
Geralt tiba di Wolfhard Enterprise. Ia berjalan santai keluar dari lift dan hendak menuju ke dalam ruangan yang bertuliskan CEO di pintunya.
Sebelum langkahnya berhasil mencapai ruangan, seseorang telah lebih dahulu menyapanya.
“ Selamat siang pak Geralt !” Sapa Susan sekretarisnya.
“ Siang. “ Jawab Geralt dengan tersenyum.
Ia melirik jam di tangan. “ Hmm, pantas sudah hampir jam makan siang rupanya.” Batin Geralt baru menyadari waktu.
“ Apa Edric sudah datang ?” Tanyanya lagi dengan terus berjalan melewati Susan. Lalu melempar senyum kepada beberapa karyawan yang berpapasan.
“ Mr. Edric telah menunggu di ruangan meeting sejak sepuluh menit yang lalu pak.” Jawabnya sambil mengikuti langkah Geralt memasuki ruangan. Dalam hati Susan terheran-heran melihat mood bosnya hari ini. “Hm, tumben.” Katanya dalam hati.
Ditangan Susan, terlihat membawa beberapa map berisi berkas yang harus ditandatangani bosnya. Sejak lima hari
yang lalu Geralt sangat sulit untuk dihubungi. Setiap kali sambungan telponnya aktif selalu saja di reject pertanda si bos tidak mau diganggu. Akibatnya beberapa meeting terpaksa harus dijadwalkan ulang oleh Susan.
Selama tiga tahun pengabdian Susan sebagai sekretaris Geralt, baru hari ini ia melihat bosnya itu tampak bahagia.
Waah ada angin apa yah si bos kayaknya happy banget. Batinnya.
“ Laporan apa yang kau bawa itu Susan ? “ Tanya Geralt setelah duduk di kursi kebesarannya.
“ Ini semua laporan yang anda minta siapkan. Proposal produksi film kita yang terbaru totalnya ada lima proposal.
Kemudian susunan rancangan produksi dari dua film yang bulan lalu sudah anda setujui, rencana marketing dari departemen pemasaran kita dan proposal anggaran dana terkait film tersebut pak. Dan satu lagi ini adalah tawaran untuk anda pribadi menjadi brand ambassador produk wine dari Moldova. ” Lapor Susan sambil menyerahkan semua berkas di tangannya.
“ Selama saya absen ada kendala apa ?” Tanya Geralt sambil menerima berkas dari tangan Susan. Dahinya tampak berkerut saat membolak-balik penawaran dari produsen wine.
“ Untuk saat ini semuanya bisa di handle dengan baik pak.”
“ Good.“ Jawab Geralt sambil manggut-mangut. Geralt selalu merasa puas dengan cara kerja Susan. Dari sekian banyak sekretaris yang bekerja dengannya hanya Susan yang paling lama bertahan. Dia cerdas, cekatan, jujur
dan setia. Sempurna untuk menjadi sekretaris Geralt, tipe bos yang perfectionis dan tidak mau mendengar alasan.
“ Ohya pak, silahkan anda pelajari dahulu semuanya. Team masih membutuhkan ide-ide anda dan mungkin masih ada yang harus diperbaiki ?” Ujar Susan kemudian.
“ Baiklah.” Jawab Geralt singkat.
“Ehm, pak bagaimana dengan Mr. Edric ? Apakah anda ingin menemuinya sekarang di ruang meeting atau saya persilahkan beliau menghadap bapak kemari ? Tanya Susan lagi.
“ Sepertinya opsi kedua lebih baik. Jangan lupa bawakan kami kopi seperti biasa yah. “ Perintah Geralt kemudian
__ADS_1
sambil matanya kembali fokus membaca berkas-berkas yang diserahkan Susan.
“ Tapi sebentar lagi sudah waktunya bapak makan siang lho pak.” Protes susan.
“ Saya masih kenyang, cukup bawakan saya kopi saja. “ Perintahnya.
“Baik pak, akan saya persilahkan Mr.Edric menemui bapak dan kopi sebentar lagi akan saya bawakan. Permisi. “ Ucap Susan dengan hormat.
“ Hm.” Geralt mengangguk.
*****
Tak lama kemudian pintu ruangan dibuka seseorang tanpa permisi. Siapa lagi orangnya kalau bukan Edric. Geralt sudah hafal kebiasaan sahabatnya itu.
“ Hei bro!!! Apa khabarmu hah ? “ Seru Edric nyelonong masuk lalu menepuk bahu Geralt. “ Sekarang kau sombong sekali yah, mentang-mentang udah resmi jadi kekasih Alena, udah ketemu sama calon mertua pula. Waaah…. Harus dirayakan nih.” Ledek Edric sambil terkekeh senang.
“Argh…berisik !!! Punya mulut kayak perempuan.” Geralt menanggapinya dengan sinis dengan mata yang tetap menatap pada pekerjaannya.
“ Wooii……bro. Jangan buat aku patah hati lah. Sebagai sahabat aku turut bahagia jika kau bahagia. Kau sangat tidak adil bro, dengan semua orang kau sangat ramah hari ini kecuali padaku. Heh!!!” Cibir Edric kemudian menghempaskan bokongnya ke sofa.
