Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
37. Rumah Tua


__ADS_3

Sania berhenti di depan Hana namun Hana bingung dengannya mengapa dirinya berhenti, Hana menatapnya perlahan-lahan dia mencoba menghapirinya dan menanyainya.


"Sania! Kamu kenapa?" tanya Hana melihat Sania yang terhenti dengan tatapan kosong. Sania tidak menjawab Hana terlihat wajahnya yang memucat dan juga bibir yang bergetar.


"Sania!" Kemudian Hana menyentuhnya. Seketika Sania pun jatuh lemas tak berdaya setelah di sentuh oleh Hana. Melihat adiknya yang seperti itu dia pun panik dan melihat sekelilingnya tidak ada seorang pun di sana.


"Sania kamu kenapa?" Berkali-kali Hana memanggilnya namun Sania hanya bisa menatapnya dengan wajahnya yang lemas dan pucat. "Sania!" Hana memeluknya dengan erat dia khawatir dengan dirinya. Di pangkuan Hana dia terbaring, Hari pun mulai terlihat gelap.


Hana tidak berdiam diri di sana lalu dia pun mengangkat Sania untuk di bawanya pulang. "Bertahan ya dek!" Ucap kesedihan Hana melihat adiknya itu, air mata Hana pun keluar dia tidak bisa membendung kesedihannya.


Hana menggendong adiknya berjalan keluar gang yang Ia lalui bersama adiknya sebelumnya dengan rasa khawatir dia terus berjalan dengan rintihan air mata dia terus berjalan.


"Kamu kenapa sih dek!" Ucap Hana dalam kesedihannya. "kok tiba-tiba jadi gini sih!" imbuhnya. "Kalo jadi begini kamu seharusnya enggak kesini" Kata Hana sambil menangis menggendong Sania.


Cheryl hanya melihatnya dari tempat kejadian itu dia tidak ikut serta bersama mereka, hari mulai senja matahari mulai turun dan tidak ada seseorang disana hanya Hana dan Sania disana.


Saat sudah berada di ujung gang dari lokasi tersebut Hana mencoba mencari taksi untuk di tumpanginya dan membawa Sania pergi dari situ. Tidak terlihat memang lokasi dimana Sania jatuh, gang yang sudah mulai gelap sinar matahari yang kian meredup.


Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu bersama adiknya yang entah apa yang terjadi dengannya sampai saat di mobil pun Sania masih seperti sebelumnya merasakan takut yang begitu hebat membuatnya jatuh lemah tak berdaya.

__ADS_1


Cheryl yang di tinggal sendirian di sana mencoba masuk ke rumah tua itu yang sebelumnya dia katakan ke Hana bahwa ayahnya berada disana dengan rombongan yang lainnya.


Tetapi terlihat tiada seorang pun yang terlihat hanya udara yang dingin, rumput yang begitu kering, dan satu batang pohon yang berada di samping rumah tua itu. Terlihat menyeramkan, di tengah-tengah senja dan cahaya matahari yang kian meredup membuat suasana semakin gelap.


Cheryl mencoba mendekat ke arah rumah tua itu berharap Ia dapat melihat ayahnya disana yang sempat di ikutinya tadi, setelah berada dekat dengan rumah tua itu tak terlihat seorang pun disana, dia mencoba masuk dan tidak menemukan apapun di dalamnya.


'Lho kok enggak ada siapa-siapa? 'dalam hatinya dia bertanya ke diri sendiri. 'Terus tadi waktu aku kesini bareng sama mereka, sekarang mereka dimana? ' Dalam hati Cheryl.


Dia sudah mengecek di seluruh ruangan rumah tua itu dan tiada seorang pun, namun tiba-tiba sesaat dia akan keluar dari rumah tua itu, terdengar ada suara dari belakang rumah itu. Ia belum mengecek area belakang rumah itu perlahan-lahan dia menghapiri suara itu.


