Sapientie

Sapientie
Capter 14


__ADS_3

Nigel dan Diana segera masuk dan menembus keramaian kota. Sorot mata Nigel melihat sebuah toko yang tidak terlalu ramai, menjual perlengkapan-perlengkapan para pelancong. Ia membawa Diana untuk menghampiri toko tersebut.


Seorang pemuda, mungkin seumuran dengan Nigel, adalah sosok pertama yang Nigel lihat. Pemuda itu menyambut kedatangan mereka.


Ada banyak barang yang dijual di toko ini, mungkin lebih banyak dari kota sebelumnya. Nigel langsung menghampiri pemilik toko dan meminta kain tenda yang ia butuhkan.


Selain tenda, Nigel juga membeli sebuah ransel besar, peralatan pertolongan pertama bahkan beberapa ramuan herbal. Nigel cukup tertegun dengan lengkapnya barang yang disediakan toko ini. Sehingga mereka tidak perlu lagi keliling kota untuk mencari barang lainnya.


"5 keping emas, 7 keping perak," ujar pemilik toko.


"Apa!?" seru Diana, "Bukankah itu terlalu mahal?"


"Harga semula atau batal," ujar pemilk toko dengan sombong.


"3 keping emas," saut Diana menawar.

__ADS_1


"Pintu keluarnya di sebleh sana, Nyonya," tunjuk pemuda itu dan menyimpan kembali barang-barang dagangannya.


"4 keping emas," saut Diana lagi, kali ini senyuma ampuh ia keluarkan. Namun, pemilik toko mendengus dengan senyum mengejek.


Di sini Diana menyadari satu hal. Sepertinya, senyumannya yang terkenal merona, hanya berlaku di kotanya saja. Sedangkan di kota lain, senyuman itu sama sekali tidak berguna. Terbukti dua kali ia belanja dan dua kali itu pula senyuman itu gagal.


"Baiklah, aku bayar semuanya." Nigel mengeluarkan sejumlah koin yang diinginkan laki-laki pemilik toko.


Nigel sudah mencatat di otaknya dalam buku pengalamannya kalau di Kota Whirlwind sistem perdagangan tidak mengenal tawar menawar. Para pedagang lebih memilih tidak menjual barang mereka dari pada harus mendapatkan harga yang tidak sesuai.


Karena hal ini juga, uang simpanan Nigel sudah sangat menipis. Mungkin hanya bisa di pakai untuk menginap semalam saja.


"Ada apa Nigel?" tawanya Diana. Ia menangkap raut lesu dari temannya.


"Maaf Diana, aku tidak memiliki cukup uang lagi," jawab Nigel. Ia cukup pesismis jika Diana akan sangat kecewa.

__ADS_1


"Tidak apa, Nigel," jawab Diana. Suaranya begitu halus saat didengar.


"Benarkah?"


"Ya. Kita sudah punya kain untuk membuat tenda. Lebih baik kita mulai mencobanya malam ini?" jawab Diana.


Nigel terdiam. Entah mengapa, ia melupakan hal itu. Ia sudah punya kain untuk tenda, kenapa harus menginap di penginapan lagi. Mungkin benar apa yang dikatakan penyair jika cinta itu buta. Karena ingin terus memberikan yang terbaik untuk Diana, Nigel sampai melupakan yang terpenting.


Kedua anak muda itu kembali berjalan menembus keramaian penduduk, berjalan menuju gerbang kota dan keluar dari kota tersebut. Mereka meneruskan perjalanan mereka ke utara.


Saat matahari tenggelam setengahnya di garis cakrawala, Nigel dan Diana menghentikan perjalanan. Mereka mencari tempat yang agak luas dan datar untuk membangun tenda.


Nigel mencari tiga batang kayu yang panjang. Dua denga cagak di atasnya dan satu polos. Pemuda itu menancapkan dua batang kayu yang bercagak ke tanah dengan jarak sepanjang batang kayu yang polos. Seetelah itu, ia meletakkan batang kayu tersebut di atas dua kayu yang ada penyanggah tadi. Terbentuklah rangka atap rumah sederhana.


Dengan di bantu Diana, Nigel membetangkan kain membuat tendah di atas kayu yang melintang. Dua kain di sisi depan – yang berbentuk seperti telinga – disatukan untuk membuat pintu. Di dalam, Nigel kembali mengeluarkan segulung kain dan dibentangkan. Kain ini berguna sebagai alas.

__ADS_1


"Baik, Kapten!" seru Diana. Lalu mereka tertawa.


To be continue di plat ungu ...


__ADS_2