Sapientie

Sapientie
Capter 5


__ADS_3

Nigel berjalan cepat saat meninggalkan rumah Nyonya Polester. Sambil berlari kecil Nigel melewati jalan menurun dan berbelok. Berbeda dari pertemuan sebelumnya yang agak canggung, kali ini Nigel justru ingin sekali bertemu dengan Martin.


Di belakangnya, Anna mengejar. "Nigel, apa yang sedang kau rencanakan?"


Nigel tidak menjawab, kakinya terus melangkah cepat. Bahkan Anna sampai berlari untuk mengejar pemuda itu. Setiba di bar, Nigel langsung masuk ke dalam. Disusul Anna di belakangnya.


Sorot mana Nigel menyapu setiap orang di bar. Kepalanya bergerak dari kiri ke kanan. Matanya menatap jeli setiap orang yang ia lihat. Beberapa kelompok laki-laki yang sedang mabuk bersama, menatapnya penuh keheranan. Bahkan, gadis pelayan yang membawa dua gelas besar bir, menatap curiga anak muda itu. Namun, ia tidak perduli sama sekali.


Hingga di sudut ruangan dekat jendela, Martin tampak asik bermanja ria dengan seorang gadis yang tidak Nigel kenal.


Saat menatap Nigel, Martin tampak biasa saja. Tapi, saat ia tahu ada Anna bersama pemuda itu, dengan cepat ia berbalik dan menaiki meja, lalu meloncat keluar dari jenela. Tiga gelas bir di atas meja tumpah membasahi meja dan baju temannya.


Nigel segera berbalik dan keluar dari bar. Ia berlari memutar melewati gang kecil di sebelah bar, dan mengejar laki-laki itu.


"Sudah kuduga, dia pasti tahu sesuatu," ujar Anna. Ia ingin mengejar Nigel namun, langkahnya tidak selebar dan secepat pemuda itu. Ia tertinggal di belakang.


Nigel berlari secepat yang ia bisa. Anehnya, ia merasakan langkahnya begitu ringan membuat larinya terasa sangat cepat. Tidak hanya itu, ia juga tidak merasakan lelah sedikit pun. Nigel menyadari, mungkin ini kemampuan gift kedua yang ia terima dari Zanon. Gift energi lebih dari manusia biasa.


Tidak butuh waktu lama, Martin mulai terlihat.


Tiba-tiba, pemuda itu berbelok tajam, ia masuk ke celah sempit antar rumah warga. Nigel melakukan hal yang sama tapi, dengan kecepatan seperti ini justru membuat Nigel terjungkal dan menghantam tumpukan sampah.


Nigel bergegas berdiri dan kembali melangkah, ia masuk ke celah sempit tadi dengan cepat.


Kini ia tiba di sebuah kawasan kumuh. Rumah-rumah reot dan hampir roboh bersusun di sepanjang jalan tanah kering. Tempat ini begitu gersang dan tandus. Mungkin karena itulah daerah ini ditinggal. Beberapa pohon terlihat layu dan mati, tidak bisa bertahan hidup di sini. Mata Nigel juga melihat dua gubuk tak layak pakai berupa susunan papan jelek yang dipaku. Tak jauh dari dua gubuk ini, Martin berlari membelah angin. Mencoba memperlebar jaraknya dengan Nigel.


Gerak Martin begitu lincah. Ia melesat dengan cepat dan meloncat dengan sangat hati-hati saat melewati sebuah akar yang melintang. Akar dari pohon besar tak berdaun yang mengikat sebuah batu raksasa.


Nigel masih tertinggal di belakang, memburu saingan cintanya seperti macan yang mengejar kelinci. Kali ini, Nigel sangat berhati-hati dengan langkahnya, ia mencoba mengendalikan setiap hentakan kaki sehingga kejadian sebelumnya tidak akan terulang.


Hingga, sampailah mereka di pinggiran kota. Bisa dikatakan desa ini adalah desa mati. Tidak ada orang di sini. Sepi tak berpenghuni. Rumah tua yang hancur dimakan usia, dibiarkan begitu saja. Terbengkalai tak ada yang mengurus.


Martin masih berlari secepat yang ia bisa, tapi perbedaan stamina terlihat jelas sekarang. Martin mulai kelelahan. Langkahnya tidak segesit sebelumnya. Pemuda itu berhenti di bawah pohon besar yang sedikit daunya. Ia duduk di akar pohon tersebut untuk mengendalikan nafasnya yang menggebu.


Nigel berhasil menyusulnya, ia sekarang berdiri di depan pemuda itu.


"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Nigel.


"Tapi aku tiak peduli. Pergi sana, pecundang!" Martin melempar segumpal pasir ke wajah Nigel dan dengan cepat berbalik kembali berlari.

__ADS_1


Reflek tangan Nigel menutup wajahnya. Saat ia tahu Martin akan melarikan diri lagi, Nigel melesat cepat dan menabrakkan dirinya ke tubuh laki-laki itu. Kedua pemuda itu terperosok ke tanah.


Nigel segera berdiri dan mendekap Martin dengan erat. Ia menarik tangan kanan pemuda itu dan di pelintirnya ke belakang. Gift ilmu pengetahuan memberitahunya cara melakukan pengincian tersebut. Seperti yang ia duga, gift ini sangat amat membantu.


Ia ingin mengikat Martin, tapi tidak ada tali di sini. Sangat menyusahkan mempertahankan posisi ini. Dan apabila dilepas, akan sangat merepotkan jika laki-laki ini kembali melarikan diri.


Tiba-tiba pemikiran aneh muncul, seperti suatu informasi. Gift ilmu pengetahuan Nigel mengatakan kalau dirinya bisa membuat tali dari sihir. Bahkan mantranya pun sudah ada di otaknya.


