Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
50. Semakin Memburuk, Lisa Tahu Lokasinya


__ADS_3

"Tolong!!" ... "TOLONG!!"


Seorang wanita tengah di rampok dan berusaha melawan, dia berlari menjauhi 2 orang pria yang terngah merampoknya, "Tolong!!" dia berteriak-teriak tidak ada seorang pun yang datang.


Dia masih berlari ketakutan menghindari 2 perampok yang masih mengejarnya. "Tolong aku!!" teriaknya ketakutan, dia menangis.


Kedua perampok itu mendapatkan tangan wanita itu dan memegangnya secara bersamaan kanan dan kirinya menjegal tangannya supaya tidak bergerak melawan. "Ampuunn!!" ucapnya merengek ke perampok itu.


Salah dari seorang perampok itu memberi perlawanan kasar dia memukul wajah wanita itu. "Aahh!!" kepalanya miring ke arah kiri dengan rambut menutup wajahnya.


"Jangan!!" ... "Jangan!!" teriaknya lagi, perampok itu melepaskan tangan mereka seketika itu wanita itu terjatuh. "Tolong!!" ucapnya lagi.


Setelah perampok itu menjatuhkan wanita itu dia memukul wajahnya.


Sania membuka matanya secepat mungkin, dia memimpi kan hal yang mengerikan, "Astaga cuma mimpi" ucapnya, dia mengelap keringat yang ada di wajahnya. Dan melirik ke arah jam dinding.


"Baru jam 2" Ia duduk dan mengambil segelas air di mejanya. "Huuff" Dia menarik napas yang panjang dan mengembuskannya. "Kenapa aku bisa mimpiin itu sih" katanya.


"Tapi semoga nggak ada hal buruk yang aku dapat hari ini" dia kembali meneguk airnya dan setelah itu kembali tidur.


***********


Alarm jam kamar Sania berbunyi tepat pukul 6 pagi dia segera bangun keluar kamarnya. "Pagi kak!" sapanya dengan wajah yang masih mengantuk dan mulutnya yang menguap.


"Pagi, kok tumben baru bangun jam segini?" kata Hana. "Hmm, aku semalam kebangun" ucapnya dari dapur. Ia sedang mencuci mukanya. "Kebangun kenapa?" ujar Hana.

__ADS_1


"Aku ngimpi kak" Sania mendekat ke meja makan dan langsung duduk. "Ngimpi buruk ya?" kata Hana dia pun mengira-ngira akan hal itu, karena dia tau kalau Sania bangun di dini hari pasti dia mimpi buruk.


"Cuma mimpi buruk doang kok!" kata Hana, Ia menuangkan segelas air susu dan meletakannya di dekat Sania. "Mm, tapi aku takut itu jadi kenyataan kak!" kata Sania dia sambil mengunyah sepotong roti.


***********


"Hari ini saya akan coba memeriksa anak bapak, nanti siang saya akan kembali ke kamar Cheryl lagi" kata dari dokter yang barusan memeriksanya, dia akan membawa Cheryl ke ruangan perawatan untuk pengecekan lebih lanjut.


"Baik dok, saya akan menunggu siang nanti disini" katanya, "Kalau begitu saya permisi dulu pak" ... "Mari dok!" Dokter itu pergi meninggalkan ruangan Cheryl.


"Jadi aku bakalan akan sembuh, dan aku nggak lagi gentayangan jadi ruh begini?" kata Cheryl yang mendengarkan ucapan dokter barusan.


Dia tersenyum bahagia mendegar yang di katakan dokter tadi, "Akhirnya aku bisa memeluk mereka lagi" ucapnya dan memandang ke arah ke dua orang tuanya.


************


"Udah lama kamu disini?" kata Lisa, "Nggak kok Lis, aku juga baru kok" jawabnya santai. "Aku tadi coba nyari tau tentang lokasi yang kemarin Nia, tapi kayaknya aku pernah tau deh" ucap Lisa.


"Ehh kamu serius Lis?" ... "Dimana?" seru Sania dengan senang mendengar yang di katakan Lisa. "Iya, kalo nggak salah tuh, aku pernah lewat deh" Ucapnya.


