
Hutan cemara membentang disepanjang Hutan Kogrod. Ujung-ujung pohon begitu tinggi seakan ingin menggapai awan di langit. Udara di hutan ini selalu bertiup pelan dan sejuk, memberi kesan nyaman sekaligus mistis. Saat di pagi hari, embun dingin menguap dari dalam hutan dan melayang ke angkasa, membuat pemandangan hutan terasa terang dan indah.
Di langit, seekor burung tampak mengintai di balik awan tebal. Ia menyelinap di dalam tumpukan embun air itu dan sesekali mengintip keadaan di dalam hutan. Sepertinya ia sedang mengincar sesuatu. Sorot matanya melotot tajam melihat semua aktifitas di tanah.
Burung ini bukan burung biasa. Tubuhnya jauh lebih besar dari semua burung yang pernah ada. Burung jenis ini selalu bersembunyi bahkan disaat terbang, mereka menyelinap di balik awan sehingga sangat jarang ada orang yang bisa melihat mereka.
Mereka terpaksa harus tebang dengan cara seperti itu, melesat dari satu awan ke awan yang lebih besar. Hal itu bertujuan untuk menutupi tubuh mereka yang mencolok. Ukuran tubuh dari ujung paruh ke ujung tubuh sekitar 70 sampai 80 cm saja. Bentangan sayapnya tidak sampai satu meter. Tubuh mereka ditutupi dengan bulu berwarna putih, warna yang sama dengan awan. Namun, panjang ekor mereka bisa mencapai satu meter dan berwarna pelangi. Sihingga ketika mereka terbang, ekor mereka terlihat seperti selendang pelangi yang berkibar. Inilah yang membuat mereka mencolok.
__ADS_1
Salah satu kehebatan mereka yaitu mereka dapat melayang di udara dengan sayap yang masih terbentang, tidak perlu di kepakkan. Seperi yang dilakukan burung yang satu ini, ia masih melayang di dalam awan. Jika tidak ada makhluk apa pun yang ia lihat, dengan cepat ia megepakkan sayapnya lagi dan berpindah ke awan tebal di sekitarnya. Ia terus memantau hutan cemara di bawahnya dengan sorot mata tajam.
Setelah dirasa cukup aman, ia segera menutup sayapnya dan membiarkan tubuhnya jatuh, burung ini menukik tajam. Saat ia sudah dekat dengan ujung pohon, segera ia membentangkan sayapnya dan berhenti di udara. Baru setelah itu ia mendarat dengan perlahan.
Pendaratan berhasil dengan sukses, burung itu berjalan pelan dan mengambil jamur di kaki pohon cemara dengan paruh panjangnya. Satu jamur, lalu beralih ke pohon yang lain dan mengambil jamurnya, lalu berpindah lagi dan lagi. Hingga paruhnya dipenuhi dengan jamur cemara.
"Sekarang!"
__ADS_1
Empat orang wanita setengah baya ke luar dari dalam pohon dan mengepung burung tersebut. Setiap wanita menambah tiga percikan listrik dan percikat itu mengikat satu sama lain sehingga membentuk jaring listrik. Jaring itu menindih burung ekor pelangi itu dan menangkapnya. Sang buruan tidak bisa memberontak karena sengatan listrik melumpuhkan pergerakannya.
"Akhirnya," ujar salah satu wanita di sana. "Akirnya kita mendapatkan satu buruan langka."
"Aku sudah tidak sabar ingin menyantap harinya," ujar yang lain. Lalu mereka tertawa puas dengan hasil buruan mereka.
Wujud wanita-wanita itu sangat menjijikkan. Ada yang menggunakan rumput sebagai hiasan bajunya, ada yang melilitkan tubuhnya dengan akar tanaman dan ada pula yang terlihat compang-camping. Namun yang jelas, mereka semua memiliki hidung panjang yang bengkok dan berkutil. Bahkan, tawa mereka pun terdengar sama.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" seru sang burung. Ia mencoba meronta namun, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
TuBerCulosis...