SANG PENAKLUK

SANG PENAKLUK
Bukan Orang Biasa


__ADS_3

Mobil SUV Hitam itu melaju kencang membelah jalanan kota New York. Beberapa kali pengemudinya membunyikan klakson tanda ia ingin mendahului kendaraan yang lain. Ini darurat pikirnya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Walaupun pekerjaan Antonio sebagai seorang supir hanya bisa memandang idolanya dari kejauhan tapi ia sangat dekat dengan Alena. Saat sedang break di lokasi shooting, Alena sering menyapanya hanya untuk mengetahui khabar Antonio dan keluarga. Dia sangat menyukai gadis itu karena kebaikkan dan kerendahan hatinya. Sesekali supir yang berusia 50  tahun-an itu melirik kaca spion di depannya, perasaan khawatir yang besar terlihat di raut wajahnya. Antonio teringat kebaikan-kebaikan Alena saat putri bungsunya terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena penyakit kanker yang diidapnya semakin parah. Kesulitan biaya menyebabkan Antonio tidak bisa rutin membawa putrinya berobat. Maklum saja biaya pengobatannya sangat mahal. Penghasilan Antonio sebagai supir hanya cukup untuk makan sehari-hari. Alena hadir sebagai dewi penyelamat keluarganya. Alena yang membiayai operasi dan pengobatan pasca operasi Lusi putri Antonio hingga dinyatakan sembuh oleh dokter. Putrinya yang berusia 10 tahun itu kini dapat bersekolah kembali.


Antonio melihat Geralt memangku tubuh Alena sambil menahan kedua tangan gadis itu dari pantulan kaca spion. Antonio kembali fokus melajukan mobil dengan konsentrasi penuh. Karena akan sangat berbahaya melajukan mobil dengan kecepatan diatas 60 Km perjam saat keadaan jalan raya dimalam hari ini cukup padat. Tibalah mereka di depan pintu masuk instalasi gawat darurat rumah sakit Lenox Hill. Buru-buru Antonio keluar dari mobil lalu membuka pintu belakang mobil agar memudahkan Geralt membawa keluar Alena dan ia pun bergegas memanggil petugas rumah sakit.


Dua orang petugas berlarian membawa bed dorong. Alena masih menangis menahan rasa gatal dan panas di wajahnya saat tubuhnya direbahkan diatas bed. Geralt terus menerus meremas kedua tangan Alena yang terikat berharap dapat mengurangi penderitaan gadis itu. Kakinya ikut berjalan cepat mengikuti bed Alena yang di dorong memasuki ruang IGD." Sabar sayaaang... aku mohon bersabarlah." Geralt terus berusaha menenangkan Alena dengan lembut. Tanpa sadar ia memanggil Alena dengan panggilan sayang. Matanya memaku mata Alena yang nanar. Ia ikut merasakan penderitaan gadisnya.  Sayup-sayup terdengar Alena lirih memanggil namanya dalam rintihan. Geralt merasa sedih menyaksikan gadisnya tersiksa.


Seorang pria muda berusia kurang lebih 27 tahun-an  mengenakan jas putih dan dilehernya terkalung stetoskop menghampiri bed Alena. Wajahnya terkejut ketika melihat siapa yang terbaring disana. “ Ya Tuhan… Miss Morreti, apa yang terjadi !" Ia ternyata mengenal Alena. Lalu tangannya dengan cekatan melepaskan ikatan pada tangan Alena dan memeriksa luka di sekujur tubuh kemudian mata Alena tak luput dari tindakannya.


Geralt yang mendengar nama keluarga Alena disebut lalu menatap sang dokter. Matanya mencuri lihat papan nama yang ada di jas pria itu. “ Matthew Storm”.


“ Saya belum tahu penyebabnya, ia merasa gatal dan panas, Dok. Tiba-tiba saja ia menggaruk seluruh tubuhnya


hingga lecet dan berdarah.” Geralt menjelaskan pertanyaan Dokter.


“ Dokter sesaat mengalihkan matanya kearah Geralt. Keningnya berkerut mendengar penjelasan itu, kemudian ia beralih kepada suster dan memerintahkan mengecek pernafasan dan sirkulasi darah Alena.


 “ Dok… pasien tidak sadarkan diri !” seru suster disampingnya.


Dokter Matthew langsung memeriksa denyut nadi Alena. “ Hmm…. Lemah sekali.” katanya. Cepat ambilkan epinephrine!!!” perintahnya lagi.


Suster dengan cepat melaksanakan perintah dan memberikan epinephrine injeksi yang kemudian disuntikkan dipaha Alena.


Sedangkan sebelumnya Geralt diminta untuk menunggu di luar oleh seorang suster. Mau tak mau Geralt menurutinya, meskipun hatinya tak rela meninggalkan Alena sendirian dalam keadaan darurat.