"Dimana Lis?" .. "Aku coba ingat-ingat dulu deh" katanya sambil mengingat lokasi tersebut. Tidak beberapa lama kemudian Bus Sekolah datang mereka berdua segera naik, "Eh Lis udah belum?" tanya Sania yang semakin penasaran dengan lokasi itu.


"Iya sebentar deh, aku sedikit lupa" ucapnya, Lisa duduk di sebelah Sania sambil memandang ke arah luar. Dia masih mencoba mengingat lokasi itu, sesaat sebelum sampai di sekolah kurang lebih ada sekitar 500 meter dari sekolahnya.


Lisa melihat kearah belakang sekolahnya, Dia melihat belakang sekolahnya itu sama dengan yang di katakan Sania sebelumnya. "Eh Nia, itu tuh kayaknya sama deh yang kamu bilang" ucap Lisa menunjuk kearah bekalang sekolahnya.

__ADS_1


"Di jalan setapak itu Lis?" tanyanya. "Iya coba deh nanti kita turun kesana dulu" kata Lisa mengajak Sania ke lokasi tersebut. Setelah turun mereka langsung berlari ke arah jalan setapak yang berada di belakang sekolahnya.


"Nah disini Nia!!" ucapnya. Sania melihat sekelilingnya kemudian dia memandang ke arah depannya, ada sebuah tiang listrik dan ada lampu jalan disana. Dan jalan itu berbelok ke arah kiri.


Disana hanya ada pagar beton yang tinggi tidak ada rumah ataupun keramaian disana. "Bener Lis, kayaknya disini deh!" ucap Sania.


"Tapi aku cuma ngira-ngira aja kan, lagian aku pernah lewat sini waktu aku pergi ke rumah sepupuku" ucap Lisa. "Ya udah yuk kita masuk ke kelas aja" Sania langsung mengajak Lisa, mereka berdua yang berada di lokasi tersebut langsung meninggalkannya.


"Saat sudah berjalan beberapa meter dari lokasi Sania dan Lisa melihat wanita yang kemarin itu dia berada di dekat jalan setapak itu. "Lis!!" "Sania!!" mereka memanggil nama masing-masing. "Itu bukannya perempuan yang kemarin ya?" Ucap Lisa.


Sania mengangguk dan berkata "Iya Lis, itu dia!!" Sania menunjuknya. "Ayo kita kesana!" mereka berdua berlari menghapiri wanita itu. Setelah dekat dengan wanita itu Sania lagi-lagi melihat aura buruk milik wanita itu.


Dia langsung berhenti berlari. "Kenapa Sania?" Lisa pun ikut berhenti dan menanyakan langsung ke Sania. "Aku lihat lagi Lis" ucapnya. "Kamu lihat aura itu lagi?" kata Lisa


"Iya, sekarang warnanya sedikit gelap, kemarin warnanya dikit abu-abu" ucap Sania. Sania sambil menunduk memandangi wanita itu dia teramat sangat takut melihat warna auranya itu.


Dia juga menengok ke arah lokasi dimana wanita itu akan terjadi nantinya, Dan benar saja yang di katakan Lisa sebelumnya, Sania langsung melihat aura di lokasi itu dan melihat gambarannya.


Sania sangat panik dengan yang dia lihat itu, "Lis, aku takut!" ucapnya sambil menunjuk ke arah lokasi itu. "Kenapa Sania? Ada apa?" Lisa pun tak mengerti yang di katakannya itu.


"Aku lihat dia disana! aku lihat dia di bunuh!" ucapnya, Lisa melihat Sania yang begitu panik langsung menenangkannya. "Ayo Nia aku bantu" kata Lisa.


Lisa mengajak Sania ke dekat halte bus sekolahnya, mereka berdua duduk disana, Lisa masih memperhatikan Wanita itu dia masih berdiri di sana.


"Sania kamu masih takut?" tanya Lisa, Sania masih memejamkan matanya itu karena ketakutan melihat aura seseorang. "Sania lihat aku!" kata Lisa dia memerintahkan untuk menatap Lisa.

__ADS_1


Sania perlahan membuka matanya. Dia mash melihat aura milik seseorang di sekelilingnya, tetapi dia tidak begitu berani melihat ke arah Wanita itu, ataupun ke arah Lokasi itu.


__ADS_2