
"Apa yang bisa kami berikan pada Anda, Tuan? Kami akan melakukan apa pun," saut Brita.
Awalnya Nigel akan menolak tawaran tersebut namun, ia terpikirkan sesuatu yang sangat ia butuhkan sekarang. "Apa kalian tahu saat ini kita di mana?"
"Aku tahu, aku ingat setiap jalan yang dilewati Tuan Jens," ujar Brita cepat.
Nigel mengangkat alisnya, baru tahu ternyata nama penjual bidak tadi adalah Tuan Jens. "Apa kau tahu kota atau desa terdekat dari sini?"
"Di sana adalah Desa Borlet," tunjuk Brita ke arah Tuan Jens tadi lari. "Berarti tak jauh lagi kita akan sampai di Kota Everton."
"Baiklah. Kita akan ke kota itu," ujar Nigel setelah ia selesai membaringkan Diana ke rerumputan. "Sebelum itu, bisakah kalian membantuku."
"Tentu saja!" seru keduanya semangat.
__ADS_1
Yang ditarik kuda ini bukanlah kereta, namun gerobak ukuran besar. Nigel membuka penutup belakang gerobak, lalu ia mendorong sangkar besi. Dengan di bantu Vroni dan Brita, penjara budak itu jatuh ke tanah.
Sekarang Nigel mengangkat Diana kembali ke gerobak, lalu ia bentangkan kain menutupi gerobak tersebut. Ia melakukan ini untuk melindungi Diana dari terik matahari selagi wanita itu terlelap. Vroni dan Brita dapat menangkap aura kasih sayang dari setiap tindakan Nigel pada Diana.
"Selesai. Sekarang, kita menuju Kota Everton," ucap Nigel semangat.
Nigel segera duduk di tempat kusir, sedangkan Vroni dan Brita kembali naik ke atas gerobak. Pemuda itu belum pernah mengendari kereta kuda sebelumnya, namun gift pengetahuannya memberikan ilmu dasar cara mengendarai kereta tersebut.
Nigel memecut kuda dengan pelan membuat kuda mulai berjalan. Ia tidak tahu sekuat apa kemampuan tarikan seekor kuda namun, ia sangat takjup saat roda kereta mulai berputar. Nigel kembali memecut kudanya. Kali ini, kuda mulai berlari menaikkan kecepatan.
Benar yang dikatakan Brita. Tak lama mereka berjalan, gerbang kota sudah terlihat. Balok kayu besar berdiri di dua sisi jalan dan di atasnya melintang sebuah papan yang bertuliskan 'Kota Perdagangan Everton'. Dengan adanya gerbang kota, Nigel meyakini jika kota ini lebih besar dari kota kelahirannya. Tapi setelah memasukinya, nuansa yang terlihat tidak jauh berbeda. Gedung-gedung yang berjejer tidak lebih bagus dari toko-toko di kotanya.
Memang, jika dilihat dari jumlah orang yang berkerumun, kota ini jauh lebih ramai dan lebih hidup. Namun, Nigel bukan sedang berwisata ke kota ini. Ia melecutkan cambuk membuat kuda berlajan agak cepat.
__ADS_1
"Apa kalian tahu di mana rumah sakit?" tanya Nigel, matanya tetap tertuju kedepan.
"Persimpangan kedua, belok kiri," jawab Brita.
Nigel menarik tali kekang kiri membuat kuda berbelok.
"Gedung putih yang pertama kali Anda lihat adalah gedung rumah sakit," tambah wanita itu.
Sebuah gedung putih paling tinggi dan megah, dengan simbol tanda aesculapius berwarna merah di atasnya, membuatnya lebih mecolok dari gedung mana pun.
Sekarang Nigel mengaku kalah. Gedung ini, jauh lebih besar dari rumah sakit di kotanya. Mungkin sepuluh kali lipat. Rumah sakit di Kota Ertonburg terasa sepeti klinik jika dibandingkan dengan rumah sakit ini.
__________________________________________________
__ADS_1
Jangan lupa, ada di plat ungu