Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 27 Wujud


__ADS_3

Deru angin terdengar menyeru kian kencang. Sepertinya akan ada badai yang segera datang. Sedang suara-suara lirih tadi menghilang entah kemana seakan tersapu oleh daun-daun yang berterbangan.


Tepat Fajar menyingsing, di atas langit-langit goa tiba-tiba saja muncul cahaya yang sangat terang hingga membuat pantulannya menembus ke bola mata Sang Haruk hingga membuatnya terpaksa membuka mata.


"Selamat pagi Baginda Raja Sang Haruk, apa semuanya berjalan lancar?" Sapa Kakek Sangkesana.


Pemuda tersebut menundukkan kan kepala sebagai bentuk penghormatan. Ia kemudian beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Kakek tua tersebut.


"Wahai Kakek, maafkan lah aku sekiranya jika aku telah melanggar perintahmu. Sebab cahaya yang datang membuatku sangat terkejut," Ujar Sang Haruk.


Kakek Sangkesana hanya tersenyum, kemudian beliau memperlihatkan pada Sang Haruk kalau cincin mutiara nya telah bersinar terang. Itu artinya pertapaan Sang Haruk telah usai.


"Kau sudah berhasil menjalankan tugasmu anak muda. Akan tetapi aku harus menyampaikan berita jika nanti akan ada yang menghambat perjalanan pulangmu bertemu Sang Istri."


"Apa itu?" Sang Haruk tidak sabar bertemu Putri, rindunya seakan sudah membumbung tinggi.

__ADS_1


"Mereka dari bangsa siluman, ingat lah untuk tetap menjaga mata batinmu agar nanti kau tidak terpikat dengan rayuan mereka," tilas Kakek Sangkesana.


"Apakah mereka siluman wanita?" Tebak Sang Haruk.


Kakek Sangkesana membenarkan, pasalnya para siluman itu sangat menginginkan Sang Haruk menjadi suami mereka.


"Baik Kek, saya akan berusaha mengingat pesan Kakek jika benar adanya. Kalau begitu saya pamit undur diri!" Sang Haruk menundukkan kembali kepalanya dan segera turun ke kaki bukit dimana Si Putih telah menunggunya.


Meski masih agak gelap gulita, Sang Haruk tetap nekat menyusuri hutan rimba tanpa peduli apa pun juga berharap sampai ke istana sesegera mungkin.


Sialnya jaring tersebut beraroma sangat wangi sehingga membuat Sang Haruk hilang setengah kesadarannya.


Masih terdengar jelas oleh Sang Haruk, mereka tertawa. memuji ketampanannya. Itu berarti yang di maksud Kakek Sangkena adalah orang-orang itu.


"Wah, tampan sekali dia. Biar aku saja yang menjadi istrinya Ayunda?" Tawar salah seorangnya.

__ADS_1


"Enak saja, aku adalah Kakak yang tertua. Itu artinya Baginda Raja akan lebih lama denganku," sanggah seorang lagi. Kedengarannya suara perempuan itu sangat judes orangnya.


"Tapi Ayunda, kita kan mendapatkannya bersama-sama. Masak iya Ayunda tidak membagi secara adil. Alangkah baiknya kita nikmati bersama-sama?" Ucap seorang lagi.


Lama saling diam, Kakak yang tertua akhirnya setuju. Mereka boleh menikmati tubuh Sang Haruk bersama-sama setelah tiba di istana mereka.


"Ya sudah, cepat bawa dia ke Istana agar dia tidak bisa keluar lagi ke dunia manusia!" Titah Kakak Tertua.


Mendengar itu, Sang Haruk yang merasakan seluruh tubuhnya sakit semua pun langsung duduk bersila dan merubah diri menjadi seekor katak yang menjijikkan.


"Ya ampun Ayunda, apa kau sudah salah mencium aroma manusia yang berasal dari bangsawan. Kenapa malah jadi Katak yang menggelikan," protes salah seorang dari mereka.


"Apa maksudmu Dinda, aku tahu betul seperti apa aroma tubuh dari seorang Raja," ucap Kakak tertua tak terima.


"Ya sudah, kesini Ayunda dan buktikan sendiri kebenarannya," jawab mereka berbarengan.

__ADS_1


__ADS_2