
"Baginda Raja tolong pikirkan baik-baik keputusan Baginda. Kemakmuran kami ada di tangan Baginda sekarang!" Teriak para penduduk meramaikan seisi aula.
"Harap tenang rakyatku, Aku pun tengah memikirkan kondisi kalian?" Jawab Raja Anta Boga.
"Terima kasih Baginda, kami hanya takut jika kami akan di jajah oleh Raja kami sendiri," teriak mereka lagi saling bersahutan.
Hati Baginda Raja sampai terenyuh melihatnya. Ia juga sebenarnya tidak ingin melakukan kesalahan atas pilihannya. Tapi mau bagaimana lagi, karena itu sudah menjadi sejarah turun temurun keluarga kerajaan cili Rawe bahwa anak atau menantu laki-laki akan menggantikan posisi Raja setelah 25 tahun memimpin.
Raja Anta Boga sendiri dan istri sudah di pastikan akan hijrah ke suatu tempat untuk pensiun dari keistanaan.
Raja Anta Boga pun mulai beranjak dari duduknya berdiri tepat si depan Sang Haruk berada. Kemudian mengitari tatapannya pada seluruh para Pangeran dan Rakyat jelata yang selama ini sangat setia kepadanya.
"Para pangeran sayembara dan Rakyatku maafkan lah daku jika pilihan ini suatu saat menyengsarakan kalian. Tapi sungguh aku tidak menginginkan apa pun selain ketentraman kalian."
Seluruh orang yang ada di sana pun sejenak hening bagaikan tak bernyawa. Perasaan khawatir akan pemerintahan yang baru takut membuat mereka tak bisa tidur nyenyak kelak.
"Putriku kemari lah!" Titah Raja pada Putri Karra Sandya.
Gadis itu pun berdiri dan mendekati sang Ayah.
"Maafkan Ayahanda jika sekiranya pilihan Ayahanda ini kelak akan membuatmu menderita," ucap Sang Raja dengan wajah sedih.
Sang Putri mengangguk hormat. "Ayahanda, ananda percaya Ayahanda sangat tahu yang terbaik buat Ananda," jawab Sang Putri.
"Baiklah, kalau begitu dengan berat hati saya akan menyampaikan pesan ini dengan segera bahwa yang akan terpilih menjadi Suami Putri Karra Sandya dan Raja generasi ke 7 adalah...?"
Perasaan tak menentu dan tegang menghiasi suasana keraton. Mereka merasa pilihan ini amat sangat menakutkan untuk mereka.
"Berdasarkan bukti yang ada, aku memutuskan mengangkat Sang Haruk sebagai pemenangnya," Lanjut Raja lagi membuat tempat itu mendadak ricuh.
Sedangkan Sang Haruk yang masih duduk berlutut hampir pingsan karenanya. Ia menganggap itu hanya ilusi seperti yang pernah si Kakek tua lakukan padanya.
__ADS_1
"Baginda apa ini tidak salah?" Protes Raden Aditya.
"Benar Raja bagaimana mungkin seorang buta huruf bisa menjadi Raja Cili Rawe. Bukankah itu akan menjadi mala petaka," imbuh Raden Pampangkasan.
"Maafkan saya para pangeran, tapi sesungguhnya saya melihat kejujuran di diri Sang Haruk. Emas dan Mutiara yang di bawanya juga 100 persen asli selain itu keuntungan yang di dapatnya berpuluh-puluh kali lipat dari yang kalian dapatkan," jawab Sang Raja dengan tegas.
Karena merasa kecewa para Pangeran pun memutuskan meninggalkan istana sebelum acara di bubur kan. Namun tidak dengan Rakyat jelata. Mereka ingin menunggu proses pernikahan Sang Haruk dan Putri Karra Sandya.
Meski belum sepenuhnya percaya, dengan hikmat dan perasaan bahagia, Sang Haruk segera melakukan pengikraran janji suci pada Putri sampai selesai.
Setelah pernikahan itu, Raja pun menyampaikan lagi jika peresmian pengangkatan Raja agar di lakukan besok siang, sehingga seluruh Rakyat di minta hadir untuk menjadi saksi pengesahan tersebut.
