Sania Anak Indigo

Sania Anak Indigo
48. Aura Buruk!!


__ADS_3

Bel sekolah berdering panjang berkali-kali menandakan pelajaran selesai, para siswa segera berkemas dan merapikan barang-barang mereka.


Semuanya segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Saat Sania sedang merapikan bukunya, jarinya tertusuk jarum di tasnya. "Aww!!" serunya dan menarik tangannya secara reflek.


Dia memeriksa jarinya yang tertusuk dan menekannya, darahnya keluar tetapi tidak banyak dan juga tidak menetes, darahnya hanya menempel di bagian lukanya.


"Ada apa Sania?" Lisa dari kursinya beranjak mendekat ke Sania. "Aku ke tusuk jarum Lis!" ucapnya. "Nih aku bawa tisu" Lisa mengambil tisu yang ada di saku bajunya dan memberikannya ke Sania.


Di kelas hanya tinggal mereka berdua Widia dan Febby di luar kelasnya mereka menunggu Sania dan Lisa untuk segera keluar. "Ya udah ayo kita keluar!" Lisa berjalan duluan. Sania mengelap darahnya menggunakan tisu yang di berikan Lisa.


Setelah itu dia berjalan menghapiri Lisa. Tetapi ada hal yang aneh yang terjadi dengan Sania. Tiba-tiba dia merasa aneh, layaknya halusinasi tetapi dia tidak mengalami halusinasi.


Ia juga langsung memegang lengan Lisa yang berada di sebelahnya. Sania terlihat seperti sedang pusing mendadak jika di lihat secara normal. Namun berbeda yang di alaminya ia tidak pusing.


"Kamu kenapa Sania?" Lisa pun bingung ia secara langsung memegang Sania. Setelah mereka berdua sampai di luar. Widia dan Febby menoleh ke arah mereka berdua, Secara cepat langsung menolong Sania.


"Sania kenapa Lis?" Widia langsung menanyai Lisa yang tengah menggandeng Sania. "Aku juga nggak tau kenapa, tau-tau begini!" ucapnya.


Sania tidak memiliki tenaga lagi dia amat sangat lemas. Entah apa yang dia alami itu dan itu membuat teman-temannya khawatir. Mereka membawa Sania ke ruang UKS. Di sana masih ada seorang guru.


"Bu! tolongin bu! Sania pingsan!" Seru Teman-teman Sania. Guru keluar dan melihat Sania yang terlihat tak berdaya itu langsung membantunya. "Kenapa Sania Nak!" tanya.

__ADS_1


Mereka semua geleng-geleng kepala menunjukkan tidak tau menau mengapa Sania bisa seperti itu.


20 menit berlalu Sania kembali sadar, Ia membuka matanya melihat sekelilingnya dan melihat teman-temannya. "Ehh! Sania kamu udah sadar!" Seru Febby melihat Sania yang sudah siuman.


Sania duduk di kasur UKS "Aku kenapa masih di sekolah?" Katanya. "Kamu tadi keliatan kayak orang pusing gitu, terus kita bawa kesini deh!" jawab Lisa.


"Kita pulang yuk, maaf ya ngerepotin kalian jadinya" ucap Sania yang merasa tidak enak dengan teman-temannya itu. "Kamu udah baikan?" Widia menanyakan itu karena takut Sania masih seperti sebelumnya.


"Aku udah nggak kenapa-kenapa kok!" ucapnya.


Mereka keluar dari dalam UKS untuk pulang. Lisa, Widia, Febby memperhatikan Sania yang sedang berjalan mereka beriringan menjaga Sania, karena khawatir dengannya takut ia terjatuh.


Saat di depan gerbang Sania melihat orang-orang yang berada di jalanan. Dia melihat aura milik orang-orang, aura itu bermacam-macam warnanya. Tapi ada satu yang menarik perhatian Sania, ya itu aura milik seseorang gading yang berada dekat dengannya.


Tidak menyangka saat dirinya menyentuhnya dia langsung di perlihatkan hal yang mengerikan dari seseorang wanita itu. Sania di perlihatkan wanita itu yang di rampok dan kemudian dirinya tewas terbunuh.


