Sapientie

Sapientie
Capter 31


__ADS_3

Burung-burung ekor pelangi mulai turun menolong teman-teman mereka. Salah satunya – yang memiliki tubuh lebih besar dari yang lain – mendarat dekat dengan Nigel. Ia hanya diam saat melihat pemuda itu merobek tubuh Magora dan mengambil semacam kalung dari perut pemimpin witch tersebut.


"Nigel!" seorang wanita tiba-tiba muncul dari balik pepohonan. "Aku sedikit khawatir karena kau tidak kembali."


"Sudah selesai Diana. Ayo kita pergi," ujar pemuda itu.


"Tunggu!" Burung ekor pelangi tadi menghentikan langkah kedua orang itu. "Bisakah kalian ikut dengan kami?"


Suara burung ini sedikit merdu, seperti suara wanita. Namun, jika mengingat hebatnya burung bernyanyi, Nigel rasa semua suara burung sama saja terlepas jenis kelaminnya.


Diana sangat terperanjak, belum pernah ia melihat hewan berbicara sebelumnya. "Ke-kenapa kami harus ikut?" tanya Diana.


"Sebenarnya, selain menyerang para witch, kami juga diutus untuk menjemput kalian. Pemimpin kami ingin Anda menemuinya," jawab burung pelangi itu.

__ADS_1


Nigel dan Diana terlihat sedikit curiga. Logikanya, mana ada orang yang baru pertama kali bertemu sudah meminta untuk ikut bersama orang tersebut. Tentu saja Nigel dan Diana menolak. Mereka melangkah meninggalkan semua burung raksasa itu cepat-cepat.


"Kami akan memberikan jamuan untuk kedatangan kalian," tambah burung itu lagi.


Seketika Diana berbalik, "Baiklah, aku ikut."


*****


Suara jeritan wanita terdengar di celah-celah tiupan angin di udara. Diana berteriak saat burung ekor pelangi yang ditungganginya terbang menjauhi daratan. Goyangan badan dan kepakan sayap burung tersebut membuatnya merasa sedikit ngeri. Tapi, sensasi positif terbang di angkasa menutup semua hal-hal buruk yang ia cemaskan tersebut.


Selain itu, sang bulan terasa begitu besar di atas sini. Meski bukan bulan purnama, namun cahayanya terasa begitu menyilaukan. Diana tidak akan melupakan pengalam langka kali ini. Setiap detik peristiwa yang ia alami, semuanya sudah disimpan di tempat khusus dalam otaknya.


Nigel hanya diam melihat tingkah Diana, begitu lucu namun tidak mengurangi sosok cantik pada dirinya. Senyuman Diana menghangatkan hati Nigel yang sekarang tampak gundah. Pemuda itu masih memegang liontin permata penuh darah milik Magora.

__ADS_1


"Dia terlihat bersemangat," ujar burung ekor pelangi yang Nigel tunggangi.


"Ya," saut Nigel cepat. Ia menyimpan liontin itu di saku bajunya. "Tapi tetap memesona, kan?"


Burung ekor pelangi tertawa seketika, tahu maksud dibalik ucapan Nigel. "Ternyata seperti itu."


Nigel menjadi sedikit malu. Sangat berbeda dengan ukuran otaknya, ternyata burung ini jauh lebih peka. Hanya dengan satu kalimat saja, ia sudah tahu mengenai perasaan Nigel kepada Diana.


Memang benar, cahaya bulan memperindah kecantikan Diana. Rambutnya yang ia ikat gaya ekor kuda itu memberi kesa keceriaan pada dirinya.


Penerbangan mereka cukup lama, Nigel tidak tahu akan dibawa ke mana. Tapi, jika kelompok burung ini melakukan sesuatu yang buruk pada Diana, ia tidak akan segan menebas semunya.


Mereka menjauhi hutan cemara dan juga melewati hutan belantara setelahnya, hingga mereka tiba di sebuah pegunungan. Nigel cukup terkejut melihat deretan gunung-gunung itu, karena ia tidak menyangka akan melewatinya.

__ADS_1


"Pegunungan Rowrsle?" gumam Nigel tak percahaya. Gift ilmu pengetahuannya pun mengonfirmasi apa yang ia lihat.


To be continue to plat ungu ...


__ADS_2