
Sania dan Lisa meninggalkan kantor polisi dan menuju pinggir jalan mencari mobil taksi. "Kita langsung pulang aja yuk Lis!" kata Sania.
"Mm, ayo kita naik taksi aja" kata Lisa, ia melihat ke kanan dan kirinya mencari mobil taksi.
Setelah menunggu beberapa lama mobil taksi datang. Lisa melambaikan tangannya dan menghentikan laju mobil taksi tersebut. "Sania ayo!" kata Lisa dekat mobil tersebut.
Sania mengangkat barang bawaannya yang ada di tangannya itu dan menaiki mobil taksinya. Lisa pun ikut masuk ke mobil. Sania duduk di dekat pintu sebelah kirinya dan melihat ke arah para komplotan itu.
Tidak sengaja ia melihat ayah Cheryl disana, ayah Cheryl tertangkap polisi, ia berdiri di dekat para komplotannya. 'Itu kan!' dalam pikirnya mencoba mengingatnya.
"Ayahnya Cheryl!" ucapnya berbisik. "Sania kenapa?" tidak sengaja Lisa mendengar bisikan Sania barusan. Sania kemudian langsung menghadap ke arah Lisa. "Aku cuma khawatir sama Kak Hana." ucap Sania.
Ia mencoba menyembunyikan sesuatu Lisa dan mengubah perkataannya tadi. "Kak Hana pasti baik-baik aja kok, kan kamu sebelumnya udah cegah dia!" kata Lisa. Ia tersenyum ke Sania.
Namun di balik senyuman Lisa itu dia masih saja tidak percaya dengan hari ini yang di lalui bersama Sania. 'Aku yakin Sania ini orangnya spesial, dia bisa prediksi hal-hal yang belum berjadi' dalam hatinya berkata demikian dengan tatapan serius ke Sania.
"Lisa!! kamu kenapa?" Sania menatap Lisa yang memandanginya serius. "Ehh enggak kok, aku sedikit melamun!" kata Lisa. Ia kemudian membuang pandangannya dari Sania langsung ke arah depannya.
"Kemana mbak?" ucap Pak Supir, "Ke mini market pak! nanti deket mini market kita turunya!" kata Lisa memberitahukan alamat mereka turun.
Saat mereka berdua di perjalanan pulang, terutama Sania yang selalu merasakan hal aneh setiap melintasi ataupun melewati tempat-tempat asing, Kali ini dia justru merasakan hal yang masih berkaitan dengan wanita yang berjualan di depan sekolahnya.
__ADS_1
Sania memiringkan badannya dan berbisik ke Lisa "Lis! aku masih di hantui sama bayang-bayang mbak itu lagi!" ucapnya. "Kamu yakin?" Lisa sudah tidak terkejut lagi dengan yang di ceritakan oleh Sania.
"Iya, kayaknya ini bukan hal perampokan itu lagi deh tapi hal lain" ucap Sania. "Hal lain apa? maksudnya gimana?" Lisa bingung dengan hal lain itu, yang sebelumnya Sania lihat adalah perampokan yang menewaskan seorang wanita di belakang sekolahmya.
Namun kali ini Sania merasakan dan pandangan lain dari bayangan yang ia lihat akhir-akhir ini. "Aku yakin banget Lis, dia bakalan tewas!" Mobil mendadak berhenti saat Sania berkata demikian.
Mobil yang melaju sedikit kencang itu mendadak berhenti, karena ada kendaraan lain yang juga berhenti mendadak, Lisa yang sedang mendengarkan ucapan Sania itu badannya bergerak ke arah depan dan berusaha menahan pada kursi depan sebelah kiri kursi supir.
"Aa aduh aduh!" kata Lisa menahan badannya pada kursi depannya. Tidak hanya Lisa tetapi Sania juga demikian ia juga menahan badannya pada bagian belakang kursi supir. "Aduh aduh!" Sania menahan badannya.
"Ehh! maaf mbak tadi ada yang berhenti mendadak di depan" kata Supir melihat ke arah Sania dan Lisa dari kaca spion atas mobilnya. Kemudian Sania dan Lisa kembali duduk seperti semula.
