
"Nigel ... Diana, apa yang kalian lakukan? Kalian belum tidur?" tanya Raja Keiren. Dua anak muda itu terperanjat kaget. "Kebetulan sekali, aku butuh bantuanmu, Nigel."
Nigel dan Diana saling tatap, kecemasan membungkus hati mereka.
"Ayo. Ikut aku!" ujar Keiren.
"Maaf, Yang Mulia. Kami sedang berkemas sekarang," saut Diana.
"Owh, ayolah. Aku sangat butuh bantuan. Aku tidak bisa meminta dengan yang lain karena mereka sedang mabuk."
"Tapi Yang Mulia-,"
"Ini titah raja!" Keiren terlihat sedikit kesal. Alis matanya mengkerut dengan sorot mata yang tajam. Hal ini membuat takut Nigel dan Diana.
"Baik, Yang Mulia. Namun sebelum itu. Aku selesaikan ini dulu urusanku. Tidak akan lama," ujar Nigel.
"Bailah," ucap Keiren dan ia beranjak pergi.
__ADS_1
"Nigel, kau gila!" seru Diana dengan nada berbisik.
"Aku akan hadapi. Kau pergilah."
"Nigel!"
"Aku tidak ingin wanita yang aku cintai terluka karena terlibat dalam takdir mengerikan yang aku jalani."
Diana tertegun. Ia tahu betul cinta seperti apa yang dimaksudkan Nigel dan cinta tersebut tertuju padanya. Walau sesaat, hati yang sempat membeku karena kekecewaan itu kembali terasa hangat.
"Tapi ...,"
Wanita itu hanya diam meratapi kepergian Nigel. Punggung pemuda itu terasa begitu lebar saat ia menatapnya. Langkah yang mantap saat Nigel berjalan menunjukkan ketekatan kuat pada diri pemuda itu. Satu perasaan, yang terselip di sudut hati, berteriak karena sakit. Hati kecilnya mengatakan tidak ingin di tinggal pemuda itu. Dan perasaan kecil itu, membuat seluruh hatinya terasa berat. Tapi, Nigel tidak ingin ia terluka. Jadi, Diana mengambil keputusan kecil.
"Nigel," panggil Diana. "Aku akan pergi ke Kota Everton. Aku akan menunggumu di sana. Berjanjilan kau akan menyusulku!" Nigel tidak menjawab, ia terus melangah dalam gelapnya malam hingga deretan siluet pepohonan menghilangkan bayangannya.
Diana menggenggam erat tangannya sendiri dan menekankan ke dada, ia bisa merasakan suatu kehangat tertentu di sana. "Dasar bodoh," ucapnya dengan bibir merekah yang indah. Nigel berhasil membuat hatinya merona. Begegas Diana merapikan barang-barangnya dan segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
*****
Nigel bertemu Raja Keiren dan Jonah di pinggir reruntuhan. Asap hitam yang pekat, bergejolak menutup reruntuhan tersebut. Mungkin ini kutukan kegelapan yang menelan segala macam cahaya. Terasa sangat menakutkan jika dilihat dari luar.
"Kami menemukan sesuatu di sisi lain reruntuhan. Aku ingin kalian menemaniku ke sana," ujar raja. Jonah terlihat biasa saja namun, Nigel tampak ragu. "Ayo!"
Keiren mulai melangkah menelusuri bibir reruntuhan diikuti dengan Nigel dan Jonah di belakangnya. Mereka berjalan bersebelahan dengan kegelapan yang pekat. Bukan kegelapan malam, tapi kegelapan sejati.
Puluhan sulur kegelapan terkadang ke luar dari asap hitam seakan ingin meraih sesuatu. Rasa ngeri jelas terlihat dari raut wajah Nigel namun, ia kuatkan hatinya untuk tetap tegar.
Melihat Jonah dan Keiren yang tampak biasa dengan tangan-tangan hitam yang mencoba menggapai mereka, membuat Nigel sedikit percaya dengan apa yang dikatakan Diana sebelumnya. Jadi, untuk memastikan kebenaran seutuhnya, ia harus mencari informasi.
"Apa kalian mengenal Zanon?" tanya Nigel sambil meningkatkan kewaspadaannya.
"Ya, dia tuan kami," jawab Jonah. Persis seperti yang diucapkan Diana.
"Apa benar kalain imortal?" tanya nigel lagi.
__ADS_1
"Kami sudah hidup lebih dari 500 tahun," jawab Jonah lagi, ia mulai menangkap gelagat tidak baik dari Nigel.
TuBerCulosis...