Mendengar titah sang Raja, Para penduduk pun pulang kerumah masing-masing. Mereka akan bersiap lagi untuk datang memenuhi undangan Raja yang terjadi secara lisan di hadapan mereka.
Setelah itu, Sang Haruk di giring ke sebuah kamar kaputra untuk bermalam di sana. Ia harus di suci kan terlebih dahulu sebelum menyentuh putri Karra Sandya.
"Silahkan istirahat Pangeran, anda pasti lelah. Sebentar lagi jamuan makan malam akan segera diantar kemari!" Titah Seorang pengawal pria.
Tinggal seorang diri, pemuda itu seperti orang gila. Dia senyum-senyum sendiri saking bahagianya ada di tempat yang sangat mewah. Bahkan Sang Haruk tidak pernah bermimpi sekali pun berada di tempat itu.
"Ya Allah, apa aku sedang bermimpi. Jika iya ku mohon biarkan ini terjadi lebih lama lagi," ujar Sang Haruk seorang diri.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar sebuah ketukan pintu, tak lama muncul beberapa emban membawakan banyak hidangan lezat untuk Sang Haruk.
"Selamat malam pangeran, kami di titah Sang Raja untuk mengantar makan malam!" Tukas salah seorangnya.
"Oh iya terima kasih," jawab Sang Haruk lagi.
Para emban itu pun menyajikan semua hidangan di atas meja dan menunggui Sang Haruk untuk makan di sana.
__ADS_1
"Silakan duduk Pangeran!" Ucap mereka lagi membuat Haruk merasa gugup. Akan tetapi Ia pun mengikuti arahan mereka.
Sang Haruk masih diam dan menatap bingung karena para emban tak kunjung keluar dan itu terasa singkuh untuknya.
"A- apa kalian harus menungguku?" Tanya Sang Haruk.
"Iya Pangeran, kami takut Pangeran membutuhkan sesuatu," jawab salah satu dari mereka.
"Oh tidak perlu, ini sudah lebih dari cukup. Jika boleh izinkan aku makan seorang diri sahaja disini," pinta Sang Haruk seraya tersenyum.
"Kalau begitu, baiklah. Kamu akan kembali sebentar lagi," jawab Mereka bersamaan.
Para emban yang masih sangat muda itu pun segera keluar meninggalkan sang Haruk yang masih ragu untuk memulai menyantap Makanan lezat di depannya.
Sang Haruk takut, jika setelah makan Ia malah di hukum pancung karena emas dan mutiara tadi benar-benar berubah menjadi daun.
Meski lapar dan haus mendera kerongkongan Sang Haruk, nafsu makanya seolah memudar. Sebab dia juga pernah dengar orang yang akan di pancung hukuman mati biasanya akan di beri makanan enak seperti yang ada di depannya dan itu sungguh sangat ngeri bagi Sang haruk.
Lama termenung, dengan tangan bergetar sang Haruk pun hanya mengisi penampan emas di depannya dengan nasi dan lauk pauk yang tidak terlalu banyak.
Ia menyantapnya bulat-bulat walaupun terkadang seakan masih nyangkut di leher.
"Ya Allah, apa ini akhir dari hidupku?" gumam Sang Haruk lagi cemas.
Keringat dingin dan jantung berdebar serasa mematikan persendihan Sang Haruk. Pemuda itu hilang kewarasan takut mati tanpa ada yang bisa menolongnya.
Karena tak ingin berpikir buruk, Sang Haruk pun memutuskan menyantap paksa seluruh isi makanan di setiap wadah sampai habis.
"Baiklah jika aku harus mati besok, maka sebaiknya aku menghabiskan makanan lezat ini untuk pertama dan terakhir kalinya di dalam hidupku," ujar Sang Haruk seperti kesetanan.
Ia melalap satu ekor ayam goreng dalam sekejap tanpa sisa diiringi nafas yang menderu tak karuan. Sungguh kenapa ada di tempat itu mengapa rasanya berada di dalam penjara ambang kematian yang akan merenggut nyawanya dalam waktu singkat.
__ADS_1