Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
41. Kamu Bukan Sania!


__ADS_3

"Syukur deh kamu udah baikkan Nia!" kata Lisa. Lisa tidak mengetahui secara pasti bahwa yang ia peluk itu sebenarnya bukanlah Sania melainkan Cheryl yang mengambil alih tubuh milik sahabatnya itu.


Tersirat senyum di wajah Sania 'maaf ya kak teman kakak aku rasuki' ucap Cheryl dalam hatinya itu. "Sania! ini minum dulu!" Lisa menyodorkan minum yang ia pegang dari tadi. Sania menerima minum dari Lisa dan meminumnya.


Angin spoi-spoi datang membuat suasana menjadi sejuk di tambah di bawah gedung yang terhalang panasnya cahaya matahari. "Sania kamu udah enggak kenapa-kenapa kan!" Lisa begitu sangat khawatir dengan sahabatnya itu.


"Iya aku enggak apa-apa kok" jawabnya. Setelah itu Sania masih mengajak Lisa untuk pergi ke rumah tua itu yang sebentar lagi sampai disana. "Lis, ayo kita kesana!" ucapnya. Lisa pun terkejut dengan Sania yang seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan kemudian mengajaknya untuk melanjutkan perjalanannya.


"Kamu serius Sania!!"kata Lisa sambil berseru. Sania pun mengangguk dan langsung beranjak dari duduknya. Lisa menatap Sania yang sudah berdiri di depannya itu. Ia tak habis pikir dengan sahabatnya mengapa masih kukuh untuk tetap ke rumah tua itu.


Padahal ia sempat mengalami pingsan dan juga sebelumnya ia begitu ketakutan, Lisa melihat ke jam tangannya melihat pukul 14.00 sore. Kemudian ia pun segera beranjak dari duduknya "Ya udah ayo kita kesana" kata Lisa dengan nada santai.


Mereka pun segera meninggalkan gedung tempat ia berteduk tadi menuju rumah tua yang sudah berada di depan matanya itu. Rumput yang sudah mengering pohon yang gugur daunnya dan rumah tua yang begitu kusam dindingnya.


"Nia!" seru Lisa ke Sania secara perlahan. "egh" Sania menolehnya. "kok rumah ini keliatan serem sih" kata Lisa dia meraih lengan Sania dan memegangnya begitu erat. "Iya, mungkin pemiliknya udah meninggalkan rumah ini bertahun-tahun" kata Sania.


Mereka sudah sampai di depan halaman rumah tua itu terlihat jelas pintu rumah itu terbuat dari kayu yang cat warna coklatnya memudar dinding berwarna putih sedikit mengusam berubah menjadi warna abu-abu.

__ADS_1


Mereka mendekat ke pintu itu, Lisa melongok-longok dari jendela sebelah pintu itu, tidak ada seorang pun yang ia lihat dari jendela itu. "di dalam sini kosong Nia" katanya yang sedang mengintip dari jendela.


Sania mencoba membuka pintu depan itu 'Krekk!!!" bunyi gagang pintu yang sudah menua yang jarang di gunakan hingga berbunyi, saat ia membuka dan ternyata pintunya tidak di kunci. Setelah pintu di buka mereka pun segera masuk ke dalam dan Lisa memeriksa setiap sisi ruangan.


Cheryl yang sudah memeriksa semua ruangan sebelumnya ia pun langsung segera ke pintu belakang dan mengintip dari sela-sela pintu kayu itu ia melihat ada seseorang disana."Lisa! Sini!"ucap Sania berbisik.


Kemudian Lisa pun mendekat ke Sania "Apa Nia?"ucapnya dengab tatapan yang begitu polos, kemudian Sania menunjuk ke pintu itu dan Lisa pun menengok dan mengintipnya.


Ia begitu terkejutnya dengan apa yang ia lihat disana. "Nia!! di sana ada orang"katanya ia juga berbisik. Seseorang yang berada di dalam itu tidak mengetahui kehadirannya Lisa dan Sania itu. "Terus sekarang gimana Nia!" bisik Lisa.


