
"Hahaha... baginda bisa saja. Kenapa harus berkali-kali menanyakan hal yang sama. Jangan khawatirkan apa pun karena aku mencinta Baginda Raja itu muncul dengan sendirinya," jawab Sang Putri.
"Aku percaya Istriku, sebab kau tidak pernah memandang pisik , saat itu aku sudah melihatnya sendiri pakta waktu kau berikan selendangmu padaku di antara puluhan pangeran tampan."
"Na, lalu apa yang membuat khawatir sampai sekarang. Percayalah semua ini adalah ketentuannya," ulas Sang Putri lagi.
Tak terasa waktu kembali bergulir, setiap hari hanya ada latihan pedang dan membaca serta menulis untuk Sang Haruk.
Sampai akhirnya sebulan berlalu Ia hampir menguasai 272 jurus yang berbeda setiap tahapannya.
Dimana masing-masing dari jurus ini mampu Sang Haruk mampu memecahkan kelapa tua hanya dengan menggunakan tenaga dalam.
"Sang Haruk ayo pokus kan pikiran pada sasaran di depan mata, dan rasakan dengan jiwa keberadaan musuhmu do belakang," ucap Eyang Kala Wijaya memberi petuah.
"Baik Eyang, saya akan berusaha melakukannya."
Sang Haruk mengangkat satu kakinya setengah dari tanah, lalu memusatkan pikirannya pada seorang dua orang yang tiba-tiba muncul menyerangnya.
Setelah merasakan hembusan angin yang hampir samar, Sang Haruk menjentikkan sebuah tenaga dalam yang langsung tetap pada sasaran pertama lalu berbalik dan melompat menusuk dada pada sasaran kedua hingga berubah menjadi patung.
Prok! Prok! Prok!
Kemajuan pesat itu sangat memuaskan Eyang Kala Wijaya yang langsung mengapresiasi dengan tepukan tangan.
"Hebat Sang Haruk, sudah saatnya dunia mengenal siapa Raja mereka!" Puji Eyang.
Sang Haruk langsung membungkuk hormat, Ia sangat ingin menjadi seorang yang selalu rendah hati apa lagi kepada yang lebih tua.
"Saya menghadap Baginda!" Ujar salah seorang yang berlutut di depan Sang Haruk.
"Bangunlah, ada apa gerangan kamu sampai ke tempat ini?" Tanya Sang Haruk.
"Tadi ada tiga orang yang datang untuk memaksa bertemu Baginda, mereka bilang kalau kedatangan mereka kemari untuk bertemu dengan Baginda?"
"Tiga orang, apa aku mengenal merek?" Tanya Sang Haruk balik.
"Iya Baginda, mereka bilang masih terikat keluarga dekat dengan Baginda," jawab penghantar pesan itu.
__ADS_1
Lama terdiam, mengingat-ngingat siapa yang mengaku keluarganya itu, Sang Haruk pun meminta kepada prajuritnya untuk memerintahkan mereka menunggu kedatangannya.
"Suruh mereka masuk!" Titah Sang Haruk.
"Baik Baginda!"
Setelah melakukan penghormatan kembali, prajurit itu pun segera meminta orang-orang yang tampak lusuh dan aneh itu menunggu di ruang Istana utama bertemu dengan Patih Yoganda.
"Jadi ini yang kamu maksud kerabat Baginda?" Tanya Patih Yoganda.
"Benar Gusti patih kami adalah Paman dan Bibi dari Sang Haruk," jawab Bibi Parwati.
"Hey, jangan lancang memanggil Raja dengan namanya saja. Panggil lah selayaknya seorang Raja yang terhormat!" Marah Patih Yoganda.
"Tidak apa-apa Paman patih, Paman Kilang dan Bibi Parwati memang kerabatku," sahut Sang Haruk menahan kekesalan Patih Yoganda.
"Oh... baiklah Baginda maafkan kelancangan hamba," ujar Patih Yoganda seraya menundukkan kepala.
"Kang...!" Bagus yang kenal baik tak sabar ingin memeluk Kakak sepupunya yang kini begitu tampan dan gagah dengan pakaian kebesaran istana.
"Bagus, bagaimana kabarmu?" Sang Haruk berjongkok dan memeluk sang adik.
"Akang, sedang merantau. Itu sebabnya Akang pergi," jawab Sang Haruk.