Semakin dekat semakin terdengar jelan suara itu 'apa di dalam sana ayahku berada?' lalu dia mencoba mengintip pintu yang tidak terkunci terlihat ada dua orang disana yang sedang duduk dan yang satu sedang berdiri di samping pria yang duduk disana.


Pria itu juga mendekat ke arah pria yang disana yang sedang duduk itu, 'ada tiga orang disini berarti ada dua orang lagi sisanya yang masih ada di luar' kemudian Cheryl mencoba menyelinap ke arah mereka dan mencoba menakut-nakuti mereka bertiga disana.


Cheryl mencoba menjatuhkan beberapa benda di dekat mereka seperti guci, kotak di atas lemari dan juga beberapa balok yang ada di dekat pojok ruangan itu. Terlihat ada seseorang yang ketakutan akan hal tersebut.


"Bos kenapa suasananya jadi horor!" ucap seseorang itu panik. "ahh paling juga tikus lah, masa begitu aja kau takut!" ucap seseorang yang sedang duduk itu. Gubrrakk.. "Aaa apa itu!" ucapnya panik dia mencoba menengok dan melihat ke arah suara itu.


Sedikit tegang di dalam suasana rumah itu, seseorang yang begitu penakut tak kuasa di dalam sana dia pun lari keluar dari tempat itu. "hei hei! mau kemana kau!?" seru pria yang duduk itu. "Aku takut bos, aku keluar aja!!" Ucapnya sambil berlari keluar.

__ADS_1


"Dasar penakut sekali!" ucapnya sinis. "Ngomong-ngomong dimana yang lainnya?" tanya seseorang yang duduk itu ke rekannya yang berdiri du sebelahnya.


"Aku belum melihatnya dari tadi siang" katanya. Cheryl yang menakut-nakutin mereka hanya ada seorang yang ketakutan akan kelakuannya. Kemudian dia pergi keluar menyusul pria yang keluar tadi.


"Hanya ada satu orang yang ketakutan, lalu dia sekarang berlari ke arah mana?" Ucapnya dalam hati kemudian setelah itu dia keluar dan terlihat suasana di luar ada tiga orang di sana duduk di dekat mobilnya itu.


Pengelihatannya pun sedikit tak begitu jelas karena matahari yang sudah turun menutup sinarnya, dia mencoba pergi ke arah mereka bertiga. Sontak dia terkejut melihat ayahnya yang berada disana.


"Ayah!!" Ucapnya matanya mebelalak. Tetapi dia tidak mendengar yang Cheryl katakan barusan.


"Kau kenapa!" Ucap pria yang berdiri di dekat ayah Cheryl menanyai temannya yang berlari ke arah mereka. "Aku enggak apa-apa" Katanya dia membungkukkan badannya dan napasnya yang terengah-engah karena berlari.


"Di dalam tadi kayak ada hantu" ucapnya. "Hah!! Hantu!!" ucapnya kemudian temannya itu tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang barusan temannya ucapkan itu.


"Kamu serius ada hantu di dalam?" tanyanya dia masih sedikit tertawa. "Iya beneran tau!" Ucapnya serius. "Ah sudah lah, hei apa bos ada di dalam?" Tanyanya "Iya dia ada di dalam sana, aku takut kesana lagi!" Ucapnya dan menunjuk ke arah gudang itu.


Pria yang menanyai itu pun segera meninggalkan mereka berdua di luar dia masuk ke arah bos mereka yang ada di dalam. "Ayah ini aku!" Ucap Cheryl yang berada tepat di depan ayahnya.


"Kenapa ayah harus ngerampok begini?" Tanya lagi tetapi apa daya dia hanyalah sebuah Ruh yang terlepas dari raganya saat koma. Ayahnya pun tidak merespon ucapannya saat ini 'Seandainya kak Sania ada di sini pasti aku bisa bilang ke ayahku' ucapnya dalam benak Cheryl.

__ADS_1


__ADS_2