Sapientie

Sapientie
Prolog


__ADS_3

Jilatan api neraka melumat ribuan jiwa setiap harinya. Bahkan tidak pernah berubah sejak awalnya penciptaan. Jeritan melengking bersahut-sahutan dari para jiwa yang mengalami penghukuman akhir, menjadi musik paling merdu seantero neraka. Begitulah menurut para iblis.


Di sisi lain neraka, sosok iblis tingkat atas berdiri tegak menatap kolam lahar di bawahnya. Kolam panas berisikan jiwa manusia yang meleleh menjadi belulang. Uap panas dari kolam lava itu tampak mengepul dan menjadi suhu normal di bawah sana.


Iblis itu terlihat begitu gagah. Mata merahnya begitu dingin menatap para manusia yang menjerit meminta pertolongan yang tidak akan pernah mereka dapatkan. Tubuh yang berotot kekar dan berbulu halus dengan dua pasang tanduk melingkar di kepalanya, menggambarkan seperti seorang pejuang dalam perang. Cocok dengan jabatan yang ia sandang sekarang, Palima Besar.


Iblis yang lain, yang terlihat jauh lebih kurus darinya dengan satu tanduk mencuat ke depan, datang dan mendekat. "Yang Mulia, sampai kapan kita harus menunggu. Setiap kami memandang Raja Iblis, rasa muak terus memenuhi hati kami."


Ia terus membungkuk di hadapan tuannya untuk menunjukkan rasa hormat yang dalam.

__ADS_1


Iblis perkasa memalingkan wajahnya dari jiwa manusia yang tenggelam dalam magma panas, berjalan dan duduk di singgasananya. Sebuah kursi megah dengan sandaran tinggi dan terdapat empat tengkorak manusia menjadi hiasan pada sandaran tersebut. Ia menghela napas sesaat untuk menanggapi apa yang dikatakan bawahannya.


Di hadapannya sekarang, berkumpul ribuan iblis lengkap dengan senjata mereka masing-masing. Beberapa dari mereka tampak beringas dengan hembusan napas yang berat, terus memainkan kapaknya seakan siap untuk berperang.


Wujud iblis-iblis itu pun beragam, namum hampir seluruhnya memiliki masa otot yang kekar dan berbulu merah. Sepasang atau satu tanduk tunggal, tampak menghiasi kepala mereka yang merupakan wujud identitas sebagai iblis.


"Kami semua sudah siap, Yang Mulia. Anda hanya perlu mengucapkan perintah maka perang besar iblis akan bergelora," ujar iblis tadi, tetap dengan posisi membungkuk.


"Mau berapa lama lagi, Yang Mulia. Lebih dari setengah suku iblis di neraka ini menunggu perintahmu."

__ADS_1


"Aku pun sudah tidak sabar sama seperti kalian. Tapi, penantian selama ribuan tahun akan terbayarkan dengan kemenangan kita kelak. Bukan hanya kemenangan semata, tapi keberhasilan yang gemilang," jawab panglima iblis dengan senyum kecil penuh rahasia.


Sorakan semangat bergemuruh di antara celah-celah dinding berbatu yang panas. Para iblis mengangkat senjata mereka dengan nafsu membunuh, seakan cahaya kemenangan sudah terlihat di depan mata.


Mereka berteriak dan bersorak, menunjukkan semangat yang tak pantang mundur.


Nampak di udara, sesosok iblis kecil yang terbang. Makhluk itu seperti kelelawar dengan tubuh dan kaki seperti kera. Berkulit warna merah dengan bulu panjang kusut dan kasar. Ia terbang menukik turun dan hinggap di lengan singgasana. Makhluk ini seketika tunduk di hadapan tuannya.


"Maaf, Yang Mulia. Hamba datang membawa kabar baik dari akhirat," kata makhluk kecil itu.

__ADS_1


Kabar yang sudah sangat lama ia tunggu akhirnya tiba. Terlihat senyum kemenangan terukir pada wajah Panglima Iblis itu, senyum yang sudah lama tersimpan sejak dua ribu tahun yang lalu.


TBC ....


__ADS_2