Sapientie

Sapientie
Capter 13


__ADS_3

Nigel dan Diana meninggalkan penginapan mewah di belakang mereka. Berjalan maju menuju utara, menuju tempat satu-satunya menjadi petunjuk yang Nigel dapat dari Zanon untuk menyelesaikan tugasnya.


Saat ini, mereka berjalan di petak jalan dalam hutan. Lebatnya daun-daun pepohonan menghalangi cahaya matahari untuk masuk ke dalam. Di beberapa titik, cahaya tersebut menyerobot basuk justru terlihat seperti cahaya sorot yang indah. Debu yang beterbangan, terlihat seperti butiran bintang saat melewati sinar sorotan itu.


Langkah demi langkah mereka gerakkan untuk maju. Bahakan jejak sepatu bot Diana dapat terbentuk di atas tanah yang lemab. Lebatnya hutan, yang menandakan banyaknya bahaya mengintai, seolah bukan jadi masalah untuk dua anak manusia itu.


Di ujung pandangan, sebuah semak bergerak tidak wajar. Bukan digoyangkan angin, namun seperti ada sesutu di sana. Nigel dan Diana memilih diam di tempat sambil menunggu keadaan.


Melompat keluar, seekor kelinci berbulu coklat yang lebat. Nigel cukup yakin, kelinci itu pasti sangat sulit terlihat di atas tanah karena warna bulunya itu. Mungkin itulah yang disebut kamuplase sempurna. Nigel masih tetap diam, namun tidak dengan Diana. Penampilan yang imut dan lucu di depan membuat hatinya tergugah unruk mendekat. Hidung kelinci bergerak-gerak mengendus sesuatu. Semakin lama, grak hidungnya semakin cepat.


"Nigel, kau mencuci sepatu botmu kan?" tanya Diana.

__ADS_1


"Apa!?" saut Nigel cepat.


Suara Nigel cukup keras membuat kelinci tadi pergi menjauh, kembali masuk ke dalam semak-semak. Diana menatap Nigel penuh kekecewaan.


"Bukan salahku," ujar Nigel spontan. "Kelinci memang hewan dengan tingkat kewaspadaan tinggi. mereka akan segera lari jika ada sesuatu yang mendekati mereka dengan cepat. Atu suara yang ... keras ... sepertinya salahku."


Diana mulai berjalan meninggalkan Nigel tanpa menghilangkan wajah kecewanya. Untuk wanita yang jarang ke hutan, melihat makhluk berbulu lebat dan imut seperti kelinci tadi merupakan kesenangan tersendiri di dirinya.


Dua anak muda masih tetap berjalan di jalan antar kota yang sudah disiapkan. Semakin dekat jarak Nigel dan Diana ke kota tujuan mereka, sebanyak itu pula matahari merangkak ke barat. Tanpa mereka sadari, matahari meninggi tepat di puncak singgasannya. Memicu nada-nada aneh yang terdengar dari perut Nigel.


Lapar menjadi kendala tersendiri bagi seoarang petualang. Namun, Nigel memiliki alternatif tersendiri. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sepotong sandwitch dari sana.

__ADS_1


"Bukankah itu sarapanmu tadi?" tebak Diana.


"Ya. Terlalu banyak, jadi aku menyimpannya. Kau mau? Aku masih punya satu," Nigel mengeluarkan sandwitch terakhirnya dan diberikannya pada Diana.


Roti lapis tersebut berisi potongan keju, selada dan telur dadar. Diana suka keju dan tidak masalah dengan telur, jadi dia tidak akan menolak sandwitch tersebut. Wanita itu melahapnya dengan perlahan, menikmati setiap gigitan dan rasa keju yang lumer di mulutnya. Berbeda dengan Nigel yang melahap langsung dalam tiga gigitan.


Tidak ada waktu berhenti, mereka tidak ingin tiba sampai malam ke kota yang mereka tuju sekarang. Karena jika telat, Diana akan merasakan guncangan hebat saat Nigel mengendongnya sambil berlari dengan kecepatan udara. Ia tidak akan memuntahkan apa yang ia makan kali ini.


Cahaya matahari semakin terang sekarang. Mungkin karena renggangnya jarak pohon membuat celah diantara rimbunan daun pepohonan. Sehingga cahaya matahari leluasa masuk ke dasar hutan. Fenomena ini menjadi petunjuk kalau mereka hampir dekat dengan bibir hutan.


__________________________________________________

__ADS_1


Jangan tunda lagi, langsung ke plat ungu


__ADS_2