
Sang surya mulai merangkak di cakrawala. Pagi itu, Nigel dan Diana datang ke istana. Bangunan megah itu dikelilingi dengan tembok tinggi yang dibuat dari tumpukan batu pualam dan beberapa penjaga terlihat di atas tembok tersebut. Dua anak muda itu mencoba masuk melewati gerbang istana tapi, dua penjaga menghadang mereka.
"Siapa kalian dan apa yang ingin kalian lakukan di istana?" tanya salah satu penjaga.
"Kami utusan dari Reruntuhan Zebrulgard ingin bertemu dengan Yang Mulia," jawab Diana.
Nigel spontan menoleh ke arah wanita itu, tidak menyangka jika Diana akan menjawab seperti itu. Rencananya Nigel akan mengatakan identitas mereka dan memohon untuk bertemu Sang Raja. Tapi, kalau dipikirkan lagi, para penjaga pasti tidak akan mau memberikan orang asing untuk menghadap orang nomor satu di negri ini dengan mudah. Mereka harus memiliki alibi yang jitu untuk masuk.
"Berikan pesan itu, biar aku yang menyampaikannya," ujar penjaga tersebut.
"Maaf, Tuan. Kami tidak percaya siapa pun," saut Nigel. Ia mencoba membantu.
Kedua penjaga terdiam dan mereka saling pandang.
__ADS_1
"Kalau begitu, maaf. Kami tidak bisa membiarkanmu lewat," sahut penjaga.
Diana mendekatkan dirinya ke penjaga tersebut. "Jika aku gagal dalam menyampaikan pesan, maka kau akan dikenang sebagai penjaga bodoh dan *****. Lebih baik kau masuk dan beritahukan kedatangan kami pada rajamu SEKARANG!"
Sepertinya ini bukan bergantung pada sifat. Suasana hati Diana tampak sangat buruk. Nigel agak bingun, apa sebenarnya yang terjadi pada temannya itu.
"Sepertinya suasana hatimu sedang buruk. Apa ada masalah, Diana?" tanya Nigel.
"Tidak apa. Aku hanya benci pasukan pemerintah," jawab Diana dengan tatapan menusuk penjaga gerbang yang tetap tinggal. Penjaga itu hanya diam tak menjawab. "Lihat mereka. Begitu sombong dan sangat memuja pemerintahan. Mejilat makanan dari pemerintah padahal didapat dari memeras rakyat. Dan sekarang, mereka bertingkah sok kuat di hadapan rakyat padahal rakyatlah yang memberi meraka makanan dari pajak. Seharusnya para penjaga adalah anjing rakyat bukan pemerintah." Ketidaksukaan terlihat jelas dari raut wajah Diana.
"Kalian utusan dari Reruntuhan Zebrulgard. Pesan apa yang ingin kalian sampaikan," tanya Sang Raja, kewibawaannya sangat kental pada dirinya.
"Aku rasa ini sesuatu yang cukup rahasia," ujar Nigel. Semua orang di sana mulai saling pandang dan berbisik. Beberapa kata hinaan tertangkap di telinga Nigel namun, ia tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Tidak ingin suasana menjadi tegang, Nigel merogoh sakunya dan mengambil sebuah kartu di sana. Nigel menunjukkan kartu itu pada raja. Tristan Keiren terperanjak.
"Akhirnya datang juga," gumam raja. Laki-laki itu segera berdiri dan menuruni undakan menghampiri Nigel. "Perlihatkan padaku kartu itu!"
Setelah berhadapan langsung dengan raja negri ini, Nigel dapat melihat ada warna hijau pada iris mata abu-abu rajanya tersebut.
Nigel memberikan kartu yang ia dapat dari Zanon pada Raja Keiren. Mata raja sangat terpukau melihat simbol yang tertera, berwarna hitam yang terkadang muncul kilatan emas. "Tidak salah lagi." Ia menatap Nigel. "Apa kau utusan dia?" tanyanya.
"Ya. Jonah yang ...."
"Bukan-bukan. Kau tahu siapa yang aku maksud," potong Raja Keiren.
Tentu Nigel tahu. "Zanon."
__ADS_1
TBC...