Sang Haruk (Yatim Piatu)

Sang Haruk (Yatim Piatu)
Bab 28 Pemalak Pajak


__ADS_3

Kakak tertua itu pun mendekat dan langsung memekik nyaring. Tak di sangka apa yang di katakan oleh adik-adiknya itu benar adanya.


"Ih, bagaimana mungkin bisa begini? Aroma seorang Raja berganti menjadi aroma amis yang luar biasa," ucapnya kesal.


"Ehemz...!" Sang Haruk berdehem. Pemuda itu menyandar di sebuah batang pohon tak jauh dari tempat mereka berdiri sambil tersenyum manis.


"Hai para Nona cantik, apa kalian jatuh hati pada seekor katak?" Ucapnya dengan menyeringai.


Semua wanita itu pun menoleh kearahnya dan melihat seorang pemuda gagah yang mereka cari ternyata berada tepat di belakang mereka.


Ya, pemuda dengan pakaian biasa tapi tetap saja nampak sangat mempesona karena aura yang di keluarkan begitu menggoda para wanita siluman tersebut.


"Hai tampan, rupanya kau di sana. Ternyata kau sangat pandai bergurau ya?" Ucap Kakak tertua.


Sang Haruk kembali mengurai senyum kemudian menatap penuh siaga pada para siluman tersebut. Bukan hal mustahil kalau tiba-tiba saja mereka melakukan sesuatu di luar nalar.


Apa lagi kondisi juga belum terlalu terang, yang mana cahaya matahari yang keluar masih malu-malu bersembunyi di balik dedaunan diantara pohon yang lebat.


"Apa gerangan yang membuat kalian menghalangi langkahku?" Tanya Sang Haruk nyalang, dengan tatapan sangat tajam.


Para wanita cantik itu menyambutnya dengan kekehan kecil. Sungguh mereka melakukan itu hanya karena mengagumi Sang Haruk dan ingin menjajal keperkasaannya.


Setelah itu mereka akan melepaskan Sang Haruk jika di rasa keperkasaan Sang Haruk tidak mampu memuaskan mereka. Pasalnya nafsu wanita siluman lebih tinggi di banding wanita biasa.


Mereka mampu melakukan penyatuan birahi kurang lebih selama 7 hari 7 malam. Dengan begitu mereka baru akan bisa melahirkan keturunan mereka dengan sangat cepat beberapa menit setelah dibuahi.


Sebab kelahiran itu, akan membuat mereka hidup abadi sekitar 500 tahun ke depan. Dengan syarat orang yang memuaskan mereka adalah keturunan Bangsawan atau Raja tertinggi di wilayah kekuasaannya.


"Hai Pangeran tampan, ikutlah dengan kami. Kau akan menjadi pria paling bahagia di dunia jika bersedia untuk memenuhi keinginan kami," ucap salah seorang gadis yang menurut Sang Haruk paling cantik diantara wanita cantik itu.


Sang Haruk tak dapat menghitung berapa jumlah mereka, tapi Ia yakin para wanita itu sangat banyak dan untuk melawan mereka satu persatu pasti sangat menguras tenaganya


"Tunggu dulu Nona, kalian bisa saja membawaku. Tapi ada syarat yang harus kalian penuhi," ujar Sang Haruk.


"Apa itu?" Tanya mereka secara bergerombol.

__ADS_1


Sang Haruk pun mengarahkan telapak tangannya ke arah tanah kosong dan menampakkan sebuah telaga suci di sana.


"Wah, indah sekali telaga itu," ujar Kakak Tertua.


"Benar sekali Nona, oleh karena itu aku akan bersedia melayani kalian jika kalian semua sudi mandi ke dalam telaga itu sampai bersih. Alasannya adalah aku hanya akan mau menyentuh tubuh gadis beraroma wangi bunga lili yang di hasilkan dari dalam sana dan mereka adalah orang-orang yang beruntung," pungkas Sang Haruk.


"Aku mau, aku mau...," jawab mereka tak sabar. Rupanya para siluman itu ingin mencoba untuk mendapat kan hati Sang Haruk.


Tanpa pikir panjang para wanita siluman itu bertelanjang dan melompat ke dalam tenaga.


Tak ingin melihat tubuh polos mereka yang aneh lewat mata batinnya, Sang Haruk memalingkan wajah ke arah lain.


Beberapa waktu berlalu, Sang Haruk mendengar rintihan mereka dari dalam telaga. Entah karena apa tubuh para wanita siluman itu melepuh dan layu.


