Sapientie

Sapientie
Capter 15


__ADS_3

Nigel dan Diana melangkah dengan ringan namun, tetap dalam tempo sedikit cepat. Perjalanan mereka terasa tidak terlalu berat. Hutan-hutan belantara yang terlihat indah menambah semangat setiap langkah yang mereka gerakkan. Jutaan pohon-pohon besar dan rimbun, menutup aneka satwa liar dalam ekosistem hutan. Memberi suatau kesan misteri pada setiap pandangan.


Setiap semak yang beriak pasti mengeluarkan hewan-hewan tertuntu secara acak. Terkadang kelinci, terkadang rusa, atau burung, bahkan pernah seekor ular keluar sambil melahap seekor tikus besar dan menelannya bulat-bulat. Menonton kengerian rimba secara langsung. Meski begitu, Diana merasa tidak jera untuk terus maju.


Mereka juga sempat melewati bentangan padang ilalang. Sedikit berbeda dengan pada rumput biasa, padang ilalang lebih seperti bentangan sikat bulu raksasa. Paduan warna dari hasil alam terlihat sangat indah dan aneh.


Putihnya kapas ilalang memberi warna ketenanga dalam hamparan hijaunya padang rumput yang tumbuh tinggi dan subur. Tidak hanya itu, hembusan angin yang tenang memperdalam kesan damai yang tercipta. Namun, panasnya sengatan matahari membuat Nigel dan Diana tidak bisa menikmati kesejukan tersebut.


Di ujung sebelah timur, sederet pegunungan menjulang begitu tinggi. Puncak dari beberapa gunung terlihat begitu terjal seperti kuku monster yang mencakar langit. Awan-awan tebal bahkan melayang di bawah puncak dari deretan pegunungan tersebut.


"Nigel, pegunungan itu begitu besar dan tinggi. Aku yakin, siapa pun yang mendaki puncaknya, dia adalah pendaki paling hebat di seluruh Blealor," ujar Diana.


Gift ilmu pengetahuan Nigel memberi tahunya sebuah informasi. "Pegunungan itu bernama Pergunungan Alram. Aku rasa, tidak ada orang yang berani mendaki pegunungan terjal itu. Karena menurut legenda, pernah terlihat seekor naga naik ke puncak tertinggi gunung tersebut."


"Naga?" saut Diana.

__ADS_1


"Ya, naga." Gift ilmu pengetahuannya kembali bekerja. "Monster mengerikan berbentuk kadal raksasa yang bersayap. Tinggi mereka mencapai 5 meter, panjang 15 meter dan bentangan sayap 10 meter."


"Sebesar itu .... Jika aku bertemu salah satunya, aku akan melawannya," ujar Diana.


Nigel seketika tertawa. "Kau ingin melawannya? Aku sarankan lebih baik kau menyelamatkan hidupmu."


Diana terlihat kesal dengan tawa Nigel tersebut. Namun, apa yang dikatakan temannya itu masuk akal. Hanya orang bodoh yang mau melawan makhluk sebesar itu. Diana berjalan dengan kepala yang masih menoleh ke arah deretan pegunungan pencakar langit buatan alam.


Pada malam hari, ladang luas ini menunjukkan kapabilitas dengan cara yang berbeda. Keindahannya bukan lagi berada di padang ilalalng, tapi di langit malam itu sendiri.


*** skip ***


"Apa kau tahu Keiren, laki-laki imortal yang sama sepertimu?" tanya Nigel.


"Apa aku terlihat seperti orang yang mengenalnya?" saut Jonah.

__ADS_1


"Berarti kita harus mencari Keiren," gumam Diana. "Kemana?"


Nigel menghampiri Jonah. "Apa kau tidak bisa membantuku untuk mencarinya?"


"Apa untungnya bagiku?" ujar wanita itu. Nighel terdiam.


"Apa kau tidak merasa kesepian?" tanya Diana. Kali ini, ia memberanikan diri untuk berdiskusi. "Kau hidup sendirian sudah sangat lama, aku yakin kau merasakan kesepian."


"Hanya pemikiranmu saja, Nona," sahut Jonah, dan ia segera meninggalkan dua orang asing itu.


"Apa kau tidak merindukan berbincang dengan seseorang dalam jangka waktu lama? Berbicara panjang lebar tanpa takut ditinggal karen umur yang pendek," tambah Diana.


Jonah menoleh dan menghampiri Diana dengan kasar. "Baiklah, Nona." Serunya. "Tapi," lanjutnya, "Aku ingin kalian yang membawanya kemari!"


TBC to purple plat ...

__ADS_1


__ADS_2