
Setelah penjabaran selesai, Sang Putri meraih selendang dari atas penampan emas yang Ia pegang di kedua sisi. Kemudian mulai berjalan turun untuk memeriksa ke 40 pemuda tampan itu tak kecuali Haruk yang paling lusuh untuk memberikan selendang tersebut pada pemuda yang dipilihnya.
Sang Putri menuruni undakan dengan sangat anggun hingga mampu menghipnotis para pangeran yang di lalunya. Mereka bahkan menyukai aroma wangi yang berasal dari tubuh Putri Karra Sandya.
Putri terus memutar selendang dengan kedua tangannya sambil berkeliling memagak satu persatu wajah para Pangeran. Rata-rata dari mereka semua berwajah tampan hingga membuat Putri kebingungan menentukan pilihan.
Ia terus berjalan dari depan kebelakang berulang-ulang sampai Ia berhasil menemukan siapa yang pantas mendapatkannya.
"Putri ayo kesini berikan selendang itu padaku," goda Salaska anak seorang perdana menteri dari pelabuhan ratu.
"Kesini saja putri, diantara mereka akulah yang paling tampan," timpal Raden Cikai dari Danau Ranau.
Putri hanya tersenyum dan melewati mereka tanpa perduli, Ia melenggok ke belakang sampai ke ujung hingga melihat Haruk tengah duduk di belakang tiang penyanggah. Pemuda paling jelek, lusuh dan sangat bauk aromanya diantara yang lain.
Dengan rasa hormat, Haruk menundukkan kepala menyapa Putri Karra Sandya. Siapa sangka putri malah berjalan ke arahnya dan mengalungkan selendang itu di leher Sang Haruk.
Pemuda itu sampai gemeteran menyaksikan itu, dengan jarak yang begitu dekat Ia akhirnya bisa menikmati wajah Putri Karra Sandya.
Seluruh para pengikut Sayembara membelalakan mata, bagaimana mungkin Putri secantik Karra Sandya menyerahkan selendang itu pada seorang gembel. Entah apa yang ada di benak Putri mereka sendiri masih bertanya-tanya dalam hati.
"Ya ampun Putri, apa itu tidak salah?" Protes salah seorang dari mereka yang memberanikan diri.
Rasa kesal terasa membuncah di dada para Pangeran itu.
Putri menggeleng. Ia mengabaikan pertanyaan mereka dan lekas kembali ke tempat duduknya semula dengan sangat hati-hati.
"Oke, karena putri sudah menentukan pilihan, yang mendapat selendang silakan maju kedepan!" Titah Patih Yoganda mempersilahkan.
Kesempatan itu di berikan karena sudah menjadi salah satu dari perjanjian sebelumnya. Mereka tidak peduli pada siapa itu di berikan termasuk Sang Haruk yang malang.
__ADS_1
Putri Karra Sandya memang terkenal baiknya, jadi mereka berangapan kalau sebenarnya Putri Karra Sandya hanya merasa kasihan saja pada Sang Haruk.
Tidak mungkin Putri memiliki perasaan suka pada pemuda gembel itu.
Tatapan sinis orang-orang yang ada di sini terus saja tertuju pada Sang Haruk tanpa lepas sedikit pun.
Meski malu dan ragu, Haruk nekat bangkit dari duduknya dan mendekat pada sang raja. Tak perduli cibiran dan hinaan menghiasai langkah kaki sang Haruk.
Pemuda itu tetap terus berjalan,kemudian duduk berlutut seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di hadapan sang Raja.
"Siapa namamu anak muda?" Tanya Raja yang turut menatap lekat wajah Sang Haruk.
"Ha- Haruk, Gusti Prabu," jawab pemuda berambut ikal tersebut gugup.
Tak ada keberanian sama sekali membalas tatapan Raja.
"Punya orang tua?" Tanya Raja lagi berlanjut ke pertanyaan berikutnya.
Awalnya Haruk mengira, Raja akan membentak dan menghardik keberadaannya karena sangat menjijikkan. Namun setelah menyaksikan sendiri, barulah Haruk tenang dan mulai mampu mengendalikan kekhawatirannya.