Hampir satu jam Geralt duduk dan terkadang mondar mandir di depan pintu ruangan dimana Alena mendapat tindakan medis. Dari tadi, sesekali ia menengok kearah pintu berharap ada seseorang yang keluar dan bisa ia tanyai. Tapi nihil tak sesuai harapannya.


Ceklek…. Pintu akhirnya terbuka. Keluarlah dokter Matthew dan menghampiri Geralt yang menatap dengan penuh cemas.


“ Bagaimana dok, keadaan Alena ?” Tanya Geralt yang tampak khawatir.


“ Syukurlah masa kritisnya sudah lewat. Untunglah dia cepat dibawa kemari. Kami sudah mengambil sample darahnya untuk diperiksa di laboratorium, dugaan kami sementara ini miss Morreti mengkonsumsi makanan atau minuman yang memicu alergi pada tubuhnya. Tapi kemungkinan lainnya juga ada hanya saja kami tidak terlalu yakin. Karena itulah sebaiknya kita tunggu hasil dari laboratorium saja besok.” Jelas dokter Matthew panjang lebar.


“ Oh Terima kasih Tuhan !” Geralt mengucap syukur mendengarnya seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya, akhirnya ia bisa kembali tersenyum dan bernafas dengan lega. Alena baik-baik saja batinnya.


" Kemungkinan lain itu apa dokter ? Selain makanan dan minuman apakah bisa ada pemicu lain ? " Geralt merasa penasaran dengan penjelasan dokter tersebut.


" Kita tunggu saja hasilnya besok yah." Jawab dokter Matthew tersenyum. “ Ohya, Apakah Anda melihat makanan atau minuman terakhir yang dikonsumsinya ? Tanya dokter kembali.

__ADS_1


“ Hanya menu makan malam dari catering langganan PH ditempat kami melakukan shooting dok. Dan menunya sama saja seperti tiga hari yang lalu, tapi kemarin tidak terjadi reaksi alergi seperti sekarang.“ jawab Geralt.


“ Hmm...begitu yah." Dokter Matthew menggangguk-angguk mendengar pernyataan Geralt. " Apa keluarganya sudah diberi khabar ?” Tanya dokter kemudian.


“ Belum dok, ehm…. Maaf, apakah dokter mengenal Alena ?” Tanya Geralt dengan sopan.


Dokter Matthew mengangguk. “ Iya, saya mengenalnya dengan baik, sejak ia masih duduk di sekolah menengah pertama. Ayahnya dulu profesor saya di kampus, Dokter Roberto Morreti dan Ibunya Dokter Karenina Morreti. “ Ungkapnya.


“ Oh, jadi kedua orangtua Alena dokter ?”


“ Hm,,,,, tidak hanya orangtuanya, tetapi dari kakek buyutnya juga berprofesi dokter. Paman dan bibinya juga


kebanyakan dokter. “ Lanjut dokter Matthew.


Geralt terperangah. “ Keluarga dokter rupanya “ Gumamnya.


Dokter Matthew kembali menggangguk  sambil menyelipkan kedua tangannya kedalam saku celana. “ Bagaimana jika saya yang mengabari ayahnya ? “


“ Iya dok, tolong hubungi mereka. Karena saya dan Alena meninggalkan ponsel kami di lokasi shooting. Karena panik , kami melupakannya. Terus terang saya tidak memiliki nomor kontaknya ” Ujar Geralt.


Sepeninggal dokter matthew, Geralt melangkahkan kakinya memasuki ruangan dimana Alena dirawat.  Geralt menatap wajah Alena yang tertidur karena kelelahan. Disingkirkannya beberapa helai rambut yang menutupi pipi Alena.  Tangannya kini berpindah pada tangan Alena yang sudah tersambung cairan infus. Kemudian ia mengusap pelan pipi Alena yang penuh luka  bekas kukunya.


“ Apa yang sebenarnya terjadi padamu ? Mengapa aku sangat sakit melihatmu seperti ini. Aku akan menyelidikinya


sayang, jangan khawatir.” Gumamnya kemudian. Ia melirik jam tangannya, sudah menunjukan pukul 11 malam. Lama kelamaan Geralt merasa mengantuk lalu tertidur di sisi Alena sambil menggenggam tangannya.


Selang 1 jam kemudian, seorang wanita cantik berusia sekitar 50 tahun-an membuka pintu ruangan dengan tergesa dan menatap sepasang insan disana dengan kening berkerut. Ia melangkah pelan mendekati bed Alena. Matanya menampakkan kesedihan. Kemudian mengecup keningnya dengan lembut.  Lalu matanya beralih ke wajah pemuda tampan yang tertidur disamping Alena. Ia menelisik wajahnya sembari mengingat-ingat siapa dia. Apa ia mengenalnya ? Ada hubungan apa dengan putrinya ? Tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba mata Alena terbuka. Penglihatannya masih terlihat kabur. Ia mengerang merasakan keperihan. Akibatnya


Geralt terkejut dan terbangun dari tidurnya. Ia langsung berdiri dari kursi dan menanyakan keadaan Alena tanpa menyadari kehadiran orang lain disana selain mereka berdua.


