
Mentari bersinar cerah di pagi itu. Udara panas yang bertiup dapat menghangatkan dada saat semua insan menghidurpnya. Menggerakkan jiwa setelah terbalut suhu dingin malam hari.
Diana sudah sembuh total, meski perban masih melilit beberapa bagian tubuh keran luka lebam namun, itu tidak membuat wanita yang terkenal aktif itu untuk terus tidur di rumah sakit.
Nasib buruk yang meimpanya dua minggu yang lalu, tidak akan ia lupakan. Justru peristiwa itu ia jadikan sebagai pengalaman hidup supaya tidak terjerumus ke lubang yang sama.
Saat ini, Nigel dan Diana berjalan santai menelusuri kota. Mereka berbaur dengan keramaain tempat asing yang belum perbah mereka pijaki sebelumnya.
Gedung-gedung berjejer rapi dan toko-toko tampak penuh dengan pembeli. Pemandangan ini cukup berbeda dengan kota asal mereka yang jelas jauh lebih sepi dari ini.
Beberapa kalangan tampak berbaur di sini. Wanita-wanita cantik yang bergaun tunik dengan banyak renda, berjalan bergerombolan dengan payung kain berenda warna hijau dan biru. Ada pula yang mengenakan turret, semacam topi kerucut yang panjang dan dihiasi dengan kain sutra.
Pemuda-pemuda penerus bangsa pun turut hadir. Jika rakyat biasa, setelan yang mereka pakai tidak jauh berbeda dengan Nigel. Hanya mengenakan tunik sederhana dengan warna tertentu dan diikat dengan sabuk di pinggang. Namun berbeda dengan pemuda berdarah bangsawan. Mereka mengenakan tunik mahal yang terbuat dari linen kualitas bagus sehingga terlihat mengkilap. Tidak sedikit dari tunik yang mereka pakai dihias dengan motif mencolok dan khas. Serta sepatu bot dari kulit yang pastinya berharga sangat mahal.
__ADS_1
Setelah cukup jauh berjalan, mereka melihat sebuah toko unik dan sangat mencolok dari toko-toko lain di sekitarnya. Dari papan reklame, terdapat tulisan "Menkesh" dengan hiasan simbol gaun di ujungnya. Di depan toko terdapat etalase yang memamerkan dua baju mewah, gaun kelas atas. Nigel bisa menebak, harga gaun itu pasti lebih dari jumlah uang yang ia miliki sekarang. Tapi, saat ia melihat gaun biru sederhana yang rusak melekat di tubuh Diana, hatinya tidak tahan untuk menghampiri toko tersebut.
"Indah ...," gumam Diana saat melihat gaun yang dipajang.
"Ya, aku pikir juga begitu," ujar Nigel. "Ayo masuk."
"Nigel?" Diana merelakan tangannya di tarik oleh temannya itu.
"Aku ingin membeli gaun untuk dia," ujar Nigel sambil menunjuk Diana.
Diana sempat berfikir, apa Nigel punya cukup uang untuk membeli sebuah gaun dari penghasilanya sebagai tukang kayu bakar. Namun, ia tidak mungkin mengatakan ini kepada laki-laki yang sudah menolongnya tersebut.
"Bagaimana dengan ini?" Gadis pelayan menunjukkan gaun linen jenis gotik berwarna biru, banyak terdapat renda di beberapa sisi. "Gaun jenis ini desain terbaru toko kami."
__ADS_1
"Tidak," jawab Diana mantap. "Aku tidak akan mengenakan gaun seperti itu.
"Bagaimana ...." Kali ini gaun linen merah yang umum di pakai bangsawan lengkap dengan tali pinggang berwarna putih, namun dengan kualitas menengah.
"Tidak," saut Diana cepat.
Sepertinya gadis pelayan mulai terlihat jengkel. "Gaun seperti apa yang Anda inginkan, Nyonya?"
Diana berjalan mengelilingi toko tersebut. "Sepertinya tidak ada," ujarnya.
__________________________________________________
Plat ungu ... plat ungu ....
__ADS_1