
"Diana! Ini aku, Nigel. Aku akan menyelamatkanmu!"
"Menyelamatkan apa!? Mereka budakku, dan akan aku jual kembali ke kota besar di depan sana!" seru pedagang budak tersebut. Kulitnya tampak pucat kemerahan menandakan jika ia jarang terpapar sinar matahari. Ia begitu kurus, bahkan pipinya cekung kedalam. Figur yang kerempeng memberikan kesan seorang ular derik.
Nigel belum pernah bertarung melawan seseorang yang memakai senjata sebelumnya. Takut, sudah pasti menjalar di hatinya. Tapi, melihat wanita yang ia cintai begitu menderita, hal itu justru menekan rasa takut tersebut.
Pedagang budak melesat maju, ia mengayun cepat pedangnya ke arah pemuda di depannya. Nigel menghindar, dan dengan cepat menangkap tangan laki-laki tersebut. Tapi, sebuah tendangan menghantam pemuda itu dengan telak. Nigel terpental dan tersungkur.
Nigel mencoba kembali berdiri, tapi lawannya begitu beringas dan kejam. Pedagang budak itu menendang Nigel tepat di wajahnya. Tidak sampai di sana, ia juga menghujamkan tedang tersebut ke tubuh lawannya.
Segera Nigel berguling ke belakang dan langsung berdiri. Di waktu bersamaan, pedang melesat membelah angin, bergaris lurus ke leher pemuda itu. Nigel menarik cepat tubuhnya ke belakang, menghindari laju tebasan pedang.
Pedagang budak kembali menyerang, ia menebas udara dari bawah ke atas. Nigel menghindar ke samping dan langsung menendang lawannya. Pedagang budak tersungkur, namun bukan berarti ia akan berhenti.
__ADS_1
Gift kemampuan bertarung milik Nigel mulai bekerja. Entah sejak kapan ia bilajar ilmu bela diri namun, ia tahu apa yang harus dilakukan. Nigel membentuk posisi kuda-kuda dengan kedua tangan sudah terkepal.
"Brengsek kau, Bocah!" Penjual budak berlari cepat dan menebas pedangnya ke arah lawannya.
Nigel sudah bersiap. Pedang berayun cepat dari atas ke bawah. Dengan sigap Nigel menangkap pergelangan tangan penjual budak dan menendang perutnya. Tidak samapai di sana, Nigel memukul wajah lawannya, lalu memukul pergelangan tangan lagi membuat pedang terlepas, dan diakhiri dengan menyikut hidung pria itu. Penjual budak tergeletak di tanah berumput. Aroma zat klorofil dari rumput masuk ke sistem pernapasannya.
Selesai berurusan dengan penjual budak, Nigel bergegas menghampiri penjara besi. Ia mengambil pedang yang tergeletak dan ia hantamkan ke gembok besar yang mengunci penjara besi tersebut. Gembok terbuka, Nigel segera masuk untuk melihat keadaan Diana.
"Diana, kau tidak apa-apa?" tanya Nigel penuh khawatir. Tubuh wanita itu begitu lemah.
Diana butuh air namun, Nigel tidak membawanya. Pemuda itu menoleh kesekitar untuk mencari sumber air.
Tidak sengaja, matanya melihat sebuah karung besar di kursi kusir. Dengan cepat Nigel menghampiri karung tersebut dan membongkar isinya. Ia menemukan kantung air dan sebungkus besar roti kering. Nigel kembali menghampiri Diana.
__ADS_1
"Diana, minum air ini dulu," ujar Nigel pelan. Ia menuangkan air dari kantong tersebut ke mulut Diana sedikit demi sedikit.
Diana terbatuk, tandanya ia menerima cukup banyak cairan.
Nigel melihat dua wanita yang lain. "Ini untuk kalian."
Wanita yang terdekat langsung menyambar kantong air itu dan meminum isinya. Tak lupa juga ia bagikan dengan temannya.
Nigel mengambil sepotong rati kering, di belahnya menjadi bagian kecil, dan disuapkannya pada Diana. Wanita itu memakan sedikit suapan dan akhirnya ia tertidur.
Nigel melepas bajunya, dilipat menjadi gulungan kain, dan dijadikan alas untuk Diana tidur.
"Kenapa kau memperlakukannya dengan sangat baik seperti itu? Dia budak sekarang," ujar salah satu wanita yang di rantai.
__ADS_1
__________________________________________________
Berasa diskip? Makanya ... langsung aja ke plat ungu