"Ropper ... belt?" Keningnya mengkerut saat mengucapkan mantra ini karena anehnya kalimat yang ia ucap.


Seutas tambang, yang datang dari percikan api berwarna di udara, melesat dan melilit tubuh Marlin. Tali itu begerak sendiri dan mengikat dirinya sendiri.


"Wow," gumam Nigel tertegun, tidak menyangka mantra itu benar-benar bekerja.


"Kau bisa menyihir!?" seru Martin. Ia meronta seperti ulat yang mengeliat, mencoba melepaskan diri dari tambang yang menjerat. Namun tali itu terikat kuat, Martin memilih menyerah.


"Yah, begitulah," jawab Nigel sedikit sombong.


"Sejak kapan?"


"Sejak kemarin." Nigel menyeret Martin dan menyendarkan pemuda itu ke bawah pohon besar. "Baiklah, sekarang jawab pertanyanku! Di mana Diana?"


"Lalu, kenapa kalu lari?"


Martin tediam.


"Karena Anna melihatmu meninggalkan Diana," ujar Nigel memancing.


"Omong kosong apa itu? Dia berbohong padamu. Apa pun yang dikatakannya mengenai hutan sebelah barat kota, itu tidak benar."


"Anna tidak mengatakan apa pun mengenai hutan sebelah barat." Tentu saja Nigel berbohong, Anna mengatakannya cukup jelas. Kali ini ia menggunakan taktik pemalsuan informasi untuk mendapatkan kebenaran.


Martin terlihat gugup. Bulir keringat bergulir dari dahi ke dagu. Nigel menangkap gelagat tidak beres dari pemuda ini.


"Katakan apa yang kau tahu, Martin Dustal!" ucap Nigel dengan tegas.


"Oke, baiklah. Aku membawa Diana ke hutan sebelah barat desa untuk melamarnya. Aku malu jika dilihat banyak orang, jadi aku mengungkapkan niatku di sana. Tapi, datang seorang pria kaya. Dia juga melamar Diana. Pelacur itu memilih laki-laki yang baru ia temu dan pergi dengannya." Martin menunjukkan berbagai macam ekpresi saat ia menuturkan pengalamnanya itu.


"Begitu saja?" Nigel tampak curiga.

__ADS_1


"Ya, dia meninggalku begitu saja." Wajah Martin tampak sedih karena harus mengingat pengalaman pahitnya.


Nigel sedikit berfikir. Dari apa yang dikatakan Martin, memang tersambung dengan apa yang dikatakan Anna. Tapi, Diana yang diceritakan Martin barusan sepertinya itu bukan sifat Diana yang ia tahu. Bahkan, laki-laki tertampan di penjuru Kota Ertonburg, butuh waktu satu bulan untuk mendapatkannya, kenapa dia mau dengan laki-laki yang baru ia temui. Jika karena uang, seharusnya Diana menjemput ibunya karena wanita itu mencintai ibunya lebih dari apa pun di dunia ini. Ada sedikit kejanggalan di sini. Namun, kejanggalan tersebut terdapat di antar cerita Anna atau cerita Martin. Dari kedua orang ini, ia harus memastikan siapa yang berbohong.


Seutas mantra tiba-tiba muncul di benak Nigel. Dengan dasar mantra ini, otaknya mulai menyusun rencana.


"Vonivex constelus." Martin menatap Nigel seolah bertanya mengenai kalimat apa yang baru saja diucapkan.


Dari sela sepatu Nigel, keluar dengan merayap seekor ular kobra. Tidak diketahui jenis kobra apa itu namun, seperti yang diketahui semua kobra memiliki racun mematikan.


"A-a-apa itu Nigel?" tanya Martin menggebu, ia terlihat sangat ketakutan. Sangat amat ketakutan. Ia menggelepar dan meronta. Namun, ikatan tambang semakin kencang menjerat. "Kenapa ular itu bisa ada di sepatumu?"


"Ular kobra ini dapat mendeteksi kebohongan. Aku akan menanyakan pertanyaan padamu, dan jika kau berbohong, ular ini langsung menanamkan racunya padamu. Apa bila kau tidak menjawab pertanyan tersebut, kau juga akan digigit." Nigel cukup serius saat mengucapkannya.


Martin semakin menggelepar dan takut.


"Pertanyaan uji coba. Siapa nama ayahmu?"


"Lucas Dustal," jawab Martin cepat. Ular tidak terusik.


"Kau jujur, ular ini tidak menggigitmu." Nigel tersenyum. "Pertanyaan kedua. Apa kau mencintai Diana?"


"Aku sangat mencintainya," sambar Martin cepat. Ular kobra menyambar bagai petir, racun mematikan tertanam di lengan Martin.


Timbul memar dari bekas gigitan ular. Memar itu membengkak dan membesar, membuat tangan Martin menjadi bentuk yang lain. Lalu, dari lubang bekas gigitan, nanah kelur menyembur. Rasa takut Martin semakin menjadi. Ia menjerit kesakitan.


Ini artinya Martin berbohong, ia mengencani Diana tapi ia tidak emncintai wanita itu. Tindakan bertentangan yang membuat Nigel bertanya. Tapi, kenyataan tersebut membuat pemuda itu sangat marah. Meski begitu, mengamuk bukanlah sifatnya.


"Pertanyaan selanjutnya. Apa Diana meninggalkanmu?"


Ular kobra menganga lebar sambil mendesis, ia menunjukkan dua taring tajamnya pada Martin seakan menantang pemuda itu.


"Dia tidak meninggalkanku tapi, aku yang meninggalkannya."


"Kenapa?"


"Karena aku menjualnya ke pedagang budak."


Pukulan keras meluncur cepat menghantam hidung mancung pemuda itu dan mematahkan tulang dibaliknya.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2