
Pagi-pagi Sang Haruk merenung di tepi sungai seorang diri sambil sesekali melempar batu ke dalam air. Tidak mudah baginya untuk memikirkan bahwa menjadi Raja ternyata sangatlah pelik.
karena dia harus memikirkan banyak hal baik untuk istri maupun kesejahteraan rakyatnya.
Tapi senyum Sang Haruk tergerai, mengingat wajah putri memenuhi isi kepalanya. Seakan apa yang kini di dapat hanyalah sebuah mimpi yang belum usai.
"Putri, sungguh beruntung aku mendapatkanmu," gumam Sang Haruk seorang diri.
Dari balik dahan pohon, ada seekor burung merpati putih menjatuhkan ranting ke pundak sang Haruk.
Dia yang terkejut lekas mendongak ke atas dan melihat merpati itu turun dan hingga di tangannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Baginda?" Tanya merpati itu.
"Hey, kau bisa bicara merpati putih?"
"Tentu saja, aku adalah binatang spesial. Sejak tadi aku mengamati kegelisahanmu Baginda? Apa ada sesuatu?" Ulang merpati itu.
__ADS_1
"Iya, aku sedang memikirkan perang yang akan terjadi sebentar lagi untuk membuktikan kemampuanku. Selain itu aku juga ingin mensejahterakan rakyat dengan memperluas lapangan pekerjaan. Tapi sebelum itu kita harus memperbaiki akses jalanan terlebih dahulu," jawab Sang Haruk.
"Wah, banyak juga ya Baginda. Apa lagi Sang Putri tengah mengandung sekarang. Apakah dia tidak bersedih jika Baginda tinggalkan nantinya?"
Sang Haruk mengerutkan dahi.
"Sepertinya kamu tahu banyak tentang seluk beluk istana ini?"
Burung itu tertawa lepas.
"Hehehe... tentu saja aku adalah sahabat karib Putri Karra Sandya yang setiap hari bertemu di kaputren," ujar burung itu, layaknya manusia.
Burung itu tertawa lagi.
"Hehehe... Tentu saja, aku ada sejak Sang Putri di lahir kan."
Sang Haruk jadi makin penasaran, bagaimana mungkin seekor burung bisa hidup kurang lebih selama 23 tahun lamanya.
"Ajaib sekali, kau memiliki umur yang panjang?"
__ADS_1
"Benar Baginda, aku. baru bisa mati jika Putri meninggal," jawab Merpati putih itu.
"Baiklah, aku sedikit aneh mendengarnya. Tapi aku akan coba memahami maksudmu. Em... boleh tahu kenapa kamu ada dan berdampingan dengan Putri?" Tanya Sang Haruk.
"Sebenarnya aku adalah jelmaan tali pusar sang Putri, semua itu terjadi karena kesalahan seorang dukun yang mengurus kelahiran Bunda ratu."
Merpati putih itu menceritakan kejadian beberapa tahun silam, yang mana pada masa itu malam jum'at kliwon tepatnya jam 12 malam.
Pemotongan tali pusat berlangsung, seorang Nenek yang punya kelebihan keramat dalam berucap di kaget kan oleh seekor kucing yang menyenggol lengannya, hingga Ia tak sengaja menyebutkan nama hewan merpati putih ke sayangannya ke arah Sang Putri.
Seharusnya hari itu yang berubah adalah bayi merah Sang Putri, hingga geger lah seluruh alam di buatnya.
Menyesal dengan ucapan tersebut, Nenek tua itu berdoa agar kutukan itu di pindah alihkan saja. Ternyata doa tersebut terkabul hingga kutukan Nenek tua itu berpindah ke tali pusar Sang istri.
Mendengar cerita di luar nalar itu, Sang Haruk mengangguk paham. Ia pun mengusap lembut kepala merpati putih di tangannya.
"Baiklah tetap dampingi Putri dan hibur dia saat aku tidak ada bersamanya," ujar Sang Haruk.
"Baik Baginda, serahkan semuanya padaku. Karena aku yakin aku adalah orang kedua setelah Baginda yang mampu menenangkan kegelisahan Sang Putri. Tapi alangkah baiknya Baginda juga mengatur pemikiran Baginda agar nantinya tidak tertekan sendiri."
__ADS_1