Sapientie

Sapientie
Capter 6


__ADS_3

Martin terkulai lemas, merasakan sakit dari tulang hidungnya yang patah. Di waktu bersamaan, Anna datang dengan nafas yang tersengkal. Ia berlari cukup jauh demi mengejar Martin dan Nigel.


Secara garis besar, Anna dapat menggambarkan apa saja yang sudah terdi. Nigel menangkap Martin dan memukulnya. "Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Anna.


"Dia menjual Diana sebagai budak," jawab Nigel muram.


"Apa!" Anna sangat terkejut dengan kenyataan yang diucapkan pemuda di depannya itu. Ia berjalan dengan kasar, menghampiri Martin. Diambilnya sebatang kayu dan ia hantamkan ke kepala pemuda itu. "Dasar ********!"


Cukup mengerikan bagi Nigel melihat wanita secantik Anna menunjukkan amarahnya, Nigel hanya diam.


"Akan aku adukan hal ini pada walikota," saut Anna setelah puas memberi pelajaran sekaligus menuangkan kekesalannya pada pemuda yang terikat itu.

__ADS_1


Nigel mulai beranjak meninggalkan Anna bersama tawanan yang terikat. Raut wajah pemuda itu begitu serius dengan sorot mata yang tajam. Anna yang merasa penasaran segera memanggil, "Nigel, kau mau kemana?"


"Aku akan menyusul pedagang budak dan menyelamatkan Diana," jawan Nigel tanpa menghentikan langkahnya.


"Bagaimana kau bisa mengejarnya, kejadian itu sudah tiga hari yang lalu," tambah Anna.


"Hutan barat, aku akan memulainya dari sana," saut Nigel dingin. Ia mempercepat langkahnya, dan ia mulai berlari.


Nigel melewati jalur yang tadi ia lewati saat mengejar Martin hingga ia kembali tiba di bar. Langsung berbelok menelusuri jalan menurun dan tiba di jalan utama kota. Nigel bergegas berlari ke sisi barat kota menuju hutan barat.


"Nigel, dari mana saja kau? Apa kau tidak menjual kayu bakar lagi hari ini?" tanya Nyonya Mucktelery.

__ADS_1


"Oh, Nyonya Mucktelery. Aku sudah berhenti menjual kayu bakar." Nigel kembali berlari. "Sekarang, mulailah paksa suami Anda untuk mencari kayu bakar."


Bagi Nyonya Mucktelery, itu merupakan perkara yang sulit. Tubuh gemuk suaminya membuat hal itu terasa tidak mungkin. Ia tidak bisa lagi memohon kepada Nigel karena pemuda itu sudah pergi jauh sekarang. Sepertinya ia harus mencari penjual kayu bakar yang lain, itu pun jika ada. Karena sangat jarang menemukan pemuda rajin seperti Nigel. Ia hanya mendesah dan meneruskan langkah menuju rumahnya.


Sedangkan Nigel, ia melewati beberapa orang dengan cepat dan gesit. Bahkan berbelok pun ia tidak melambatkan laju larinya.


Hingga, jumlah bangunan sudah mulai jarang. Ia sudah berada di pinggir kota yang begitu sepi bahkan di siang hari seperti ini. Nigel menelusuri jalur yang sudah ada dan masuk ke dalam hutan. Pohon-pohon rimbun menyambut kedatangannya. Beberapa tupai meloncat dari satu dahan ke dahan lain sambil membawa kacang kenari. Salah satunya sempat berhenti dan heran saat menatap Nigel.


Pemuda itu terus melangkahkan kakinya. Berjalan pelan mencari petunjuk yang ada. Karena setelah memasuki hutan ini, tidak ada saksi yang melihat Martin menjual Diana. Jadi ia harus mencari sendiri petunjuk sekecil apa pun itu. Namun sayang, cukup jauh ia berjalan dan belum dapat menemukan petunjuk apa pun. Di tanah, di rumput, semak dan batang pohon, tidak terlihat sesuatu yang ganjil. Menyerah bukanlah pilihan saat ini. Jalan tanah berumput masih terbentang di depan, berarti masih ada peluang menemukan apa yang di cari.


__________________________________________________

__ADS_1


**Penasaran dengan lanjutannya? Kisah ini akan diteruskan di platform sebelah yang plat ungu ^^


Langsung kepoin aja guys** ^^


__ADS_2