Sapientie

Sapientie
Capter 17


__ADS_3

Derap kuda melaju cepat. Seorang laki-laki yang berboncengan dengan wanita di atas kuda tersebut, melejit deras membelah udara. Rambut emas Diana yang tergeray, berkibar terhantam angin.


Untuk laki-laki yang belum pernah menungangi kuda sebelumnya, berlari kencang seperti ini bukan merupakan perkara yang mudah. Tapi, sepertinya kuda ini sudah sangat terlatih. Nigel hanya mengarahkannya ke jalan dan kuda itu tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak hanya itu, kuda coklat ini berlari sangat cepat. Bahkan saat berbelok pun, lajunya sangat stabil.


Ini sangat aneh. Langkahnya tidak melambat sedikit pun padahal sudah berlari lebih dari setengah hari. Bagi makhluk hidup mana pun, istirahat sangat dibutuhkan. Tapi tidak dengan kuda ini. Bahkan, mereka sudah melewati Kota Whirlwind dan ia masih terus berlari.


Beberapa jam setelahnya, mereka melewati penginapan mewah yang pernah mereka tinggali waktu itu.


Nigel mencoba menarik tali kekang untuk berhenti namun, sang kuda tidak mau berhenti. Ia berlari dan terus berlari, seakan ada sesuatu yang mengejarnya dan ia tidak mau tertangkap.


"Ada apa, Nigel," tanya Diana. Ia merasakan kegusaran pada diri pemuda itu.

__ADS_1


"Kuda ini ..., ia tidak mau berhenti. Aku rasa sudah saatnya kita beristirahat," jawab Nigel.


"Kau benar. Dia sudah berlari seharian. Apa dia tidak merasakan lelah?"


"Aku sudah mencoba untuk menghentikannya. Tapi ia menolak arahanku," kata Nigel yang terlihat pasrah.


Bagi Diana, ini suatu yang sangat tidak masuk akal. Kuda ini bertingkah seperti bukan makhluk hidup, lebih seperti boneka marionette yang menuruti semua perintah manipulator.


Matahari mulai tenggelam namun, derap langkah sang kuda tidak menunjukkan niat untuk berhenti. Kecepatannya masih stabil. Ini sedikit berbahaya bagi Nigel dan Diana. Berkendara kuda di dalam kegelapan merupakan tindakan yang sembrono. Tapi, meski Nigel mencoba menghentikannya, kuda ini tetap tidak mau berhenti.


Nigel terlihat semakin cemas. Cahaya bulan mungkin bersinar terang di atas sana namun, cahayanya tidak mampu menembus celah-celah hutan. Nigel menunjuk sesuatu di depan sambil mengucap mantra. "Dur-Haos."  Jari telunjuk Nigel bercahaya, lalu ia sentuhkan ke udara membuat cahaya itu terlepas dari tangannya.

__ADS_1


Titik cahaya melayang di udara mengikuti pemuda itu. Titik cahaya itu semakin lama semakin membesar hingga seukuran kepala. Dan bola itu melayang dengan sendirinya ke depan mereka sebagai penerangan.


"Dengan begini, kita tau apa yang kita lewati," ujar Nigel.


Setelah berlari cukup jauh, keanehan pada kuda ini kembali terlihat. Saat melewati persimpangan, kuda ini berbelok dengan sendirinya mengikuti arah jalan. Sangat aneh. Apa mungkin kuda ini sering digunakan berkendara sehingga ia hapal jalan mana yang di tuju. Tapi meski begitu, dari mana kuda ini tahu daerah mana yang mereka tuju.


Sekarang mereka tiba di Kota Everton. Tanpa menunjukkan akan memperlamabat, kuda coklat melesat masuk ke dalam kota dengan kecepat yang sama.


"Nigel apa yang terjadi? Hentikan kudanya!" seru Diana, ia terlihat sedikit ketakutan.


"Kalau bisa, sudah aku lakukan sejak tadi," saut Nigel.

__ADS_1


Sang kuda mesih deras melaju, membelah udara malam kota itu.


Lanjut di plat ungu


__ADS_2