
"Gunakan saja kamarku di lantai dua," ujar pemilik toko "Lewati pintu itu."
"Terima kasih." Diana mengambil semua barang-barangnya dalam satu pelukan. "Pakai ini." Ia menepuk dada Nigel dengan doublet yang tadi ia beli, lalu meninggalkan pemuda itu.
"Apa pakaianku terlihat jelek?" tanya Nigel pada pemilik toko.
"Tidak. Tapi ... tunik itu sedikit tua untukmu," jawab pemilik toko.
"Ini milik ayahku," kata Nigel cukup percaya diri.
"Pantas saja," saut pemilik toko sambil menahan tawanya.
Laki-laki dewasa itu beranjak dari kursinya dan menghampiri susunan baju yang tergantung di dinding kiri tokonya. Ia mengambil sebuah kaos putih lengan panjang. "Coba kau ganti bajumu dengan ini."
Awalnya Nigel enggan mengingat baju ini milik ayahnya. Tapi, Diana juga menyarankan hal yang sama, jadi ia kan mencobanya.
__ADS_1
Nigel melepas tunik lalu memakai kaos putih lengan panjang tadi. Setelah itu, ia melapisinya dengan doublet yang tadi di beli Diana. Dikencangkan dengan tali di depan, lalu mengikat sabuk coklat tuanya ke pinggang, Nigel tampak jauh lebih gagah dari sebelumnya.
"Wow," gumam Nigel di depan cermin. Ia tidak menyangka akan terlihat keren.
"Bagaimana, terasa perbedaannya 'kan?" tanya pemilik toko.
"Ya. Aku pikir akan panas karena memakai baju tebal," ujar Nigel seraya membalikan tubuhnya untuk melihat sisi belakang. "Namun justru terasa sejuk."
"Tentu saja," doublet itu berbahan dasar linen sehingga akan terasa sejuk saat dipakai. Selain itu, linen juga membuat busana terlihat mengkilat dan tahan lama.
Tak berapa lama, Diana turun dari tangga. Berjalan santai dan menghampiri Nigel.
Pemuda itu tampak linglung dengan perubahan di diri Diana. Gadis yang biasa mengenakan gaun cantik sehingga terlihat elegan, kini berubah menjadi tampilan yang bisa disebut pemburu. Semua yang melekat di tubuh Diana tempak ketat dan sempit. Begitu pun dengan rambutnya, ia ikat ke belang seperti ekor kuda. Namun, Diana sendiri terlihat sangat senang memakainya jadi Negel menganggap itu suatu yang bagus.
"Kau terlihat seperti ..., jika kau memegang panah maka kau terlihat seperti pemburu," ujar Nigel.
__ADS_1
"Sungguh!" seru Diana. Ia tampak senang. "Sudah lama aku ingin memaki pakaian seperti ini."
"Aku pikir kau suka mengenakan gaun yang indah dan mahal," kata Nigel lagi. "Tapi, kenapa kau suka pakaian yang sempit seperti itu?"
"Saat aku kecil, aku pernah bertemu seorang pengelana wanita. Ia sangat keren mengenakan setelannya. Sejak saat itu aku tertarik dengan gaya busana seperti ini," jawab Diana. "Apa kau pikir aku yang setiap hari tampak seperti orang kaya adalah diriku yang sebenarnya? Berarti kau belum tahu aku sepenuhnya."
"Apa kau melakukannya karena uang?" tanya Nigel menebak.
"Tepat sekali. Jika tidak seperti itu, Tuan Bridget tidak akan mau membayarku dengan mahal. Aku harus cantik untuk mendapatkan bayaran lebih dari pekerjaanku sebagai pelayan toko," jelas Diana.
"Tapi menurutku, kau sudah cantik. Seperti apa pun dirimu, kau tetap cantik. Mengenakan gaun atau mengenakan baju pemburu seperti ini, kau tetap cantik." Semua perkataan itu terlontar dengan sendirinya. Mungkin semua pujian yang ia tertahan selama ini, tidak mampu lagi terbendung. Meskipun ia tidak sadar jika pujian-pujian itu terdengar seperti rayuan.
"Benarkah?" Diana tampak tersipuh.
Sadar dengan apa yang ia lakukan, Nigel mulai terlihat gugup. Keringat dingin
__ADS_1