Geralt selalu merasa aneh dengan tingkah Edric yang terkadang masih seperti remaja. Padahal usianya lebih tua
satu tahun di atasnya. Tapi hanya Edric yang tulus kepadanya. Edric selalu ada disaat senang maupun susah.
Mereka takkan bisa bermusuhan lama karena mereka berdua ibarat simbiosis mutualisme, saling membutuhkan.
Edric.
Edric mendengus kesal menatap sahabatnya yang tidak bisa diajak santai sedikitpun.
“ Permisi pak….,” Susan mengintip di ujung pintu. Ia membawa baki berisi dua cangkir kopi dan sepiring camilan.
“ Hmm…masuk!” Ucap Geralt memandang sekilas lalu kembali menatap Edric yang sedang tersenyum sumringah kearah Susan.
Dengan hati-hati Susan membawa baki tersebut lalu menyajikannya satu cangkir untuk Geralt dan cangkir lainnya untuk Edric di meja terpisah.
“ Maaf pak, apakah ada lagi yang anda butuhkan ?” Tanya Susan sebelum beranjak pergi.
“ Tidak ada lagi sekretaris Susan. Terima kasih kopi dan camilannya yah.” Kali ini Edric yang menjawabnya dengan
senyum dan tatapan menggoda.
Susan hanya tersenyum sopan menanggapinya. Ia sudah biasa diperlakukan genit oleh Edric. Lalu matanya beralih ke bosnya seakan bertanya apa lagi yang dibutuhkannya.
__ADS_1
Geralt menggeleng pelan dan mempersilahkan Susan meninggalkan mereka dengan kode tangan.
Sepeninggal Susan, Edric melemparkan sebuah amplop coklat C4 ke meja didepannya. “ Lihatlah ! “ Katanya pada Geralt. Lalu meraih cangkir kopi dan menyesap isinya. “Aaaahh…..Kopi buatan sekretarismu sangat nikmat. “
Geralt melangkah dari meja kerjanya dan duduk di sofa. Dengan cepat tangannya membuka tali amplop coklat tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar foto dan kertas laporan hasil visum.
‘ Apa ini hah ? “ Tanya Geralt sambil menatap penasaran ke Edric .
“ Heehhh….” Edric mendengus pelan sebelum menyenderkan punggungnya ke sofa. Kaki kanannya ia angkat ke atas kaki kiri. Lalu melipat kedua tangannya didada dengan mata menatap Geralt tajam.
“ Namanya Lina. Salah satu anggota tim make up artis kita. Dia yang bertugas melayani Alena saat malam insiden
itu. Keesokan pagi, salah satu office girl menemukan mayatnya tergeletak di toilet wanita di tempat shooting terakhir dalam keadaan tertembak di kepala. Menurut hasil autopsi dia di bunuh di malam sebelumnya, yaah…. Sekitar delapan jam sebelum ditemukan di TKP.”
Papar Edric.
“ Apa hubungannya dengan Alena ? “ Tanya Geralt.
“ Berdasarkan hasil visum, di tangan wanita itu di temukan sejenis serbuk racun….” Edric menghentikan sejenak untuk memberikan waktu bagi Geralt untuk menebaknya sendiri.
“ Maksudmu serbuk yang sama dengan hasil laporan pemeriksaan Alena ?’ Tebak Geralt dengan tatapan tak percaya.
“ Yups….. benar !” Edric mengacungkan jempolnya.
“ Artinya, jika serbuk racun itu ditemukan di tangan Lina maka sudah jelas waktu itu dia meracuni Alena saat
melakukan touch up pada riasan wajah Alena, mungkin di bedaknya. Apa mungkin gaun yang dikenakan juga ditaburi racun ? Karena sekujur tubuh Alena ikut terpapar.“ Curiga Geralt.
“ Ya sepertinya begitu. Sayangnya gaun itu sudah di laundry sebelum kita curigai.” Ujar Edric menanggapi.
“ Baiklah. Sekarang, apa motif dia mencelakai Alena ?” Pikir Geralt.
“ Cemburunya seseorang.” Jawab Edric santai.
“ Maksudmu ? “ Geralt tak mengerti.
“ Bukan Lina yang punya kepentingan, dia hanya sebuah pion. Kau tebak saja sendiri , kira-kira siapa yang merasa diuntungkan dengan insiden ini. Kau tahu kan, bagaimana Alena. Kemungkinan ia mempunyai musuh jika melihat dari pribadinya yang seperti dewi kebajikan itu rasanya tak mungkin ada. Tapiiiii…… Jika dikaitkan dengan dirimu yang menyukai Alena,,, dan itu bukan lagi rahasia. Semua orang tahu kau menyukai Alena bro…bahkan kau mencintainya kan, maka musuh Alena sudah bisa dipastikan adalah……. “ Edric lagi-lagi menghentikan ucapannya.
“ Livia….!!!” Tebak Geralt. Matanya berkilat, kedua tangannya mengepal sehingga buku-buku jarinya terlihat memutih.
Edric mengangguk. “ Tapi sayangnya kita tidak punya bukti kuat bro. Kerjanya sangat rapi. Alibinya kuat.” Lanjut Edric.
“ Shit!!! Umpat Geralt. Ia menggeram hebat. Ada perasaan sesal di hatinya. Karena cintanya, Alena hampir kehilangan nyawa. Dan kini ia harus membuat perhitungan dengan Livia.
__ADS_1
*****