Haruk pun menggelengkan kepalanya. "Saya hanya hidup sebatang kara, Orang tua saya meninggal saat saya masih bayi. Kata orang Ayah meninggal karena di begal dan Ibu Meninggal saat melahirkanku," jawab Sang Haruk jujur seperti apa yang di dengarnya.
"Punya ke ahlian apa?" Raka semakin intim untuk mengetahui asal usul Sang Haruk.
"Tidak Gusti Prabu, saya tidak mengenyam ilmu sama sekali." Seperti litu lah Sang Haruk mengaku tanpa ada yang di tutup-tutupi.
"Oh, berarti kamu tidak bisa membaca?"
"Benar."
__ADS_1
"Bagaimana jika suatu saat nanti ada yang menipumu? Apa kau bisa mengatasinya?"
"Saya punya Tuhan, Gusti Prabu. Saya akan serahkan semua yang ada di hidup saya padanya."
Mendengar itu, Raja pun mengangguk kecil, kemudian Ia melanjutkan perkataannya lagi untuk mengarahkan sang Haruk.
"Karena kamu menjadi orang pertama yang terpilih, kamu boleh meminta berapa pun modal usaha yang kamu butuhkan. Kemudian berkelana lah untuk memperbesar usahamu pada waktu yang di tentukan selama 40 hari lamanya," ujar Raja yang menjelaskan secara detail berharap Sang Haruk mengerti.
Haruk mengangguk setuju. Ia memang butuh uang untuk menjalankan semuanya dengan kemampuan yang tidak seberapa itu. Tak perduli jika harus gagal dan hanya pulang dengan membawa rasa malu yang amat besar.
"Haruk, kamu mau minta apa? Kapal, emas, atau uang logam? Jika kamu menginginkannya, kamu boleh mintak dari ke tiganya secara bersamaan?" Tanya Raja lagi.
Panglima pun segera membuka dua kotak peti emas dan Uang logam yang ada di depan Sang Haruk duduk. Pemuda itu di bebaskan memilih atau mengambil semua sesuai amanat Raja.
Kerajaan Cili Rawe memang Kerajaan termansyur dan sangat kaya, kejayaannya mencakup di seluruh pulau sumatera tanpa terkecuali sampai merambah ke pulau-pulau yang berada di sekitarannya.
Karena takut tak mampu menjalan kan tugas dengan baik, Sang Haruk mrmutuslan hanya akan mengambil 5 buah uang logam yang kini berada dalam genggamannya dan kejadian tersebut telah mengundang perhatian Raja Anta Boga yang senang melihatnya.
Meski dalam kondisi sulit, Haruk tetap tidak maruk pada harta yang jelas-jelas ada di depan matanya. Padahal Raja tidak akan mempersalahkan berapa pun jumlah yang di inginkannya.
Lama menunggu, Raja tak melihat ada reaksi Haruk menginginkan yang lain lagi pun buka suara lagi.
"Hanya itu?" Tanya Raja penuh keheranan.
"Benar Sang paduka, hamba takut tidak mampu mengemban tugas," jawab Haruk yang mengatupkan lagi kedua tangannya penuh hormat.
Pilihan aneh menurut Raja dan yang lain pula, tapi mereka menghargai keputusan Sang Haruk. Ingin puas menikmati Kecantikan Putri Karra Sandya sebelum undur diri, Haruk mencoba mencuri pandang kearahnya dan ternyata Putri juga tengah tersenyum memperhatikan dirinya yang mendadak berdebar-debar.
Cukup beberapa detik saja, Haruk mengundurkan diri untuk turun bergantian dengan yang lain. Ada yang minta satu kapal dan satu peti emas. Ada yang minta 3 kapal dan satu peti uang logam. Bahkan ada yang meminta 5 buah kapal, satu buah emas dan Satu peti uang logam sebagai modal usaha mereka.
__ADS_1
Para pangeran itu meminta dengan berbagai rupa yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka yakin mampu mengembangkan usaha tersebut karena orang tua mereka rata-rata juga dari keluarga saudagar yang sudah mahir mengendalikan usaha dalam segala aspek.