"Aaa... A.... Apa ini?" Pekik mereka nyaris tak terdengar sampai akhirnya suara itu semakin kecil dan menghilang.


Beberapa waktu kemudian, Sang Haruk kembali melenyapkan dasar telaga itu. Ia telah mengurung para wanita siluman tersebut masuk ke dalam alam lembur dosa dimana mereka tidak akan lagi mampu keluar dari sana.


Setelah urusannya selesai, Sang Haruk melanjutkan perjalanan nya menunggangi si kuda putih masuk kesebuah perkampungan.


Kegiatan itu berlangsung sejak Ia menjabat disana. Tak ada satu orang pun yang berani melawan karena jika mereka melawan maka mereka akan mati sia-sia.


Namun mirisnya Sang Haruk melihat sendiri kalau penduduk disana amat ketakutan akan perlakuan kasar mereka.


Orang-orang itu tak segan-segan memukul atau pun menendang orang yang menolak menyerahkan pendapatan mereka.


"Ayo cepat, serahkan hasil kerja kalian bulan ini. Atau Pak Baktian akan marah besar nanti!" Paksa ketua kelompok.


"Ampun, Tuan. Maafkan kami sungguh suami saya tidak mendapat pekerjaan sama sekali bahkan kami tidak makan seharian karena tidak ada apa pun di rumah," jawab seorang perempuan paruh bayah.


Plak!


Seorang anggota kelompok menampar perempuan itu dengan sangat keras hingga menimbulkan bengkak yang memerah.


"Jangan bohong, aku tahu kalian mau menolak memberi pajak sama Pak Lurah kan?" Hardik mereka tanpa welas asih.

__ADS_1


"Sungguh Tuan, sa- saya tidak bohong," jawab perempuan itu. Kini suaranya terdengar lirih. Sang Haruk yakin dia tengah menahan sakit akibat pukulan tersebut.


"Suamimu mana sekarang?" Tanya ketua kelompok.


"Dia sedang sakit Tuan, tubuhnya panas," jawab Perempuan itu lagi.


Ketua kelompok pun menyuruh anak buahnya masuk untuk menyeret pria tersebut keluar dan mendorongnya sampai tersungkur ke tanah.


"Dasar pemalas, pasti kerjamu tidur saja sehingga untuk menyiapkan pajak bulanan kau berusaha berkelit," cecar mereka lagi.


"Tidak Tuan, tapi sungguh hasil dagangan mainan saya tidak laku. Mungkin karena semua sudah membelinya dan merasa mulai bosan," jawab Pria itu.


Tampak istrinya membantu pria lemah tersebut untuk duduk berlutut di depan mereka.


"Ampuni kami Tuan, tolong beri keringanan kami untuk bulan ini saja," pinta Perempuan tersebut.


"Halah, tidak bisa. Pak Baktian tidak akan mau menerima alasan apa pun," ucap salah seorangnya.


Mereka kemudian berbisik-bisik ingin merencanakan sesuatu, lantas salah seorang dari mereka mencabut pedangnya ingin membunuh pria paruh baya itu.


Melihat tak ada lagi kebaikan di dalam diri orang-orang tersebut, Sang Haruk pun turun dari kudanya untuk menghalangi tindak kekerasan mereka.


"Tunggu Kisana, apa yang kalian lakukan disini itu sangat memalukan," ucap Sang Haruk secara hormat.


Mereka semua pun menodong tatapan curiga pada Sang Haruk. Seolah akan menjadi pengacau kebiasaan mereka demi mendapat keuntungan.


"Siapa kamu ha? Apa urusanmu dengan kami?" Tanya Ketua kelompok.


Sang Haruk mengembangkan senyum simpul pada mereka lalu berjalan mondar-mandir sengaja membuat pusing kepala mereka.


"Kalian akan terkejut dan menyesal jika sampai kalian mengetahui siapa aku sebenarnya. Sebab kegiatan ini juga akan ikut berakhir setelah ini. O ya siapa Lurah kalian namanya?" Tanya Sang Haruk santai.


"Banyak bacot lo, mau ngapain tanya lurah kami sambil mengancam dengan cara cetek, begitu," Jawab mereka angkuh.


"Oh, begitu rupanya. Berapa bayaran kalian? Sehingga kalian sangat rapat melindungi namanya atau kalian ini hanya cecunguk bodoh?" Timpal Sang Haruk lagi sedikit menghujat mereka.

__ADS_1


__ADS_2