
"Eh kamu bawa minum Nia, makasih ya" kata Lisa kemudian dia mengambil minum yang di berikan Sania. "Di sebelah mana Nia?" tanya Lisa. "ini kita masuk ke gang ini Lis" ucapnya dan menunjuk ke arah gang yang sedikit remang-remang itu.
"Serius!!" kata Lisa dia tidak yakin dengan yang di katakan Sania bahwa mereka akan masuk ke dalam sana. "iya, Lisa tapi kok aku rasa aku gugup" kata Sania dia menggenggap tangannya erat-erat. Lisa melihat ke khawatiran Sania dia merasa ragu.
"Ya udah kita kesana aja yuk" kemudian Lisa pun beranjak dari duduknya itu. Mereka melangkah perlahan-lahan ke arah gang itu. "Lis aku takut!" kata Sania memegang tangan Lisa dan memeluknya begitu erat.
"aku juga takut Nia" kata Lisa melihat area sekeliling gedung yang penuh coretan itu udara disana pun sedikit lembab karena sinar matahari di tempat itu tidak tembus ke dalam gang yang mereka lalui.
Mereka berjalan menyusuri tempat itu seketika ada tikus berlari ke arah samping di depan mereka, mereka pun teriak dan terkejut dengan bunyi yang di lalui oleh tikus itu, Krasakk...
"WHAAAA..!!!" "APA ITU SANIA!!" Seru Lisa memejamkan matanya dan teriak sekeras-kerasnya. Sania juga ikutan terkejut di area itu namun dia melihat seekor tikus yang lewat.
"itu tikus Lisa!!" kata Sania dengan nada yang sedikit tegang karena teriakan Lisa. Lisa masih saja teriak "Aaaa!!" Teriaknya ketakutan. "Kita pergi aja dari sini yuk!" kata Lisa ia begitu ketakutan sampai-sampai bersembunyi di balik badan Sania.
Berkali-kali Lisa menghela napas dan menelan ludahnya badan ia sedikit tertunduk di belakang Sania mukanya memerah dan memegang botol air milik Sania dengan erat.
"Ayo kita kesana Lis," kata Sania. "Aku takut Nia, jangan kesana deh!" ucap Lisa dengan suara yang begitu datar dan memandang ke arah depannya.
"Kak! ayo kita kesana" kata Cheryl di samping Sania dengan tatapan yang memohon untuk dirinya ikut dengannya dan menemui ayahnya. Sania melihat ke arahnya dan hanya mengangguk.
__ADS_1
"Sania kita pulang aja yuk" kata Lisa dia cemas dengan keadaannya saat ini melihat ke jam tangannya menunjukkan pukul 14.00 mereka masih berhenti di situ karena seekor tikus tadi.
"bentar lagi deh Lis, ini kita mau ke sana dulu bareng si Cheryl" ucapnya. Tak sampai lama mereka berhenti di situ mereka pun segera melanjutkan ke tempat itu.
Setelah sampau di ujung gang tersebut Sania merasakan hal yang lebih menyeramkan lagi tiba-tiba dia melihat banyak sekali sesosok hitam di area seluas itu. "Sania kamu kenapa?" Lisa menayai Sania yang memejamkan matanya secara mendadak.
"Lisa di sekitar sini aku kemarin pingsan" katanya dia masih memejamkan matanya tampaknya dia sangat ketakutan akan kehadiran mereka disana. "apa yang kamu lihat sampe kamu pingsan gitu?" katanya.
"Sania!!" terdengar suara seseorang pria yang memanggil dirinya itu "Sania!" dia berkali-kali memanggilnya. Setelah itu Sania mencoba membuka matanya itu dan melihat pria hitam yang sering membayanginya.
"Ehh kamu" kata Sania melihat sang pria hitam itu sudah tidak asing lagi baginya. "sepertinya kamu sudah tidak takut lagi akan kehadiranku di sekitarmu" kata si pria itu. "awalnya memang menakutkan melihatmu muncul di sekitarku tapi aku udah biasa denganmu" kata Sania.
