
Jonah, wanita salah satu dari dua imortal yang dimaksudkan Zanon. Kecantikan wanita ini sungguh luar biasa.
*****
Pagi-pagi sekali, Nigel terbangun karena tubuhnya terasa berat. Dadanya yang tertekan membuatnya sedikit sulit untuk bernafas. Saat ia membuka mata, wajah manis Diana yang tertidur pulas menjadi pemandangan pertama.
Ingin sekali Nigel melukis wajah polos nan indah ini supaya ia bisa menatapnya sepanjang waktu. Tapi karena Nigel tidak bisa melukis, ia akan menyimpan baik-baik pemandangan ini di salah satu neuron pada otaknya.
"Diana ... bangunlah ...," ujar Nigel pelan. "Sudah pagi."
Diana mengerang, lalu beranjak dari dada Nigel. Matanya mengkerjap beberap kali dan ia kucak dengan pelan. Ia melihat ke sekeliling dengan mata yang masih sipit dan berakhir menatap ke bawah, ke arah Nigel.
Matanya seketika mencelang. "Nigel maafkan aku!" serunya dan segera meloncat dari tubuh pemuda itu.
"Tidak apa-apa," ujar Nigel seraya berangkat dari lantai.
__ADS_1
Pintu gedung tiba-tiba terbuka. Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan dengan cepat. Tidak butuh waktu lama baginya untuk berjalan mendekati Nigel dan Diana.
Ia membawa beberapa apel hijau dan langusng dilemparkannya pada Nigel. "Ini serapan kalian dan segeralah pergi dari sini!" Lalu ia berbalik dan segera meninggalkan dua orang itu. Tapi, setelah beberapa langkah, ia kembali menoleh.
"Aku sudah menyiapkan kuda untuk kalian," ujarnya lagi dan pergi begitu saja.
Nigel dan Diana saling pandang. Meski pemarah, Jonah termasuk wanita yang baik. Nigel menggigit apelnya dan sisanya diberikan kepada Diana.
Kedua anak muda itu segera ke luar dari bangunan tersebut mencoba menyusul Jonah.
"Apa kau tidak ikut dengan kami?" tanya Diana.
"Aku tidak bisa meninggalakan reruntuhan ini. Bisa dikatakan, aku sudah terikat di sini," jawab Jonah singkat.
Diana sedikit salut sekaligus bingung dengan pola pikir wanita di depannya ini. Mengapa ia mau tinggal di tempat mengerikan seperti ini sendirian. Tapi, setiap orang memiliki prinsip dan ia tidak mau mempertanyakan prinsip yang Jonah buat. Selain itu, pasti ada alasan kuat bagi Jonah untuk tetap tinggal di sini.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Nigel penasaran.
Diana mencoba untuk menahan diri, tapi sepertinya Nigel tidak sepemikiran.
"Ada yang harus aku jaga," jawab Jonah singkat. "Sekarang pergilah."
Nigel tidak lagi bertanya. Ia segera naik ke punggung kuda itu. Dengan dibantu oleh Jonah, Diana naik di belakang Nigel.
Ini pertama kalinya bagi Nigel menaiki kuda. Walaupun, sebelumnya ia memiliki keledai. Ia rasa, menaiki keledai dengan menaiki kuda tidaklah jauh berbeda. Gift ilmu pengetahuannya juga memberikan beberapa informasi mengenai cara menunggang kuda.
"Baiklah Jonah, tunggu kami," ujar Nigel. Dengan sedikit hentakan pada tali kekang, kuda mulai berjalan. Saat Diana memeluknya erat dari belakang, Nigel sempat kehilangan kesadaran. Tapi, bertingkah keren di hadapan wanita yang dicintai merupakan insting seorang laki-laki.
Jonah tidak menjawab. Tapi, setelah Nigel dan Diana menjauh, bibirnya melengkung tajam. Ia tersenyum lebar bahkan sampai ke telinga. "Ya, segeralah kembali."
Plat ungu kena TuBerCulosis...
__ADS_1