Membuat langkah mereka begitu sangat hati-hati agar tidak begitu berisik dan juga menginjak kotoran yang lain di lantai. Lisa perlahan-lahan mundur dari tempat ia berdiri menjauhi pintu belakang yang ia berdiri bersama Sania.


Sania melihat wajah Lisa yang begitu tampak pucat karena ketakutannya. Saat Lisa sedang mundur perlahan-lahan itu Sania mencoba mendekat ke arahnnya dan mengajak ngobrol Lisa.


"Lisa" ucap Sania memegang tangan Lisa. Lisa pun berhenti mundur dan terdiam di situ di pegangi oleh Sania. "Kamu enggak perlu khawatir kok" ucap Sania dengan nada yang begitu lembut berbicara dengan Lisa.


"Aku cuma takut kok Nia!".. "Di dalam sana ada seseorang mungkin aja kan, kalo dia tau kita di sini kita bisa di tangkap!" ucap Lisa ia begitu panik dengan suasana seperti itu. Itu lah Lisa ia memang penakut dan juga mudah panik.

__ADS_1


"Kak Lisa!" Ucap Sania. Lisa pun terkejut mendengar itu dari mulu sahabatnya itu dan kemudian dia bertanya lagi ke Sania "kamu barusan bilang apa Sania?" kata Lisa ia tidak begitu yakin dengan yang di ucapkan oleh Sania itu.


"Kak!!" ucapnya lagi dan ternyata ia tidak salah dengar dengan yang di ucapkan Sania tadi "kamu siapa!!!" Seru Lisa ia melotot ke arah Sania dan melepaskan tangan Sania yang memeganginya.


"Kamu siapa!!".. "Kamu bukan Sania!!" ucapnya begitu panik ia pun langsung mundur dengan cepat. Melihat temannya yang aneh itu Lisa menjadi begitu sangat ketakutan. Di dalam rumah tua itu ia merasa seperti masuk ke dunia lain baginya.


"Kak!!" ucap Sania ia maju mendekat ke Lisa yang mundur menjauhi dirinya. "Kak ini aku Cheryl!!" katanya terlontar dari mulut Sania. Mendengar itu Lisa pun langsung berhenti bergerak mundur.


Dia terdiam dan tertunduk dengan apa yang ia barusan dengar. "Ka.. ka.. kamu Cheryl!!" kata Lisa yang gugup. "Iya kak, aku Cheryl!" katanya sekali lagi. "Aku dari tadi memang ikut dengan kalian dari sekolah tadi" katanya dengan jelas.


Mereka yang sedang berdiri pun segera duduk. Nampaknya Lisa yang begitu luar biasa ketakutan mulai sedikit tenang dan mulai kembali seperti biasannya. "Aku tadi melihat kakak menangis terus dan ngerasa kasihan, terus juga menunggu kak Sania sadar itu juga lama" katanya mencoba menjelaskan itu semua ke Lisa.


Lisa yang dari tadi mendengarkan yang di ucapkan Cheryl itu mencoba untuk memahaminya. "Jadi aku ambil alih sementara tubuh teman kakak ini, untuk terus menuju rumah ini dan membawa bertemu ayahku" ucapnya.


Lisa pun paham apa yang di rasakan olwh Cheryl ia mengangguk-angguk paham. "oo jadi begitu, kenapa kamu enggak bilang aja dari waktu bangun tadi? jadi kan aku enggak begitu ketakutan waktu kamu bilang kakak barusan" terang Lisa.


Cheryl mencoba meminta maaf ke Lisa atas apa yang ia lakukan ke dirinya dan juga ke sahabatnya itu. "maafin aku ya kak, udah bikin kakak takut sama enggak bilang kalo tubuh kak Sania aku ambil alih" katanya ia pun menundukan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2