Seketika pria itu merubah wujudnya menjadi pria yang sangat tampan dan tampilan hitamnya itu berubah menjadi pakaian yang sering ia pakai. "aahh silau!!" kata Sania melihat pria itu yang memancarkan sinar yang begitu terang di hadapannya.
"kamu siapa sebenarnya?" tanya Sania setelah sinar yang muncul hilang dan melihat pria itu, Sania begitu terpesona melihat pria itu yang sebelumnya ia mengira kalau dia adalah orang yang jahat.
"Suatu saat nanti kamu pasti tau siapa aku, untuk saat ini yang harus kamu lakukan adalah jangan pergi ke rumah tua itu" kata sang pria itu. Setelah mengobrol di alam dimensi yang begitu gelap, pria itu mengeluarkan Sania dari dimensi itu.
"Kenapa!!" "Ada apa disana!!' Sania berteriak ke pria itu yang perlahan menjauh dan juga Sania perlahan kembali ke tempatnya semula. "Ahh!!" Ucap Sania sambil mengembuskan napas yang begitu cepat.
__ADS_1
"Sania kamu kenapa lagi!!" Lisa menanyainya lagi ke Sania karena khawatir akan terjadi sesuatu dengannya. Sania hanya menengok ke arah Lisa kemudian dia melihat ke arah rumah tua itu lagi. Tetapi dia melihat sesosok wanita berbaju putih rambut yang berantakan dan wajahnya hancur. "Aaww!!!!!" Sania berteriak dengan cepat dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sania ada apa!!" seru Lisa yang panik melihat Sania seperti itu. "Lisa aku takut!!" seru Sania yang begitu ketakutan. "Kak!!" suara Cheryl memanggilnya. "Sania!!" Suara Lisa berkali-kali memanggilnya.
Suasana di tempat itu begitu mencekam, Sania kembali membuka matanya dia mengintip di sela-sela jarinya dan melihat banyak sekali sesosok penampakan disana. Dengan biji matanya yang melotot melihat kearah mereka dan keringat dingin yang bercucuran.
Detak jantung terus berdegub cepat napas yang sudah tidak teratur. Perlahan-lahan pandangannya menjadi kabur, "Sania!!" terdengar Lisa memanggilnya namun sepertinya suaranya begitu jauh. "Sania!!" ujar Lisa yang terus memanggilnya.
Sania pun terjatuh pingsan lagi disana "Sania!!" "Sania!! kamu kenapa!!" kata Lisa melihat Sania yang terjatuh itu, Lisa menjadi panik dia terus menggoyang-goyangkan badan Sania tetapi tidak ada respon.
***********
Sudah 30 menit berlalu Sania pingsan tak kunjung sadar membuat Lisa menjadi khawatir dengannya. Cheryl yang sedari tadi diam dan memandangi Sania dia mencoba memasuki tubuh milik Sania.
"Maaf ya kak, aku ambil alih sementara tubuh kakak!" kata Cheryl dia pun masuk ke dalam tubuh milik Sania. "Sania ayo bangun!" Lisa terus mencoba membangunkan Sania. Seketika itu ada respon ketika Lisa menyentuhnya lagi.
"Sania!!" seru Lisa kegirangan melihat Sania merespon dirinya. Sania membuka matanya dan melihat Lisa yang berada di samping dirinta yang sedang duduk menungguinya. "Sania!! Syukur kamu udah baikan!" seru Lisa secara cepat ia memeluk Sania yang sedang berbaring itu.
Air mata milik Lisa begitu tidak tertahankan dan mengalir, dia sangat khawatir dengan Sania, Dia melepas peluknya dan memandang Sania dengan tersenyum di wajahnya. Sania melihat Lisa yang yang menangis itu mencoba mengelap air mata Lisa.
__ADS_1