
Kuda hitam melesat cepat di antara pepohonan hutan yang jarang. Gelapnya malam tidak membuat Nigel untuk menghentikan langkahnya. Rasa sakit di pungnggung dan pergelangan tangan kanannya ia tahan sebisanya sehingga tidak mengganggu kosentrasi saat berkendara. Tapi, semakin jauh langkah kuda melesat, tingkat kesadaran Nigel semakin berkurang.
"Nigel! Kau kehilangan banyak darah!" seru Diana, namun Nigel tidak menyahut. "Nigel! Kau dengar aku!?"
Nigel terliham melemas, tubuhnya tumbang ke samping. Dengan sigap Diana menahan tubuh pemuda itu dan mengambil alih tali kekang. Diana memperlahan langkah kuda dan mereka berhenti di dasar tebing terjal.
Diana turun dari kuda, lalu menurunkan Nigel setelahnya. Wanita itu membaringkan tubuh Nigel di sebelah tebing. Gelap. Diana tidak bisa melihat apa pun. Ia teringat jika di tas Nigel terdapat sekotak korek api. Dengan cepat ia mengambil beberapa patahan kayu lalu di tumpuk. Setelah itu ia meraup banyak daun kering dan menimbun tumpukan kayu bakar tadi. Segera ia ambil korek api di tas Nigel dan langsung membakar daun kering tersebut. Api unggun terbentuk dalam waktu singkat.
__ADS_1
Diana melepas doublet Nigel lalu membuka kaos putih lengan panjangnya. Sebuah luka robekan melintang dari sisi perit kiri bawah ke punggung kanan atas, dan darah masih merembes dari luka tersebut. Tidak hanya itu, di tangan kanan Nigel juga terdapat torehan pedang namun tidak terlalu dalam. Bahkah sepertinya, luka di bagian itu sudah mengering.
Masalah utama adalah di punggung. Diana tampak cemas karena darah masih mengalir. Ia segera membongkar isi tas Nigel. Percuma, tidak ada obat. Hanya ada kain kasa, alkohol dan obat salep. Diana harus mencari cara untuk menutup luka itu. Kepalanya berputar melihat ke sekelilingnya, berharap menemukan sesuatu. Namun ini pemikiran bodoh,hanya ada kegelapan malam di sana.
Kuda curiannya mendengkur, sepertinya ia kelelahan dan ingin segera tidur. Tapi, mata Diana mendapati sesuatu di tubuh kuda tersebut. Terdapat tas pada pelana kuda. Diana segera membongkar isi tas tersebut.
Ia merobek baju bersih itu sehingga menjadi kain yang panjang. Setelah itu, ia meninggalkan Nigel sesaat dan kembali dengan setumpuk ranting kering. Diana meletakkan kayu bakar itu ke dalam api unggun sehingga api pun semakin membersar. Tidak berhenti di sana, Diana membakar pisau tadi di atas kobaran api yang mulai membesar tersebut. Cukup lama supaya pisau itu panas. Jadi sambil menunggu, Diana mencari kayu bakar lagi.
__ADS_1
Saat ia kembali, pisau tadi mulai memerah mendakan kalau pisau itu bersuhu panas tinggi. Dengan cepat Diana mengambil kain robekan baju tadi, di puntal tebal, dan ia jadikan alas untuk mengambil pisau tersebut.
"Nigel, mungkin ini akan sakit. Apa pun yang terjadi, tahan dan jangan meronta. Ini akan cepat," ujar Diana, berharap jika Nigel mendengarnya.
Laki-laki itu tampak memprihatinkan. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat dan nafas yang tidak stabil. Mungkin ini karena efek kekurangan darah.
Tidak menunggu waktu lama, Diana menempelkan sisi tumpul pisau yang panas itu ke dalam luka Nigel. Hanya sisi yang mengeluarkan darah saja. Nigel meraung seketika. Tapi, ia mencoba menahan tubuhnya supaya tidak meronta. Ia bahkan menggenggam erat tanah untuk menahan rasa sakit itu.
__ADS_1
To be continue...