"Ya udah pak, Hati-hati ya!" kata Lisa ia juga menatap ke arah spion atas mobil. "Iya mbak!" Sahut sang Supir. Setelah berhenti sekitar 2 menit karena kemacetan mobil pun segera melaju kembali.
"Aku juga kurang tau pasti Lis, yang jelas kita cuma nunda waktu dia aja!" ucap Sania. "Nunda waktu? maksud kamu nunda waktu dia tewas?" kata Lisa.
"Kemungkinan sih gitu! tapi aku punya firasat buruk itu!" kata Sania. "Ya udah kita coba besok temuin mbaknya lagi" kata Lisa.
Beberapa saat kemudian mobil yang mereka naiki melambat dan perlahan berhenti di mini market dekat rumah mereka.
Lalu mereka berdua kemudian turun dan langsung menuju rumah mereka. "Semoga aja hari ini mbak itu nggak kenapa-kenapa, aku harap gitu" kata Sania berjalan bersebelahan dengan Lisa.
__ADS_1
"Aku juga berharap begitu, tapi kalau kita nunda waktu dia, berarti dia cuma ke tunda berapa hari, abis itu dia tewas!" kata Lisa. "Kemungkinan ini udah jalan takdir dia kali Lis!"
"Jalan takdir ya!" Seketika Lisa mengingat kejadian kebakaran di rumah sakit tadi. "Eh kalo waktunya ketunda--!!" Lisa langsung menatap Sania serius. "Kamu ngertikan Nia?" ucap Lisa dengan tatapan seriusnya.
"Jangan mikir yang nggak-nggak! kak Hana baik-baik aja kok!!" Sania langsung memikirkan hal itu, dan itulah yang di maksud Lisa barusan. "Aku nggak gitu, aku juga khawatir sama Kak Hana!" ucap Lisa.
Sania kemudian tertunduk kepalanya raut wajahnya menunjukan kesedihan. "Aku yakin kak Hana nggak kenapa-napa!" ucapnya.
Lisa mendekat dan memegang pundak Sania, "Jangan kan kamu Nia, aku juga berharap begitu!" ucap Lisa. Ia menatap Sania yang tengah tertunduk itu.
"Kan kamu bisa lihat bayangan orang lain, jadi kenapa kamu harus takut? kak Hana mungkin cuma hari ini yang kamu lihat itu, terus kamu lihat lagi udah nggak ada lagi kan yang nyelimutin Kak Hana?" kata Lisa ia memberi semangat ke Sania.
"Iya Lis, aku juga tadi waktu coba cegah kak Hana seketika aura hitamnya ilang gitu aja" kata Sania.
"Ya udah yuk kita pulang! udah nggak perlu kamu cemasin gitu" Mereka berdua kemudian berpelukan Lisa memberi semangat ke Sania yang tengah bersedih itu.
Sebenarnya yang di katakan Lisa itu ada benarnya, Sania hanya mencegahnya sementara dan tidak bisa mengubah takdirnya terkecuali orang itu sendiri yang mau mengubahnya. Sania hanya memberitahukan apa yang ia lihat.
Begitu juga dengan Hana, Sania juga merasakan hal yang sama yang ia rasakan ke pada wanita itu. Namun karena Hana itu adalah Kakaknya, Sania bisa mencegahnya dan memberitahunya kalau Hana akan mengalami hal buruk sesuai yang Sania lihat.
Aura buruk yang Ia jumpai di rumah Sakit itu hanyalah aura yang sementara, tetapi Sania merasakan hal buruk lainnya pada Hana.
__ADS_1
Sania bersedih di hadapan Lisa karena dia merasakan hal itu, sama persis yang di duga oleh Lisa, Sania bersedih karena ia berusaha menutupi hal itu.
Ia ingin memberitahu ke Hana untuk tidak pergi dalam beberapa hari nanti karena Sania khawatir akan yang ia rasakan, yang Sania rasakan adalah rasa kesedihan akan kehilangan Hana.