
Nigel dan Diana sekarang berada di tengah hutan belantara. Kawasan rimba yang ditumbuhi oleh pepohonan dengan berbagai ukuran dan rumput-rumput semak yang lebat. Udara di hutan ini sangat segar. Aroma daun dan hangat matahari sangat nyaman saat mengisi paru-paru. Kaki terus melangkah dengan timur sebagai arah tujuan.
Tidak sengaja, Nigel melihat seekor tupai di suatu dahan pada pohon kenari. Ia mencoba mengambil kacang dari pohon tersebut. Tiba-tiba, dari balik daun-daun pohon, seekor ular piton melesat dan akan menerkam tupai itu. Namun sayang, sang tupai sengaja menjatuhkan dirinya sehingga sang ular tidak dapat memangsanya. Tapi, tupai itu tidak benar-benar jatuh. Ia merentangkan tangan dan kakainya sehingga terbentang semacam selaput berbulu yang menghubungkan tangan dan kakinya tersebut, sehingga ia dapat melayang diantara dahan-dahan pohon. Tupai itu terlihat sangat bangga dengan buah kenari yang ia dapat. Dan Nigel terpukau melihatnya.
Beberapa pohon cemara terlihat dalam perjalanan mereka. Pohon-pohon itu tumbuh cukup tinggi menyamai pohon-pohon tinggi di sekitarnya. Beberapa burung terkadang keluar dari batang pohon cemara dan terbang mengarungi angkasa.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak pohon cemara yang terlihat. Sedangkan pohon-pohon jenis lain justru makin berkurang. Hingga semakin dalam, hutan itu dipenuhi dengan jutaan pohon cemara. Tidak ada pohon jenis lain, hanya cemara. Bagi Nigel dan Diana, ini suatu pemandangan yang cukup langka karena mereka belum pernah melihat susunan pohon cemara dengan jumlah yang banyak.
Udara di sini bertiup sangat lembab. Tapi itu justru di jadikan Nigel dan Diana sebagai energi positif karena akan membuat rasa nyaman. Bahkan saat berjalan, mereka tidak menyadari jika matahari sudah lewat setengah cakrawala.
__ADS_1
"Hey Nigel, lihat!" seru Diana, ia menunjuk sesuatu di bawah salah satu pohon cemara. Di sana tubuh sekelompok jamur dengan ukuran cukup besar. Diana dan Nigel segera menghampiri jamur tersebut.
Gift ilmu pengetahuan Nigel memberi tahunya sesuatu. "Ini jamur cemara adalah jamur jenis truffle. Jamur ini bisa dimakan."
"Sunggu?" tanpa memperdulikan apa pun, Diana mengambil jamur tersebut.
Tidak puas dengan jamur-jamur itu, mata Diana menyapu semua pangkal pohon cemara untuk mencari jamur yang lain. "Di sana ada lagi!" serunya girang.
"Aku mendapatkan sebanyak ini," ujar Diana ceria. "Apa kau bisa melakukan sesuatu dengan ini?"
__ADS_1
"Kita tidak memiliki banyak bumbu. Hanya ada garam," jawab Nigel. Wajah Diana agak kecewa dan itu memicu sesuatu yang lain muncul di diri Nigel. "Kita bisa membuat cemilan sederhana dengan memanggangnya."
Wajah Diana kembali berbinar. "Aku akan meyalakan api."
Nigel ikut membantu, ia mengumpulkan kayu-kayu kering dan menumpukkanya dalam satu tumpukan kecil. Selain itu, ia menebas beberapa dahan pohon untuk membuat semacam stik berujung tajam dan ia tusukkan jamur-jamur itu ke stik tersebut.
Setelah api menyala, Nigel menancapkan stik yang ada jamurnya itu di dekat api. Dan sekarang, mereka tinggal menunggu.
"Aku sudah tidak sabar," gerutu Diana sambil menggosok-gosokkan tangannya di dekat api unggun.
__ADS_1
"Bersabarlah sedikit lagi. Jika kematangannya kurang, akan sangat berbahaya jamur ini untuk dimakan," sahut pemuda itu. Ia menaburkan sedikit garam ke jamur yang sedang di panggang.
To be continue...