Sapientie

Sapientie
Capter 24


__ADS_3

Nigel dan Diana berhasil keluar dari ruangan luas dan tiba di sebuah taman tak terawat. Dua anak muda itu menoleh ke segala arah untuk memastikan di mana mereka sekarang. Di sisi kiri, hanyalah tebing tinggi yang menyatu dengan tebing di sisi depan mereka.


Sebuah pohon dengan bunga berwarna kuning, tumbun di dinding jurang tersebut. Di bawah pohon ini, rumput-rumput liar tumbuh dengan subur. Bahkan lubang kolam yang kering, tertutup akan lebatnya semak belukar.


Masih di tempat yang sama, Nigel melihat semacam benda seperti patung memikul benda bulat. Kemungkinan patung itu terbuat dari logam tapi bukan besi. Karena logam itu berwarna sedikit hijau gelap. Jika besi, seharusnya berwarna kuning jika berkarat. Itu adalah patung perunggu yang tertutup dengan rumput liar. Nigel mengacuhkannya karena ai tidak tahu apa pun mengenai benda tersebut.


Cahaya matahari yang bersinar terang, memancarkan radiasinya bahkan sampai ke dasar juruang tempat Nigel dan Diana berada sekarang. Saat ini, mereka berdiri di sebuah teras sebuah bangunan kuno yang tampak terabaikan sambil menatap bunga kuning yang mekar tadi. Bunga-bunga itu memenuhi dahan pohon, menghiasinya begitu indah.


Nigel menatap Diana, rona merah dan senyum indah merekah di wajah manis wanita itu. Dan itu membuat Nigel berpikir sesuatu yang lain. Ia memberikan pedang jarahannya kepada temannya itu dan berkata "Diana, bisakah kau membunuhku?"


Diana menatap Nigel penuh tanya. "Maksudmu?"


"Kau bisa menusukku di sini," tunjuk Nigel ke arah jantungnya, "Atau kau bisa memenggal kepalaku."

__ADS_1


"Jangan bercanda, DASAR BODOH!" Raungan amarah menggema disepanjang bangunan batu. Nigel terperanjak, ia tidak menyangka Diana akan membentaknya.


"Ta-tapi, jika dipikirkan lagi. Yang mereka incar kan aku. Dengan membunuhku sekarang, masalah terselesaikan," jelas Nigel dengan suara agak kecil karena takut dibentak Diana lagi.


Teman wanitanya itu berbalik tidak perduli dan berjalan melewati lorong samping bangunan dan masuk ke suatu ruangan di dalam dinding tebing. Nigel segera menyusulnya.


"Di-Diana ... tunggu."


"Dasar Nigel bodoh. Apa otaknya bergeser karena terlalu banyak tidur," gerutu Diana kesal. Ia tidak memperdulikan Nigel yang terus memanggilnya.


"Aduh!" seru Nigel tiba-tiba.


"Ada apa Nigel?" tanya Diana. Namun, ia tidak melihat apa pun.

__ADS_1


"Aku menumbur sesuatu," jawab Nigel. Pemuda itu kembali berdiri dan mencoba meraba apa yang ada di depannya.


Dari bawah, Nigel mendapati dua beda sedikit oval dan makin mengerucur ke atas. Ini sepatu. Tangan Nigel meraba lebih naik ke atas lagi. Ia memegang sepasang kaki. Makin ke atas, ia memeraba pinggul, lalu perut dan dada. Tangan Nigel berhenti di sini karena bulu romanya mulai berdiri. "Sebenarnya apa yang aku pegang ini?" gumamnya.


"Nigel, ada apa?" taya Diana lagi.


"Diana, lebih baik kau kembali ke luar! Sepertinya aku menagkap sesuatu." seru Nigel serius.


"Kenapa kau tidak mengunakan sihirmu saja?" saut Diana.


Nigel terdiam seakan baru menyadari hal itu. "Benar juga, ya."


Diana tampak khawatir. "Nigel, ada kau sungguh tidak apa-apa? Kau terlihat aneh. Ternyata benar, otakmu bergeser."

__ADS_1


"Sudah aku bilang aku ini tidak apa-apa!" seru Nigel. Kali ini giliran


TuBerCulosis...


__ADS_2