Untung saja cepat kabur, jika tidak habislah aku olehnya," ucap sang Haruk seorang diri, sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan keselamatannya.
Merasa aman, Haruk mencari tempat duduk yang sangat nyaman, akan tetapi urung. Karena tak lama kemudian, suara gemericik air di dasar jurang seolah memanggil pendengarannya. Itu berarti Haruk harus minum dan mandi agar merasa lebih bugar.
"Wah, beruntung sekali ada mata air. Coba kulihat?" Ucap Sang Haruk lagi. Pemuda itu segera mencari dimana sumber suara berasal.
Dengan langkah hati-hati Haruk menuruni anak tangga dan menemukan air jernih di sekitaran tempat bebatuan itu. Haruk berpendapat, belum pernah ada orang yang kesana sama sekali karena tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan yang pernah melintasinya.
"Alhamdulilah, airnya menggoda sekali!" Seru Sang Haruk setengah berteriak penuh takjub hingga suaranya berpantulan.
__ADS_1
"Putri Karra Sandya...!" Ulang nya lagi, seperti keseruan yang menyenangkan bisa mendengar suara yang dikeluarkannya tengah ada di atas tebing setinggi sekitar sepuluh meter itu.
"Uhuy asyik ni, semoga saja panggilanku sampai ke hati putri," gumam Sang Haruk. Lekas Ia melepas pakaiannya dan melompat ke sungai lalu mandi sepuasnya.
Hebatnya lagi air itu ternyata tidak terlalu dingin dan sangat sejuk. Haruk ingin berlama-lama di dalamnya dan melupakan rasa lapar yang menyerang.
Namun karena harus melanjutkan misi, Haruk segera naik dan memakai pakaiannya lagi. Tapi belum juga sempat beranjak dari tempatnya, di kejauhan Ia melihat sebuah benda berkilauan di bawah sebuah gowa di pangkal sungai hingga menarik rasa penasarannya.
"Apa itu, apa aku perlu kesana?" Pikir Sang Haruk dalam hati.
Lama mondar-mandir antara melihat atau pergi, kaki Haruk seolah di seret sesuatu untuk mendekat. Ia melihat sebuah cincin di atas sebuah becana emas yang di lilit Seekor ular raksasa di sekitarnya.
"Cincin apa itu?" Lirih sang Haruk. Setelah memastikan ular itu tidur, Ia berencana mengambil cincin tersebut dengan perlahan-lahan.
Namun baru beberapa langkah kakinya tertahan, Haruk di kaget kan oleh ribuan anak ular yang tiba-tiba datang menyerangnya secara bergerombol.
"Astaga, apa itu?" Pekik Sang Haruk seraya berjalan mundur. Suara nyaring nya telah berhasil membangunkan ular raksasa yang mendekat pada Sang Haruk.
Ular Piton Raksasa yang baru pertama kali di lihat Sang Haruk itu sangat mengerikan Ia bisa melahap Sang Haruk tanpa pengampunan dan sudah di pastikan Sang Haruk akan mati konyol di buatnya.
Sungguh ciptaan Tuhan sangat luar biasa, Haruk akhirnya melihat kebenaran tentang adanya Ular yang besar dan mengerikan itu. Dimana dulu Ia sering mendengar perbincangan hangat penduduk setempat ada orang yang mati di telan ular.
Entah itu berita nyata atau tidak, tapi jika sudah melihat sendiri mana mungkin Haruk menyangkal berita yang beredar luas. Pasti masih ada banyak ular-ular yang lebih besar lagi dari ular yang kini ada di hadapannya.
Tubuh Sang Haruk sendiri sudah panas dingin dan gemeteran di tempat. Untuk bergerak rasanya saja sangatlah berat.
__ADS_1