Sania melihat sesuatu hal dari diri seseorang itu merasa sangat terkejut dan syok dia mundur beberapa langkah setelah dia menyentuh lengan tangan wanita itu. Beruntungnya Sania tidak terjatuh karena di belakangnya ada teman-temannya.


"Ada apa mbak?!" Wanita itu menyapa balik Sania dia melihat Sania yang seperti itu pun merasa aneh dengannya. 'ini anak kenapa sih?' itulah yang ada di dalam pikiran wanita itu.


"Maaf mbak, salah orang" ucap Sania. Dia langsung merubah sikapnya yang terlihat ketakutan tadi. Sania membungkukkan badannya dan langsung menuju ke halte. "Sania kamu kenapa sih? itu kamu kenal?" Tanya Lisa. Mereka berempat berjalan cepat ke Halte.

__ADS_1


"Aku nggak kenal Lis, tapi aku tertarik" ucapnya yang tidak menjelaskan secara rinci membuat mereka bertiga bingung. "Tertarik masudnya gimana?" Kata Lisa.


Mereka berempat langsung duduk di kursi Halte. "Coba Nia, ceritain apa yang buat kamu tertarik sama dia?" Widia ingin tau hal yang membuatnya menarik kata Sania barusan itu.


"Kalian juga pasti nggak percaya sama yang aku lihat" ucap Sania, seolah-olah dirinyalah yang paham. "Apaan sih Nia?, kasih tau aja" Lisa yang semakin penasaran itu memaksa Sania untuk memberitahunya.


"Aku melihat wanita itu tewas!" Ucap Sania berbisik dan sambil melirik ke wanita itu. "HAH!!" bereka bertiga kompak, "Kamu nggak becanda Nia!!" Kata Febby dia sedikit ragu dengan yang di katakan Sania. Tetapi ia juga pernah mendengar cerita Sania saat sedang menginap di rumahnya.


"Kamu beneran Nia!" Widia juga berbisik ke Sania, dia masih kurang yakin dengan yang di ucapkannya. "Aku beneran!" Sania mengacungkan tanda dua jari.


Bus sekolah datang di saat mereka sedang serius-seriusnya membahas kematian wanita muda itu, Wanita yang memakai baju merah dan memakai topi dan wanita itulah yang di maksud Sania.


Di dalam bus Sania menceritakan hal yang ia lihat itu, agar teman-temannya percaya dengan yang ia lihat barusan. Ia menceritakan bahwa Wanita tadi sebelum tewas ia mengalami perampokan di sebuah jalanan.


Di jalanan itu amat sepi dengan lampu jalan yang tidak begitu terang. Setelah perampok itu mendapatkan hasil, wanita itu di seretnya dan di bunuhnya dengan kejam.


Itu lah yang di lihat oleh Sania saat menyentuh lengan Wanita berbaju merah tadi, "Tapi kalo memang dia ngalamin perampokan gitu dan akhirnya tewas, kita harus hentiin dia dong" kata Widia, dia mendapatkan ide itu untuk mencegah agar wanita itu tidak tewas.


"Tapi aku nggak tau itu kapan akan datang, yang aku lihat cuma kejadian yang akan di alami wanita itu" ucap Sania. Setelah mendengan kata Sania, Widia kembali berpikir lagi.


"jadi kamu cuma lihat doang Nia? nggak tau itu kapan akan terjadi??" Kata Lisa. "Jadi harus gimana dong?" Febby juga terlihat bingung. "Kita juga baru pertama kali liat orang itu" tambah Widia.

__ADS_1


"Eh tapi kamu tau kan Sania, dimana tempat itu!" Kata Lisa. "Aku sih nggak gitu paham, yang aku lihat itu keadaannya nggak ada orang, waktu sepi gitu" ucapnya.


Sania hanya memberi petunjuk di jalanan sepi dan suasana malam hari, dan itu membuat teman-temannya bingung, tanpa petunjuk tanpa kenal seseorang yang akan di tolong. Hanya sebatas mengetahui kalau Wanita itu akan tewas.


__ADS_2