Ia sengaja berbohong karena tak ingin keluarga Istana menolak kehadiran Paman dan Bibi.
"Haruk, kedatangan Paman dan Bibi sebenarnya mau meminta maaf sama kamu. Selama ini kami memperlakukanmu kurang baik," ucap Bibi Parwati.
Sang Haruk pun memperhatikan penampilan mereka yang kian hari kian Kumel dan kurus tidak seperti biasanya sebelum dia pergi meninggalkan rumah.
Sang Haruk pun mendekat lalu meminta Paman Kilang dam Bibi Parwati bangun dari duduknya.
"Lupakan yang telah lalu Paman, Bibi, lebih baik kalian makan dulu," ujar Sang Haruk yang tak berubah pada keduanya.
Sang Haruk pun meminta para emban menyediakan makanan paling enak di istana, Ia akan makan bersama dengan keluarga besarnya.
Sebelum itu Sang Haruk tidak lupa memperkenalkan Putri Karra Sandya pada mereka sebagai istrinya.
Meski tak lagi menjadi Raja, Ayahanda Raja Anta Boga dan Permaisuri turut ikut perjamuan besar tersebut. Mereka tidak singkuh sama sekali dengan kedatangan keluarga Sang Haruk.
__ADS_1
Bibi Parwati bahkan masih sempat-sempatnya bercerita bohong, kalau masa kecil Sang Haruk sangatlah bahagia dan menyenangkan pada Putri dan Raja.
Ia juga mengatakan Sang Haruk makannya sangat banyak hingga tubuh Sang Haruk seperti buntalan karung beras.
Sang Haruk tidak menampik, Ia menikmati semua itu karena tak ada kebencian sedikit pun yang tertanam di hatinya untuk mereka. Mengingat Ia bisa seperti sekarang juga karena Paman dan Bibi sudah membesarkannya.
"Oya Bi, aku sudah lama tidak bertemu Tantowi, apa kabar dengannya sekarang?" Tanya Sang Haruk yang mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Tantowi, belum lama ini menikah tapi baru seminggu pernikahannya Istri Tantowi ketahuan selingkuh hingga akhirnya dia menduda," jawab Paman Kilang.
"Kasihan sekali dia, Paman aku ingin menitipkan surat untuknya tolong nanti Paman sampaikan dengan segera," ujar Sang Haruk lagi.
"Baik Nak, Paman akan langsung memberikannya."
Sepulang dari istana, Paman Kilang dan Bibi di bawakan satu gerobak makanan pokok, sedang Bagus sendiri di belikan baju yang bagus-bagus. Tak cukup itu saja Sang Haruk juga memberikan beberapa keping emas untuk kebutuhan sehari-hari mereka jika kebutuhan pokok tersebut sudah habis.
"Terima kasih Haruk, ampuni Pamanmu ini sudah menjadi kejam padamu waktu itu." Paman Kilang sampai menangis di pelukan Sang Haruk.
"Tidak Paman, itu tidak benar. Aku sama sekali tidak ingat masalah itu lagi, oya jagad diri kalian baik-baik. Datanglah kesini jika kalian membutuhkan pertolongan!" Ucap Sang Haruk.
"Benar Paman, Bibi, kami sangat senang mendapat kunjungan ini," imbuh Putri Karra Sandya.
"Terima kasih Putri, beruntung Sang Haruk memperistri dirimu," timpal Bibi Parwati seraya mengusap pipi Sang Putri.
Keduanya pun melepas kepergian keluarganya itu diantar kereta istana dan beberapa pengawal yang di percaya untuk menjaga keselamatan mereka.
"Suamiku, aku lihat wajahmu terus berseri-seri sehabis berjumpa mereka. Pasti dirimu sudah lama tidak berjumpa," bisik Putri Karra Sandya.
"Kamu benar istriku, entah berapa lama aku pun tidak menghitungnya."
ketika keduanya berbalik untuk masuk, Putri Karra Sandya tiba-tiba jatuh pingsan untung Sang Haruk berhasil menahan tubuhnya.
"Putri bangun Putri apa yang terjadi padamu?"
Sang Haruk nampak sangat panik, begitu pula para penghuni kerajaan yang melihatnya.
"Cepat panggilkan tabib untuk melihat bagaimana kondisi putri sebenarnya!" Titah Patih Yoganda pada seorang prajurit yang berjaga.
__ADS_1