“ Sayang kenapa ? apa yang kau rasakan ? katakan apa yang kau inginkan ?” Geralt bertanya sambil mengusap pipi kiri Alena dengan lembut.


Berangsur-angsur penglihatan Alena pun menjadi jelas. Ia bisa melihat Geralt dan merasakan usapan jemarinya di pipi. Sesaat ia tertegun akan perhatian yang Geralt berikan. Kalau tidak salah dengar, Geralt memanggilnya "sayang." Ada perasaan senang di dalam hatinya. Perasaan yang sendu dan sangat menyentuh. Alena teringat bahwa Geralt lah yang membawanya ke rumah sakit. Geralt juga yang mengurusnya. Seketika pipinya memerah. Reflex ia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dan matanya bertabrakan dengan mata ibunya yang ternyata sedang duduk di sofa.


" Ibuuuu......!!!" Panggil Alena dengan tatapan terkejut.

__ADS_1


Geralt reflex memalingkan wajahnya mengikuti arah mata Alena. Ia pun terkejut saat menyadari kehadiran seorang


wanita yang duduk di sofa. Geralt langsung memperbaiki posisi berdiri lalu tersenyum kepada wanita itu.


“ Maaf saya tidak menyadari kehadiran Anda, bu.” Sapa Geralt dengan sopan.


Ibunya Alena tersenyum padanya. “ Tidak apa-apa nak, saya berterima kasih kepadamu yang telah menolong putri


saya.”


“ Tidak bu, saya hanya membawanya ke rumah sakit saja, tapi dokterlah yang menolongnya atas izin Tuhan.” Geralt merendah.


“ Tentu saja kau juga menolongnya. Dokter Matthew sudah menceritakan kepadaku semuanya, namun sayang Ayah Alena sedang berada di Paris, maka dia belum bisa langsung kemari. Besok pagi jam 10  pesawatnya baru tiba.  Oh’ya kenalkan saya Karenina, ibunya Alena.” Ibunya Alena mengulurkan tangannya ke arah Geralt, seraya memperkenalkan dirinya. Lalu Ia memperlihatkan senyum tulusnya.  .


" Saya Geralt , bu." Ia membalas uluran tangan ibunya Alena dengan sopan.


" Katakan kepadaku nak, apakah kau ini kekasih putriku ? " tanya ibunya Alena menyelidik wajah Geralt.


Geralt yang mendapatkan pertanyaan tiba-tiba seperti itu, tentu saja menjadi sangat gugup. Apalagi mata Alena tak lepas memandangnya seolah menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Geralt berusaha mengendalikan perasaannya. ia tak ingin salah ucap dan akan merugikan dirinya.


" Saat ini kami masih berteman baik.Tapi jika ibu tidak keberatan dan juga Alena pun demikian, maka saya mohon izin untuk lebih dari sekedar teman. Saya ingin menjadi satu-satunya pria dalam hatinya. ." Ujar Geralt dengan tatapan cinta ke Alena.


Sontak saja wajah Alena semakin memerah. Dadanya berdegub kencang. Sepertinya kini ia akan terkena serangan jantung. Maksud Geralt apa ? Ia sedang menyatakan cinta ? Di depan ibunya ? Oh Tuhan apa yang akan dipikirkan ibunya ! Teriak batin Alena.


Geralt masih menunggu jawaban Alena. Namun Alena masih terdiam seribu bahasa. Geralt memahaminya. Ia sadar bukan saat yang tepat untuk menyatakan cinta. Hmm... sangat tidak romantis. Menyatakan cinta pada seorang gadis dalam keadaan seperti ini. Pikirnya.


"Jangan dijawab sekarang sayang. Nanti saja saat kau sudah sehat. Aku akan tetap menunggumu." Ucap Geralt dengan lembut. Matanya memancarkan kehangatan yang terasa sampai ke sanubari alena.


“ Baiklah bu, kalau begitu saya undur diri dulu. Besok pagi saya akan datang lagi melihat keadaan Alena. “ Ucap Geralt lagi kepada ibunya Alena. Kemudian Geralt melirik gadisnya, tersenyum padanya seraya berpamitan. Alena membalasnya dengan anggukan pelan.


" Hati-hati di jalan nak. Dan sekali lagi terima kasih banyak atas bantuanmu." jawab ibunya Alena lagi.


Geralt telah meninggalkan ruangan tersebut. Tapi Alena masih merasakan kehadirannya disana. Tiba-tiba Alena merasakan kerinduan akan Geralt.Dan ia menjadi gelisah.


" Geralt..... Aku membutuhkanmu ." Lirih Alena.


\============

__ADS_1


__ADS_2